Deeptalk.co.id – Trauma adalah kondisi psikologis yang dialami setelah melewati kejadian tidak menyenangkan. Banyak kejadian yang bisa memicu timbulnya trauma. Trauma juga bisa dialami oleh siapa saja dan dimana saja. Tentu saja trauma merupakan perasaan yang normal. Namun, dalam kondisi tertentu trauma bisa menjadi lebih parah dan berdampak terhadap kesehatan mental. Salah satu gangguan mental yang sering berkaitan dengan trauma adalah gangguan stress pasca trauma (PTSD).
Sekolah atau lingkungan pendidikan seharusnya menjadi tempat dimana anak mendapatkan pengetahuan yang mereka butuhkan. Sayangnya, justru sekolah juga bisa menjadi tempat dimana anak merasa tidak nyaman. Dalam banyak kasus, sekolah merupakan lokasi dimana seseorang mengalami trauma. Hal tersebut banyak dialami oleh para gen z yang lahir pada rentan tahun 1997-2012.
Beberapa gen z masih dalam usia menempuh pendidikan, dan beberapa lainnya sudah mulai masuk ke dunia kerja dan lingkungan sosial yang lebih jauh. Perbedaan generasi membuat banyak kasus trauma baru yang tidak dialami oleh generasi sebelumnya. Selain itu, adanya perbedaan pola pikir juga membuat gen z perlu berupaya lebih untuk memahami kondisi mereka.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang bentuk trauma di sekolah, dan cara gen z mengatasi trauma tersebut. Namun, sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami trauma dan berdampak pada kesehatan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Bentuk Trauma di Sekolah

Pada dasarnya trauma dipicu oleh kejadian tidak menyenangkan. Tanpa disadari, di lingkungan sekolah ada banyak sekali kejadian tidak menyenangkan yang mampu memicu trauma. Berikut beberapa bentuk trauma yang bisa dialami di lingkungan sekolah:
Bullying
Kasus bullying di sekolah tentu bukan hal yang asing lagi. Bullying merupakan kasus yang paling sering memicu trauma terhadap korbannya. Bullying sendiri memiliki berbagai macam bentuk, mulai dari intimidasi, pelecehan, atau ancaman. Pelaku bullying tidak hanya sesama teman, melainkan juga bisa seorang guru.
Kekerasan fisik
Selain kasus bullying, trauma juga bisa dipicu oleh kekerasan secara fisik. Jika bullying menyerang mental dan emosi korbannya, kekerasan fisik lebih mengarah pada perilaku memukul, menendang, menjambak, dan perilaku lainnya yang bisa memicu luka fisik. Uniknya, walaupun bentuk kekerasan ini berupa fisik, nyatanya juga bisa melukai kondisi mental korbannya dan tentunya bisa memicu trauma.
Trauma akademik
Bullying dan kekerasan fisik mungkin dengan nyata bisa kita pahami mampu memicu trauma. Namun tahukah kamu bahwa proses belajar juga bisa memicu trauma yang dikenal dengan istilah trauma akademik. Bentuk trauma yang satu ini dipicu oleh pengalaman stress, cemas, dan tertekan secara berlebih saat menempuh proses belajar.
Pengabaian
Bentuk trauma di lingkungan sekolah lainnya bisa berupa pengabaian dari guru atau teman sekolah. Rupanya, tidak hanya pengabaian orang tua yang bisa memicu trauma kepada anak. Hal serupa juga berlaku untuk guru dan teman sekolah. Perasaan diabaikan atau tidak dihargai oleh guru maupun teman sekolah ini yang mampu memicu rasa trauma.
Baca juga: Trauma pada Gen Z: Bagaimana Orang Tua Dapat Membantu?
Cara Bijak Gen Z Menyikapi Trauma di Sekolah

Sebagai seorang gen z yang melek akan teknologi dan informasi terbaru. Sudah sepantasnya untuk mereka memahami bagaimana cara yang bijak dalam menyikapi trauma di sekolah. Terlebih lagi mengingat gen z merupakan generasi yang peduli akan kesehatan mental. Berikut beberapa cara bijak yang bisa gen z lakukan untuk menyikapi trauma di sekolah:
Mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman terdekat
Umumnya gen z merupakan generasi yang cukup terbuka akan apa yang mereka alami dan rasakan. Maka dari itu, mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman terdekat tentu bukan hal yang sulit. Selain itu, memiliki tempat bercerita juga bisa membuat diri merasa lebih nyaman dan terbebas dari pikiran-pikiran negatif yang bisa memperparah trauma.
Manfaatkan media sosial untuk mendapatkan dukungan
Gen z adalah generasi yang memiliki ikatan kuat dengan media sosial. Alih-alih menyalahgunakan media sosial, lebih baik untuk digunakan dengan lebih bijak. Misalnya dengan mencari dukungan melalui media sosial. Namun yang perlu digaris bawahi bawah, cara ini perlu memiliki batasan agar tidak berlebihan.
Mendapatkan bantuan dari profesional
Generasi sebelumnya umumnya akan merasa malu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater terkait kondisi mentalnya. Namun, hal serupa tidak terjadi pada gen z. Kepedulian mereka akan kesehatan mental membuatnya sadar bahwa konsultasi dengan psikolog atau psikiater tidak harus menunggu adanya gangguan mental dulu.
Jika kamu bingung hendak berkonsultasi kemana terkait kesehatan mental. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id. Disana kamu bisa menjumpai para profesional di bidang kesehatan mental. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Bagaimana Bentuk Trauma di Era Digital yang Bisa Dialami Gen Z?
Sumber:
UNICEF. (2020). Bullying di Sekolah: Pengalaman Anak-Anak di Indonesia.
World Health Organization. (2019). Violence Against Children in Schools.
American Psychological Association. (2020). Trauma and Stress.
National Alliance on Mental Illness. (2020). Trauma and Mental Health.
Human Rights Watch. (2020). Discrimination Against LGBTQ Students in US Schools.
Child Trends. (2020). The Effects of Teacher-Student Relationships on Student Outcomes.
Centers for Disease Control and Prevention. (2020). Sexual Violence Prevention.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



