Deeptalk.co.id – Hidup di era modern memang membuat gen z banyak terbantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Meski demikian, tentu ada saja tantangan yang membuat mereka merasa tertekan. Gen z sendiri adalah generasi yang lahir pada rentan tahun 1997-2012. Artinya, mereka tumbuh seiringan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat.
Teknologi, sosial media, dan internet memang banyak membantu pekerjaan para gen z. Termasuk membantu menyebarkan informasi dengan sangat pesat. Namun perkembangan teknologi ini menghadirkan tantangan baru yang tidak dirasakan oleh generasi sebelumnya. Sebagai contoh, banyak pekerjaan yang sudah diambil alih oleh robot dan teknolog yang ada. Dengan demikian, gen z memerlukan kemampuan yang lebih lagi untuk bisa bertahan di era teknologi ini.
Tekanan hidup yang dirasakan oleh gen z tidak jarang menggoncang kesehatan mental mereka. Namun, gen z juga dikenal sebagai generasi yang peduli akan kesehatan mental. Bagi mereka, kesehatan mental dan fisik sama pentingnya untuk dirawat. Salah satu upaya untuk merawat kesehatan mental yang cukup sering dilakukan gen z adalah dengan menerapkan self compassion. Lantas, seperti apa itu self compassion, dan bagaimana self compassion dapat membantu gen z? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Self Compassion

Self compassion adalah istilah untuk menggambarkan sebuah sikap berbaik hati terhadap diri sendiri, khususnya saat menghadapi kegagalan, kesalahan, atau tantangan dalam hidup. Konsep self compassion pada dasarnya berasal dari akar filosofis dan spiritual Buddhisme, filsafat Yunani, dan psikologi humanistik. Namun terlepas dari itu, konsep self compassion sendiri mendapat perhatian ilmiah di tahun 2000-an, oleh seorang Psikolog dari University of Texas, yaitu Kristin Neff.
Kristin Neff membagi self compassion kedalam tiga elemen utama, yaitu:
· Self kindness, yaitu sikap lembut terhadap diri sendiri, tidak keras terhadap diri sendiri, dan tidak menghakimi diri sendiri.
· Common humanity, yaitu menyadari bahwa setiap manusia akan melalui masa-masa sulit atau kegagalan, sehingga kita tidak perlu merasa terlalu menderita akibat apa yang sedang dihadapi.
· Mindfulness, yaitu menerima segala bentuk emosi negatif secara sadar, tanpa adanya penolakan akan hal tersebut.
Gen z yang merupakan generasi yang melalui tekanan sosial yang cukup hebat. Pasalnya, mereka tumbuh beriringan dengan perkembangan pesat teknologi, sehingga ekspektasi terhadap karir cenderung lebih meningkat dari generasi sebelumnya. Tekanan tersebut sangat mungkin membuat gen z mengalami guncangan emosional, stress, kecemasan berlebih, depresi, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya.
Hadirnya konsep self compassion ini tentu bisa membantu para gen z untuk melalui tekanan-demi tekanan yang mereka alami. Pasalnya, dengan penerapan self compassion ini gen z bisa mengurangi kecemasan dan stress berlebih, meningkatkan kesehatan mental, mengembangkan resilience agar tidak selalu menyalahkan diri sendiri, hingga mengurangi dampak negatif dari penggunaan sosial media.
Cara Meningkatkan Self Compassion

Berdasarkan penjelasan diatas, kita jadi tahu betapa penting self compassion untuk menjaga kondisi mental kita. Lantas, bagaimana cara agar kita bisa menerapkan atau meningkatkan self compassion ini? Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:
Berbicara positif kepada diri sendiri
Hal pertama yang bisa mulai kita terapkan adalah dengan memberikan afirmasi positif terhadap diri sendiri. Hindari kalimat atau kata-kata negatif, kasar, atau meremehkan diri sendiri. Dengan begitu, kita bisa lebih menghargai diri sendiri. Terlepas dari situasi yang sedang kita hadapi.
Menerima kegagalan
Perlu diingat bahwa setiap orang pasti melewati kegagalan dalam hidupnya. Maka dari itu, belajarlah untuk menerima kegagalan. Anggap kegagalan itu merupakan proses belajar untuk menjadi lebih baik kedepannya. Dengan begitu, kita bisa menjadikan kegagalan sebagai bahan intropeksi diri, dan melihat kegagalan sebagai hal yang positif.
Latihan mindfulness
Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan latihan mindfulness, yaitu fokus terhadap momen saat ini tanpa adanya penolakan. Latihan mindfulness ini juga berarti menerima segala hal yang sedang kita hadapi pada saat ini.
Kurangi perbandingan sosial
Cara yang tidak kalah penting adalah mengurangi perbandingan sosial. Termasuk membandingkan diri dengan orang-orang yang ada di sosial media. Pasalnya, hal tersebut bisa membuat kita tidak menghargai apa yang kita miliki, dan proses yang sedang kita lalui.
Menerapkan self care
Kamu juga bisa mulai menerapkan self care, seperti olahraga secara rutin, mengkonsumsi makanan bergizi, atau memenuhi jam istirahat yang cukup. Kamu juga bisa melakukan hal-hal yang kamu senangi.
Itu dia beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk meningkatkan self compassion. Jika kamu mengalami kesulitan, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog berpengalaman disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Dibalik Prestasi Gemilang: Dampak Overachievement terhadap Kesehatan Mental Gen Z
Sumber:
Neff, K. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85-101.
Bluth, K., & Eisenlohr-Moul, T. A. (2017). Compassion-based interventions: The impact of self-compassion on mental health of adolescents and young adults. Mindfulness, 8, 1126-1135.
Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today's Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy—and Completely Unprepared for Adulthood. Atria Books.
Barnard, L. K., & Curry, J. F. (2011). Self-compassion: Conceptualizations, correlates, & interventions. Review of General Psychology, 15(4), 289-303.
Gilbert, P. (2009). The Compassionate Mind: A New Approach to Life's Challenges. New Harbinger Publications.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



