Deeptalk.co.id – Beberapa survei dan penelitian telah menunjukkan tingginya tingkat kecemasan pada pekerja di tempat kerjanya. Ini juga menandakan bahwa kesadaran akan kesehatan mental di tempat kerja masih minim. Sehingga banyak pekerja pun juga mengalami burnout, tekanan hingga stres.
Dilansir dari Psychcentral, terdapat sebuah survei yang mengatakan bahwa hampir 40% karyawan ingin perusahaannya membahas kesehatan mental di tempat kerja. Angka ini diikuti dengan 75% karyawan lainnya yang nyaman mendiskusikan kesehatan mental dengan rekan kerjanya.
Namun, hanya 1 dari 5 orang yang mengatakan bahwa mereka boleh membicarakan masalah kesehatan mentalnya dengan bagian HRD. Padahal, survei dari JobSage menemukan bahwa 96% responden mendapatkan pengalaman positif setelah berbicara dengan manajer tentang kesehatan mental mereka.
Sedangkan survei yang dilakukan di Kanada pada tahun 2021 menunjukkan bahwa para pemimpin menganggap diri mereka telah mendukung kesehatan mental karyawannya. Akan tetapi hasil dari 1.600 responden dari karyawan mengatakan bahwa para pimpinan harusnya dapat bekerja lebih baik lagi terkait kesadaran akan kesehatan mental karyawannya.
Berdasarkan hasil temuan tersebut, menandakan bahwa kesehatan mental untuk para pekerja menjadi hal yang penting. Para atasan pun harusnya lebih berbenah diri untuk lebih mendukung karyawannya demi kesejahteraan bersama. Mengingat apabila para pekerja memiliki kondisi kesehatan mental yang buruk, juga akan berakibat pada produktivitas dan kinerja yang kemudian berdampak pada hasil yang diterima perusahaan atau organisasi.
Baca juga: Bagaimana Cara Mengetahui Coping Mechanism Kita?

Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Mental di Tempat Kerja
Setelah melihat dampak dari minimnya kesadaran akan kesehatan mental bagi para pekerja di tempat kerja, kini waktunya bagi para pemimpin untuk mengatasinya. Lalu bagaimana langkah yang tepat dalam menciptakan lingkungan dimana para pekerja bisa lebih sejahtera?
Berdasarkan pengalaman dan hasil analisis survei yang dilakukan oleh McKinsey, terdapat tiga pertanyaan penting untuk dijawab para pemimpin. Diantaranya yakni bagaimana organisasi mengatasi perilaku tempat kerja yang beracun? Lalu bagaimana pemimpin menyediakan sumber daya yang tepat untuk melayani kebutuhan karyawannya? Dan terakhir, bagaimana para pemimpin meningkatkan pengukuran dan kemampuan mendengarkan anggota/pekerja di organisasi?
1. Mengatasi Perilaku Toxic di Tempat Kerja Secara Efektif
Para pemimpin umumnya mengakui tingginya tingkat perilaku toxic di tempat kerja yang dilaporkan. Walaupun juga banyak yang ingin percaya bahwa masalah tersebut terjadi di tempat lain. Mengingat betapa parahnya perilaku ini dapat memengaruhi kesehatan mental, penting bagi semua pemimpin untuk melihat kembali organisasi mereka, dan mengakui apa yang dialami karyawan mereka.
Perilaku toxic di lingkungan kerja bisa diatasi dengan menetapkan standar yang jelas dan tegas akan apa yang dapat diterima dan apa yang tidak. Seperti kebijakan anti-intimidasi, atau dengan memberikan umpan baik langsung melalui contoh-contoh spesifik yang mengindikasikan bukan perilaku toxic.
Ini bisa dimulai dari para pemimpin untuk kemudian bisa diikuti para karyawan. Apabila perlu, para pimpinan bisa memberikan tindakan disipliner bagi pelaku yang kerap melakukan perilaku toxic di lingkungan kerja.
Apa yang terlihat dalam praktiknya adalah: menetapkan standar yang jelas dan tegas tentang apa yang dapat diterima dan apa yang tidak. Ini melampaui memiliki kebijakan anti-intimidasi (walaupun memiliki kebijakan seperti itu penting). Ini bisa berupa, misalnya, memberikan umpan balik langsung dengan contoh-contoh spesifik kepada para pemimpin yang menunjukkan perilaku beracun dan mengambil tindakan disipliner jika diperlukan.
Strategi lain untuk mengurangi perilaku beracun di tempat kerja adalah menumbuhkan lingkungan kerja yang mendukung dan aman secara psikologis, karena perilaku beracun cenderung tidak menyebar ke seluruh organisasi.
