Semua artikel
Terapi

Mindfulness dan Move On: Menghadapi Masa Kini Tanpa Dibelenggu Masa Lalu

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Move on dari masa lalu bukan berarti melupakan masa lalu tersebut. Pasalnya, kenangan yang sangat membekas memang cenderung lebih susah dilupakan. Maka dari itu, move on lebih mengarah kepada peneriaam dengan lapang dada terhadap kejadian di masa lalu. Dengan begitu, individu yang menjalaninya tidak akan terbebani dan bisa menghadapi masa depan dengan baik.

Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang proses move on yang diimbangi dengan teknik mindfulness. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis dan penanganan terhadap masalah mental tertentu. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Apa Itu Mindfulness?

Mindfulness adalah sebuah praktek untuk menghadirkan kesadaran diri secara penuh pada kondisi atau situasi yang sedang dihadapi saat ini, dengan penerimaan tanpa adanya penghakiman. Mindfulness juga berarti melibatkan kontribusi dari berbagai indera, mulai dari penglihatan, perasa, penciuman, dan lain sebagainya.

Konsep mindfulness sendiri pada dasarnya hampir serupa dengan praktik meditasi yang banyak dilakukan oleh umat Budha. Namun dalam perspektif psikologi modern, mindfulness banyak membantu untuk mengurangi kecemasan, depresi, stress, hingga trauma.

Penerapan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari juga memberikan banyak sekali manfaat. Berikut beberapa manfaat dari penerapan mindfulness:

  • Membantu mengurangi keparahan dan intensitas kemunculan gejala depresi dan kecemasan.

  • Membantu meningkatkan regulasi emosi yang bermanfaat untuk memberikan respon terbaik terhadap kondisi yang dihadapi.

  • Meningkatkan kesadaran diri.

  • Membantu individu dalam proses penyembuhan luka emosional pasca kejadian traumatis, seperti putus cinta, kehilangan orang/objek yang disayangi, dan lain sebagainya.

Baca juga: Dari Luka Menjadi Tumbuh: Konsep Post-Traumatic Growth dalam Proses Moving On

Apa Itu Move On?

Move on dalam perspektif psikologis memiliki arti yang lebih dalam dari sekedar melupakan. Move on berarti bangkit dan menerima masa lalu, melepaskan keterikatan emosional dari masa lalu, dan berupaya untuk menjadi lebih baik. Dengan demikian, untuk move on bukan berarti kita harus melupakan masa lalu. Justru, dengan move on masa lalu itu bisa jadi pengingat untuk menjadikan diri lebih baik dari sebelumnya.

Orang-orang yang ingin move on biasanya mereka yang memiliki kenangan membekas di masa lalu. Umumnya kenangan itu cukup menyakitkan sehingga membuatnya perlu untuk bangkit. Move on juga erat kaitanya dengan putus cinta. Hal tersebut yang menjadikan istilah ini cukup familiar di kalangan anak muda.

Dalam perspektif psikologis, praktek move on sendiri akan melibatkan beberapa kondisi, diantaranya:

  • Penerimaan (acceptance), yang merupakan proses individu dalam menerima kejadian di masa lalu, tanpa berusaha melupakan kejadian tersebut tentunya.

  • Resiliensi emosional, yaitu kemampuan individu untuk bangkit dari luka emosional yang disebabkan oleh masa lalu atau mengingat masa lalu.

  • Rekonstruksi makna, yaitu kemampuan individu untuk memaknai kembali pengalaman masa lalu, bukan sebagai hal negatif, melainkan sebagai hal yang bisa membuatnya lebih baik.

  • Pengembangan identitas baru, yaitu upaya untuk menjadikan diri lebih baik dari kondisi sebelumnya.

Baca juga: Kenapa Sulit Move On? Tinjauan Psikologi Tentang Ketergantungan Emosional

Apa Peran Mindfulness dalam Proses Move On?

Praktek mindfulness memang memberikan banyak sekali manfaat bagi setiap individu yang menjalankannya. Namun siapa sangka bahwa praktik ini juga cukup membantu dalam proses move on. Berikut beberapa peran mindfulness dalam proses move on:

Menghentikan ruminasi

Ruminasi adalah perilaku dimana individu berulang kali mengingat kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan atau menyakitkan. Perilaku ruminasi ini membuat individu makin terpuruk dan susah untuk move on. Sedangkan mindfulness membantu individu untuk fokus dengan apa yang terjadi pada saat ini. Dengan demikian, perilaku ruminasi bisa terhentikan.

Meningkatkan penerimaan diri

Mindfulness juga membantu individu untuk meningkatkan penerimaan diri mereka, termasuk penerimaan terhadap setiap emosi tanpa adanya penolakan maupun penghakiman. Dengan demikian, individu bisa berbenah diri dari kejadian sebelumnya. Individu juga bisa memahami apa yang bisa membuatnya terluka, dan menerima serta belajar dari hal tersebut.

Membantu memahami kesedihan itu bersifat temporer

Penerapan mindfulness akan membantu individu merasakan apa yang dirasakan saat ini. Hal tersebut akan membantunya memahami bahwa emosi tidak selalu tentang kesedihan. Dengan demikian, praktek ini membantu individu memahami kesedihan itu bersifat temporer, bukan permanen. Dimana hal tersebut baik untuk proses move on.

Mengembangkan empati diri (self compassion)

Self compassion atau empati diri adalah praktik dimana individu bisa mengasihi dirinya sendiri. Dalam hal ini, praktek mindfulness bisa mengembangkan self compassion. Dimana self compassion itu membantu individu untuk tidak terus menerus menyalahkan diri sendiri, yang tentunya baik untuk proses mindfulness.

Baca juga: Neurosains di Balik Moving On: Apa yang Terjadi dalam Otak Saat Kita Melepaskan?

 

Sumber:

Kabat-Zinn, J. (1994). Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life. Hyperion.

Hölzel, B. K., Lazar, S. W., et al. (2011). How does mindfulness meditation work? Perspectives on Psychological Science, 6(6), 537–559.

Shapiro, S. L., Carlson, L. E., et al. (2006). The art and science of mindfulness. American Psychological Association.

Brown, K. W., & Ryan, R. M. (2003). The benefits of being present: Mindfulness and its role in psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 84(4), 822–848.

Chambers, R., Gullone, E., & Allen, N. B. (2009). Mindful emotion regulation: An integrative review. Clinical Psychology Review, 29(6), 560–572.

Tashiro, T., & Frazier, P. (2003). I'll never be in a relationship like that again: Personal growth following romantic relationship breakups. Personal Relationships, 10(1), 113–128.
Stahl, B., & Goldstein, E. (2010). A Mindfulness-Based Stress Reduction Workbook. New Harbinger Publications.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mindfulness dan Move On: Menghadapi Masa Kini Tanpa Dibelenggu Masa Lalu — DeepTalk