Semua artikel
Gangguan Kecemasan

Trauma pada Gen Z: Bagaimana Orang Tua Dapat Membantu?

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Setiap orang tua memiliki tantangan dalam mendidik anak mereka. Ditambah lagi dengan perbedaan generasi yang ada. Orang tua harus paham bahwa metode parenting yang didapatkan dulu tidak bisa diterapkan untuk anak mereka. Kondisi zaman dan perkembangan teknologi membuat orang tua perlu belajar ekstra dalam mendidik anak di era modern ini.

Gen z adalah generasi yang lahir pada tahun 1997-2012. Beberapa diantara mereka memang sudah dewasa dan membangun keluarga sendiri. Namun, tidak sedikit gen z yang masih membutuhkan kontribusi orang tua dalam hidup mereka. Termasuk dalam mendidik, dan membantu segala permasalahan yang dihadapi.

Salah satu masalah terbesar para gen z adalah kondisi mental yang tidak stabil. Banyak sekali situasi-situasi yang tidak dialami generasi sebelumnya, dan menjadi beban bagi para gen z. Misalnya kasus cyberbullying, ancaman di media sosial, penyebaran informasi palsu melalui internet, dan masih banyak lagi. Situasi semacam itu bisa mengganggu stabilitas mental para gen z. Bahkan tidak jarang situasi tersebut justru memicu kondisi psikologis yang dikenal dengan istilah trauma.

Trauma bukan gangguan mental. Kondisi trauma sangat normal dan bisa dialami oleh siapa saja. Namun dalam situasi tertentu, trauma bisa berkembang menjadi gangguan mental. Misalnya menjadi depresi, gangguan kecemasan, dan yang paling umum gangguan stress pasca trauma (PTSD).

Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengatasi trauma pada gen z. Kontribusi yang tepat akan membantu rasa trauma anak tidak berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius. Lantas, bagaimana orang tua bisa membantu anak dalam kasus trauma? Artikel kali ini akan secara khusus membahas hal tersebut.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami trauma yang berdampak pada masalah kesehatan mental. Segera lakukan pemeriksaan dan konsultasi lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Kontribusi Orang Tua Dalam Menghadapi Anak yang Mengalami Trauma

Solidarity concept illustration

Setiap orang tua berperan penting dalam menjaga dan melindungi anak-anak mereka. Sayangnya, anak tidak selalu bisa berada dalam pengawasan kita. Terlebih lagi di era digital yang membuat jangkauan anak jadi lebih luas. Maka dari itu, ada kalanya anak mengalami gangguan yang memicu terjadinya trauma. Adapun kontribusi orang tua dalam mengatasi trauma pada anak, yaitu:

Menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak

Kontribusi orang tua dalam mengatasi trauma pada anak yang pertama adalah dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung. Orang tua bisa menjadi wadah bagi anak menceritakan segala permasalahan, dan berbagi perasaan dengan anak. Dengan begitu, anak memiliki tempat untuk bercerita dan mencurahkan segala emosi yang memicu trauma.

Selain bisa membuat anak merasa nyaman dan memiliki tempat bercerita, orang tua juga bisa lebih memahami perasaan anak. Jika terjadi hal yang tidak menyenangkan, orang tua akan menjadi orang pertama yang mengetahui hal tersebut. Dengan begitu, penanganan bisa dilakukan sesegera mungkin tanpa menunggu kondisi trauma anak menjadi lebih parah.

Baca juga: Bagaimana Bentuk Trauma di Era Digital yang Bisa Dialami Gen Z?

Membantu mengembangkan kemampuan komunikasi anak

Kontribusi orang tua dalam mengatasi trauma pada anak yang kedua adalah dengan membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasinya. Pada dasarnya orang tua menjadi media pertama untuk mendapatkan pembelajaran. Salah satunya pembelajaran mengenai cara berkomunikasi yang baik. Hal tersebut bisa dilatih dengan banyak-banyak berbagi pengalaman dengan anak.

Saat orang tua dan anak banyak bercerita tentang keseharian mereka, maka anak tidak akan segan untuk menyampaikan hal-hal yang mengganjal atau membuatnya merasa tidak nyaman. Dengan begitu, kondisi trauma pada anak bisa dideteksi sejak dini.

Membantu anak membangun keterampilan menghadapi masalah

Kontribusi orang tua dalam mengatasi trauma pada anak yang ketiga adalah dengan membantu anak membangun keterampilan menghadapi masalah. Cara yang ketiga ini bisa dilakukan dengan rajin-rajin bertukar pikiran dengan anak, atau bermain role play.

Perlu diingat bahwa trauma adalah hal normal dan belum masuk kategori gangguan mental. Jika anak memiliki keterampilan yang baik dalam menghadapi masalah, maka kejadian traumatis tidak akan berujung pada masalah kesehatan mental.

Mencari bantuan profesional

Kontribusi orang tua dalam mengatasi trauma pada anak yang keempat adalah dengan membantu anak mendapatkan bantuan profesional. Orang tua tidak perlu ragu untuk membawa anak berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Tidak semua kondisi bisa diatasi secara mandiri, terutama jika kondisi trauma sudah mempengaruhi kondisi mental anak.

Jika orang tua bingung hendak berkonsultasi kemana, silahkan kunjungi web deeptalk.co.id. Pada web tersebut orang tua bisa menjumpai psikolog atau para ahli di bidang kesehatan mental. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Mengenal Self-Care: Cara Gen Z Meningkatkan Kesehatan Mental

 

Sumber:

Saputro, I. (2024). Break the Cycle: Pentingnya Memutus Trauma Lintas Generasi dalam Keluarga. Klik Dokter. https://www.klikdokter.com/psikologi/psikologi-keluarga/pentingnya-memutus-trauma-lintas-generasi. Diakses pada 11 Februari 2025.

Kinasih, I. S., & Barus, G. (2024). Kontribusi Pola Asuh Orang Tua Demokratis terhadap Perilaku Sosial Anak Generasi Z. Jurnal Kajian dan Penelitian Umum, 2(4), 110-123.

Yarni, S. S., & Komalasari, S. (2024). Dampak Trauma pada Gen Z dalam Aspek Kesejahteraan Psikis dan Psikologis Korban Perselingkuhan. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 11(3), 1356-1365.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Trauma pada Gen Z: Bagaimana Orang Tua Dapat Membantu? — DeepTalk