2. Penyediaan Sumber Daya Untuk Melayani Kebutuhan Karyawan
Kondisi pada saat pandemi menyoroti beberapa masalah penting bagi para pekerja. Termasuk kesalahan mengenai penyamarataan akan kondisi kesehatan mental karyawan hingga implikasi batasan kerja dari rumah yang rusak.
Kenyataannya, karyawan menghadapi berbagai tantangan, yang mana membutuhkan dukungan individual dari atasan mereka. Misal kebutuhan orang tua dengan anak-anak di rumah berbeda dengan kebutuhan karyawan yang hanya tinggal sendiri.
Oleh karena itu penting untuk terus memprioritaskan tingkat dukungan dasar dari para pemimpin untuk karyawannya. Seperti dengan menawarkan program bantuan kepada karyawan dan pemberlakuan kebijakan perilaku di tempat kerja.
Ada juga cara sederhana namun efektif untuk melakukan ini. Yakni dengan bertanya kepada karyawan secara empatik sebagai bentuk dukungan yang akan membantu. Hal ini bisa menjadi salah satu keterampilan yang sulit, tetapi bisa diajarkan.
Bagi pemberi kerja di seluruh wilayah, mendengarkan membutuhkan pemahaman tentang komitmen dan kebutuhan karyawan yang berbeda, sebagaimana dipengaruhi oleh faktor budaya dan tingkat negara. Ini dapat membantu mendorong inklusivitas tempat kerja yang penting.
Pemimpin juga harus memeriksa dukungan dasar mereka. Dengan bekerja sambil memastikan bahwa mereka memberikan bantuan yang tepat. Ditandai dengan karyawan yang menyadarinya dan karyawan menerima dukungan tersebut sehingga kualitasnya menjadi sangat baik.
Model dukungan paling efektif jika sesuai dengan budaya dan tidak memaparkan karyawan pada stigma tambahan. Misalnya, pekerja dapat diberikan bantuan psikologis dalam suasana pribadi, yang berarti mereka tidak perlu mengungkapkan bahwa mereka mencari dukungan tersebut kecuali merasa nyaman melakukannya.
3. Peningkatan Pengukuran dan Kapabilitas Organisasi Dalam Mendengarkan
Penelitian menunjukkan bahwa banyak pemimpin tidak dapat mengutip metrik atau data yang kuat seputar inisiatif kesehatan mental karyawan. Pokok pengukuran SDM seringkali tidak cukup spesifik atau tepat waktu. Mereka bahkan mungkin mengaburkan apa yang sebenarnya mendorong hasil kerja yang buruk.
Terbukti dengan pengukuran yang ada pada beberapa wilayah terhadap kondisi para pekerjanya yang hanya diperbarui setahun sekali. Tidak mengherankan jika sulit untuk menemukan wawasan yang terperinci atau dapat ditindaklanjuti.
Ada lebih banyak cara yang bisa dilakukan. Seperti dengan melakukan beberapa langkah-langkah dengan survei rutin, input terintegrasi (seperti ulasan kinerja dan penelitian khusus negara), dan umpan balik lainnya (misalnya Glassdoor, situs web tempat karyawan meninjau perusahaan secara anonim). Dengan pendekatan pengukuran yang berbeda, organisasi dapat memperoleh gambaran kesejahteraan karyawan hampir secara real-time. Meliputi seluruh wilayah geografis, fungsi, dan tim tertentu, dengan perincian yang menunjukkan hotspot dan memungkinkan tindakan segera yang ditargetkan—termasuk komunikasi pemimpin.
Pengukuran dan peningkatan model operasi berjalan beriringan. Secara praktis, ini dapat diselesaikan dengan menominasikan seorang pemimpin untuk memeriksa elemen inti dari model operasi, dan melakukan penilaian singkat apakah organisasi tersebut mendukung atau berdampak negatif terhadap kesehatan mental karyawan.
Baca juga: Menyembuhkan Luka Trauma dengan Self Healing
Sumber:
Rice, A. (2022, May 13). Why “Job Burnout” Is Affecting U.S. Workers, According to the Latest Research. Psych Central. https://psychcentral.com/news/job-burnout-workplace-mental-health#Getting-support-from-leaders-and-HR
Carmichael, A., Coe, E. H., & Dewhurst, M. (2022, August 18). Employee mental health and burnout in Asia: A time to act. McKinsey & Company. https://www.mckinsey.com/featured-insights/future-of-asia/employee-mental-health-and-burnout-in-asia-a-time-to-act
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



