Deeptalk.co.id – Masalah mental merupakan masalah yang masih sangat tabu di Indonesia. Walaupun banyak individu yang sudah mulai peduli akan kesehatan mental. Namun hanya segelintir individu yang dengan sukarela ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan bantuan psikologis.
Beberapa individu masih beranggapan bahwa menemui psikolog maupun psikiater hanya buang-buang waktu, tenaga, dan materi. Apakah benar demikian? Jika tidak, sebenarnya bagaimana peran mereka dalam proses pemulihan psikologis? Artikel kali ini akan secara khusus membahas hal tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis, maupun penanganan masalah psikologis tertentu. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi bersama psikolog atau psikiater, agar mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Siapa yang Berhak Melakukan Terapi Psikologi?
Terapi psikologi atau yang juga dikenal dengan psikoterapi adalah metode penanganan masalah atau gangguan mental, yang dilakukan oleh profesional seperti psikolog atau psikiater. Terapi psikologi dilakukan melalui pendekatan non-medis, seperti konseling atau intervensi psikologis tertentu. Namun tidak jarang dalam prosesnya juga membutuhkan bantuan dari obat-obatan psikiatri untuk mendukung terapi yang dijalani.
Orang yang berhak melakukan terapi psikologi tentu harus individu yang memiliki pengetahuan dan kualifikasi dalam memberikan terapi psikologi. Dalam hal ini, orang tersebut haruslah seorang psikolog dengan izin praktek resmi, dan dalam beberapa kasus psikiater juga berperan untuk hal ini.
Psikolog adalah mereka yang sudah melalui pendidikan S2 (magister) profesi psikolog. Psikolog yang bisa melakukan terapi psikologi adalah mereka yang memiliki Surat Izin Praktik Psikologi (SIPP), dan terdaftar di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Psikolog tersebut memiliki wewenang dalam melakukan asesmen psikologi, diagnosis gangguan mental, dan melakukan terapi psikologi.
Psikiater adalah mereka yang sudah melalui pendidikan Dokter Spesialis Kejiwaan, atau yang biasa kita kenal dengan dokter jiwa. Psikiater harus memiliki SIP (Surat Izin Praktek) sebagai psikiater. Psikiater memiliki wewenang dalam melakukan terapi psikologi, dan meresepkan obat-obatan psikiatri karena mereka memiliki basic kedokteran. Sedangkan psikolog tidak memiliki wewenang dalam meresepkan obat-obatan psikiatri, karena basicnya psikologi.
Diluar psikolog dan psikiater tidak bisa melakukan terapi psikologi, termasuk lulusan S1 psikologi, dan juga lulusan S2 psikologi (non spesialis). Profesi seperti konselor, coach, mentor, atau terapis non klinis yang tidak memiliki lisensi psikolog atau psikiater, juga tidak memiliki wewenang dalam melakukan terapi psikologi.
Baca juga: Healing is Not Linear: Dinamika Proses Pemulihan dalam Psikologi Klinis
Apa Peran Terapi Psikologi dalam Healing Journey?
Bagi sebagian orang, konseling dan terapi psikologi merupakan hal sederhana yang bisa dilakukan dengan siapapun. Namun, dalam konteks profesional, konseling maupun terapi psikologi merupakan hal yang sangat kompleks.
Terapi dalam hal ini memegang peran yang sangat penting dalam proses healing journey individu. Healing journey juga bukan hanya tentang proses pemulihan dari masalah mental, namun juga membangun kembali makna hidup, dan keseimbangan emosional individu. Untuk lebih jelasnya, berikut peran terapi psikologi dalam proses healing journey:
Membangun aliansi terapeutik
Peran pertama terapi psikologi dalam proses healing journey adalah untuk membangun aliansi terapeutik. Pasalnya untuk mendukung kelancaran terapi psikologi, sangat dibutuhkan kepercayaan dan kerjasama antara terapis dan klien. Dalam hal ini, terapis perlu memberikan empati, penerimaan tanpa menghakimi, dan kerjasama untuk mencapai tujuan terapi.
Fasilitator dalam pemahaman diri
Peran kedua terapi psikologi dalam proses healing journey adalah sebagai fasilitator dalam pemahaman diri atau self awareness. Terapi akan membantu klien untuk lebih memahami pola pikir, perasaan, dan perilaku mereka. Kesadaran diri merupakan langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Cukup banyak metode dalam memahami diri, salah satu yang paling populer adalah terapi perilaku kognitif (CBT).
Pemberdayaan dan validasi pengalaman klien
Peran ketiga terapi psikologi dalam proses healing journey adalah sebagai pemberdayaan dan validasi pengalaman klien. Kamu mungkin bisa curhat ke siapa saja, namun tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memberdayakan dan memvalidasi secara baik pengalaman yang kamu miliki. Justru, pengalaman ini sering mengalami pengabaian dalam kehidupan sosial. Disisi lain, pengalaman itulah yang bisa diolah untuk menjadi kekuatan, motivasi, ketahanan, dan potensi bagi klien.
Menyediakan intervensi terapeutik yang tepat
Perlu diingat bahwa bentuk terapi psikologi itu sangat banyak dan cukup kompleks. Untuk menentukan jenis terapi apa yang bisa diterapkan pada satu individu akan memerlukan serangkaian pemeriksaan yang panjang. Terapi psikologi salah satunya berperan untuk menyediakan intervensi terapeutik yang tepat, sesuai kondisi psikologis dan kebutuhan klien.
Pendampingan dalam pemulihan fungsi sosial
Terapi psikologi tidak hanya tentang pemulihan masalah maupun gangguan mental klien. Namun juga bagaimana agar klien kembali memiliki pulih dalam fungsi sosialnya. Artinya, klien diharapkan mampu kembali bekerja, menempuh pendidikan, dan melakukan aktivitas sosial lainnya dengan baik.
Monitoring dan evaluasi proses
Banyaknya kegagalan dalam proses healing journey membuat terapi psikologi tidak hanya berhenti saat klien kembali pulih. Namun terapi psikologi juga berperan dalam memastikan apakah metode yang diberikan bisa berfungsi dengan baik, dalam hal ini dengan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap prosesnya hingga jangka waktu tertentu.
Itu dia penjelasan tentang peran terapi psikologis dalam healing journey. Jika kamu membutuhkan bantuan profesional, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Menelusuri Healing Journey: Perspektif Psikologi terhadap Proses Pemulihan Diri
Sumber:
Horvath, A. O., & Greenberg, L. S. (1989). Development and validation of the Working Alliance Inventory. Journal of Counseling Psychology, 36(2), 223–233.
Linehan, M. M. (1993). Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder. Guilford Press.
Norcross, J. C., & Wampold, B. E. (2011). Evidence-based therapy relationships: Research conclusions and clinical practices. Psychotherapy, 48(1), 98–102.
American Psychological Association. (2023). Clinical Practice Guidelines for the Psychosocial Treatment of Mental Disorders.
Wampold, B. E., & Imel, Z. E. (2015). The Great Psychotherapy Debate: The Evidence for What Makes Psychotherapy Work. Routledge.
Rogers, C. R. (1957). The necessary and sufficient conditions of therapeutic personality change. Journal of Consulting Psychology, 21(2), 95–103.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



