Deeptalk.co.id – Tumbuh di era perkembangan teknologi bukan hal yang mudah bagi para gen z. Mamang benar bahwa banyak sekali kemudahan yang didapatkan dengan teknologi yang sudah berkembang. Namun, yang tidak disadari bahwa banyak juga tantang yang muncul akibat perkembangan teknologi ini. Tantangan tersebutlah yang membuat beberapa orang mengalami masalah kesehatan mental.
Salah satu masalah kesehatan mental yang bisa dipicu oleh perkembangan teknologi adalah trauma. Benar bahwa trauma sudah ada sejak dulu, bahkan jauh sebelum perkembangan teknologi. Namun, perkembangan teknologi justru memicu munculnya jenis-jenis trauma baru. Artikel ini akan secara khusus membahas bentuk trauma di era digital yang bisa dialami gen z.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Bentuk Trauma di Era Digital yang Bisa Dialami Gen Z

Trauma adalah kondisi psikologis yang timbul sebagai respon tubuh setelah melalui pengalaman buruk atau tidak menyenangkan. Pada dasarnya, trauma merupakan kondisi umum yang normal dialami oleh siapa saja. Namun, trauma yang terlalu dalam dan tidak mendapatkan penanganan bisa menjadi kondisi yang lebih serius dan menimbulkan efek berkepanjangan. Dalam beberapa kondisi, trauma berkembang menjadi berbagai jenis gangguan mental, seperti depresi, gangguan stress pasca trauma, gangguan kecemasan, dan lain sebagainya.
Kejadian tidak menyenangkan yang memicu timbulnya trauma saat ini menjadi lebih beragam lagi. Berikut beberapa bentuk trauma di era digital yang bisa dialami oleh gen z:
Cyberbullying
Jika sebelumnya bullying atau perundungan dilakukan secara langsung. Era digital memungkinkan hal tersebut terjadi di internet, atau yang kita kenal dengan istilah cyberbullying. Kasus cyberbullying cukup marak diperbincangkan. Buka hanya karena merupakan hal baru, namun juga karena banyak kasus terkait cyberbullying di internet. Bahkan, tidak sedikit kasus cyberbullying yang berujung dengan percobaan bunuh diri.
Gen z yang sangat familiar dengan internet dan segala teknologi di dalamnya menjadi generasi yang sangat beresiko mengalami cyberbullying. Ditambah lagi gen z menghabiskan banyak sekali waktu mereka untuk berseluncar di media sosial. Bentuk cyberbullying dalam hal ini juga cukup beragam, mulai dari intimidasi, pelecehan, hingga ancaman secara online.
Baca juga: Mengenal Self-Care: Cara Gen Z Meningkatkan Kesehatan Mental
Kekerasan online
Selain perundungan yang kini bisa dilakukan secara online, era digital juga memungkinkan terjadinya kekerasan secara online. Sama halnya dengan kasus cyberbullying, kekerasan secara online juga sangat beresiko membuat penderita mengalami trauma. Dalam hal ini, gen z yang memiliki kelekatan dengan dunia maya menjadi sasaran empuk untuk para pelaku kekerasan online.
Bentuk kekerasan online ini juga sangat beragam, misalnya melihat atau menjadi korban kekerasan yang disebarkan secara online. Termasuk konten pelecehan seksual, kekerasan fisik, dan juga kekerasan emosional yang disiarkan. Umumnya kekerasan online ini tidak menyerang secara fisik, melainkan secara mental dan emosional korbannya. Dimana hal tersebut bisa memicu trauma.
Pengalaman online yang menakutkan
Berseluncur di dunia maya memang menjadi hiburan tersendiri bagi sebagian besar gen z. Namun perlu diingat bahwa tidak semua hal di media online itu menyenangkan. Ada kondisi dimana pengalaman online justru menjadi menakutkan, dan tentunya bisa memicu trauma. Pengalaman online yang menakutkan ini bisa berupa mendapat ancaman secara online, mengalami peretasan akun, atau tersebarnya informasi pribadi di media sosial.
Media online adalah media yang sangat luas. Informasi yang tersebar di media online hampir mustahil untuk dilenyapkan. Maka dari itu, menjadi bijak merupakan hal yang penting dalam memanfaatkan teknologi yang satu ini. Terutama untuk para gen z yang memiliki ikatan dengan media online.
Pengalaman trauma yang diungkapkan secara online
Mengungkap perasaan trauma memang akan membuat sebagian orang merasa lebih lega. Terutama jika mereka mengungkapkannya dengan orang yang tepat. Selain bisa mencurahkan emosi negatif, orang yang tepat juga bisa membantu membuat perasaan menjadi lebih tenang. Namun, respon bertolak belakang bisa terjadi jika kamu mengungkap pengalaman trauma di media online.
Pengalaman trauma yang diungkapkan secara online bisa memicu berbagai jenis respon dari pengguna internet lain. Seperti yang kita ketahui, pengguna internet cukup beragam. Maka dari itu, respon mereka juga tidak bisa ditebak. Alih-alih mendapat dukungan, tidak jarang respon pengguna internet lain justru membuat diri menjadi lebih terpuruk, dan menimbulkan trauma baru. Untuk itu, penting bagi kita mengelola trauma dengan tepat, dan disampaikan dengan orang yang tepat pula.
Jika kamu mengalami trauma dan tidak memiliki tempat atau cara yang tepat untuk mengelolanya. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk berjumpa dengan para profesional di bidang kesehatan mental. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: People Pleasing pada Gen Z: Pengaruh Media Sosial dan Cara Menghindarinya
Sumber:
Ardian, J. (2024). Apa itu Trauma? Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya. Siloam Hospitals. https://www.siloamhospitals.com/en/informasi-siloam/artikel/apa-itu-trauma. Diakses pada 11 Februari 2024.
National Center for Victims of Crime. (2020). Online Harassment.
National Alliance on Mental Illness. (2020). Trauma and Mental Health.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



