Deeptalk.co.id – Proses rekrutmen karyawan tentu harus berlangsung dengan adil. Kandidat terpilih seharusnya adalah orang-orang dengan kualifikasi yang sesuai. Tentunya tidak didasari oleh penilaian subjektif. Namun, bagaimana jadinya jika proses rekrutmen dilakukan oleh individu dengan kecenderungan confirmation bias? Hal tersebut tentu akan merusak integritas seorang rekruter.
Lantas, apa itu confirmation bias dan bagaimana bisa kondisi tersebut mempengaruhi proses rekrutmen karyawan? Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang confirmation bias dalam proses rekrutmen.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Confirmation Bias

Confirmation bias merupakan bias kognitif dimana individu memiliki kecenderungan dalam menafsirkan, mencari, mengingat, atau memberi bobot lebih terhadap asumsi awal atau informasi yang diyakininya, namun di sisi lain mengabaikan informasi yang bertentangan dengan keyakinan atau asumsi awalnya tersebut.
Dalam kontek psikologi, confirmation bias bisa mempengaruhi cara seseorang dalam mengambil keputusan, termasuk keputusan dalam konteks profesional seperti proses rekrutmen karyawan. Jika confirmation bias dialami oleh seorang recruiter, bisa saja penilaian menjadi bias dan tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Bisa juga orang yang benar-benar kompeten justru tidak memiliki kesempatan untuk menduduki posisi tertentu dalam perusahaan. Padahal seperti yang kita ketahui, orang yang kompeten sangat mungkin berkontribusi dalam perkembangan perusahaan.
Baca juga: Efek Confirmation Bias dalam Dunia Psikologis: Ketika Diagnosis Terpengaruh oleh Keyakinan Awal
Confirmation Bias dalam Proses Rekrutmen

Kabar buruknya, confirmation bias justru cukup sering terjadi di dunia rekrutmen. Confirmation bias bisa terjadi karena recruiter terlalu yakin atau terkesan dengan salah satu kandidat, bisa dilihat dari CV-nya, atau kesan awal yang terlalu baik. Confirmation bias yang dialami oleh recruiter bisa membuatnya melakukan beberapa hal berikut:
Mencari informasi yang mendukung kesan awal
Hal pertama yang bisa dilakukan recruiter adalah melakukan pencarian informasi yang bisa mendukung kesan awalnya. Misalnya jika recruiter merasa kandidat A pintar karena lulusan universitas ternama. Recruiter akan lebih fokus akan jawaban yang mendukung kesan tersebut.
Mengabaikan informasi yang bertentangan
Hal kedua yang bisa dilakukan recruiter adalah mengabaikan semua informasi yang bertentangan dengan kesan awal yang dimiliki. Misalnya jika kandidat A yang dianggap pinter tadi tidak mampu menjawab pertanyaan kompleks. Maka recruiter akan menganggap itu wajar dan masih bisa dipelajari dikemudian hari.
Mengajukan pertanyaan yang tidak netral
Hal ketiga yang bisa dilakukan recruiter adalah dengan mengajukan pertanyaan yang tidak netral. Misalnya jika recruiter menganggap kandidat A lebih kompeten dari kandidat B, maka recruiter akan mengajukan pertanyaan yang lebih sulit ke kandidat B.
Membandingkan kandidat secara tidak adil
Hal keempat yang bisa dilakukan recruiter adalah membandingkan kandidat dengan cara yang tidak adil, Misalnya jika recruiter yang dari awal sudah terkesan dengan kandidat A akan lebih fokus dengan kelebihannya dan mengabaikan kekurangannya. Sedangkan kandidat B yang dari awal tidak membuatnya terkesan akan diabaikan kelebihannya, dan diperhatikan kekurangannya.
Baca juga: Confirmation Bias di Ruang Kelas: Tantangan bagi Guru dan Murid dalam Belajar Kritis
Dampak Confirmation Bias dalam Proses Rekrutmen

Kontribusi confirmation bias dalam proses rekrutmen bisa memicu berbagai dampak, diantaranya:
Pengambilan keputusan yang tidak objektif
Kandidat terpilih bisa jadi bukanlah kandidat yang terbaik berdasarkan kompetensi yang dimiliki. Melainkan kandidat terbaik di mata recruiter tanpa mempertimbangkan kekurangan kandidat tersebut, atau kelebihan kandidat lain.
Minimnya keberagaman
Jika recruiter selalu mencari kandidat yang sama setiap proses rekrutmen. Maka keberagaman karyawan di perusahaan tersebut akan cukup minim. Misalnya keberagaman dari segi latar pendidikan, kepribadian, dan lain sebagainya. Hal ini bisa membuat perusahaan kekurangan potensi inovasi.
Resiko kesalahan dalam menilai potensi
Confirmation bias dalam proses rekrutmen juga bisa meningkatkan resiko kesalahan dalam menilai potensi. Pasalnya, recruiter sudah terlalu percaya akan kemampuan kandidat yang dikaguminya di awal sehingga tidak mengecek kembali kebenarannya, dan pada akhirnya ekspektasi tidak sesuai dengan realita di lapangan.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai confirmation bias dalam proses rekrutmen. Dapat disimpulkan bahwa confirmation bias bisa memberikan dampak negatif dalam proses rekrutmen. Maka dari itu, sebisa mungkin seorang recruiter bisa lebih bijak dalam menilai kandidat. Bisa juga dengan melakukan blind recruitment atau penilaian berbasis data. Langkah tersebut bisa memperkecil kemungkinan confirmation bias dalam proses rekrutmen.
Jika perusahaan atau recruiter mengalami kesulitan dalam mengatasi kebiasaan confirmation bias, bisa kunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Confirmation Bias: Musuh dalam Pikiran yang Mengaburkan Kebenaran
Sumber:
Nickerson, R. S. (1998). Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.2.175
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.
Bohnet, I. (2016). What Works: Gender Equality by Design. Harvard University Press.
Schmidt, F. L., & Hunter, J. E. (1998). The Validity and Utility of Selection Methods in Personnel Psychology: Practical and Theoretical Implications of 85 Years of Research Findings. Psychological Bulletin, 124(2), 262–274.
Rivera, L. A. (2012). Hiring as Cultural Matching: The Case of Elite Professional Service Firms. American Sociological Review, 77(6), 999–1022.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



