Deeptalk.co.id – Move on mungkin hal yang mudah untuk beberapa orang. Namun, tidak semua orang menganggap itu mudah. Nyatanya, banyak orang yang terjebak dengan masa lalu, dan pada akhirnya sulit untuk move on. Dari kasus tersebut tentu timbul pertanyaan, kenapa seseorang sulit untuk move on? Apakah hal tersebut bisa dijelaskan dalam perspektif psikologis? Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang topik tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika Anda atau orang terdekat mengalami masalah kesehatan mental. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater, untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Dalam perspektif psikologis, move on merupakan proses pemulihan emosional dan penyesuaian kognitif individu setelah melalui pengalaman baik maupun buruk yang cukup membekas. Walaupun saat ini move on seringkali berhubungan dengan hubungan asmara. Namun, move on yang sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih luas.
Banyak hal yang mempengaruhi proses move on individu. Pasalnya dalam prosesnya, move on melibatkan emosi, identitas, kelekatan, serta pola pikir yang cukup kompleks. Move on bukan tentang melupakan, melainkan tentang bagaimana individu bisa menerima kisah masa lalu dengan lapang dada. Terlepas dari itu semua secara garis besar, dalam perspektif psikologis move on dapat dipersulit oleh keterikatan emosional yang dalam, rasa kehilangan identitas, kecenderungan ruminasi, pengaruh neuropsikologi, serta minimnya self compassion dan dukungan sosial.
Keterikatan Emosional yang Dalam
Alasan seseorang sulit move on dalam perspektif psikologis yang pertama adalah karena adanya keterikatan emosional yang dalam. Ikatan emosional tidak hanya individu terhadap pasangan atau individu lain, namun juga bisa terhadap benda, tempat, maupun peristiwa tertentu. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa case yang satu ini memang erat kaitannya dengan hubungan romantis.
Ikatan emosional juga biasa dikenal dengan istilah attachment. Sebuah teori tentang attachment yang dikemukakan oleh John Bowlby menyatakan bahwa, Hubungan romantis membentuk suatu ikatan emosional yang mirip dengan ikatan orang tua dan anak. Artinya, ikatan tersebut bisa sangat dalam, dan mampu memicu kesulitan move on di masa yang akan datang. Walaupun memang tidak ada satupun pasangan yang berharap akan perpisahan saat dalam menjalani hubungan.
Baca juga: Lepas dari Masa Lalu: Pendekatan CBT dalam Membantu Individu Move On
Rasa Kehilangan Identitas
Alasan seseorang sulit move on dalam perspektif psikologis yang kedua bisa karena adanya rasa kehilangan identitas. Saat individu sudah memiliki relationship yang cukup lama, hubungan tersebut akan membentuk suatu identitas sendiri yang dikenal dengan “relational identity”. Hal yang sama berlaku untuk peristiwa maupun benda yang berarti. Saat individu kehilangan hal tersebut, beberapa orang merasa kehilangan identitas. Dimana hal tersebut bisa mempengaruhi proses move on.
Saat suatu hubungan berakhir, seseorang tidak hanya kehilangan pasangan. Namun juga kehilangan peran dalam hubungan tersebut. Dengan demikian, perubahan besar itu tentu tidak akan mudah untuk diterima bagi banyak orang.
Baca juga: Melangkah Maju: Proses Psikologis di Balik Moving On dari Hubungan yang Menyakitkan
Kecenderungan Ruminasi
Alasan seseorang sulit move on dalam perspektif psikologis yang ketiga bisa karena kecenderungan ruminasi. Ruminasi sendiri merupakan kondisi dimana individu berulang-ulang memikirkan atau merenungkan suatu masalah dan hal-hal negatif secara berlebihan.
Kecenderungan ruminasi ini bisa menghambat proses move on individu. Pasalnya, kebiasan ruminasi akan membuat individu memutar kembali kenangan-kenangan cukup berkesan. Perilaku tersebut bisa menimbulkan rasa bersalah, marah, atau kehilangan yang cukup mendalam. Dalam beberapa kondisi, ruminasi biasanya memiliki kaitan dengan kondisi depresi, kecemasan, dan kesulitan dalam regulasi emosi.
Baca juga: Neurosains di Balik Moving On: Apa yang Terjadi dalam Otak Saat Kita Melepaskan?
Pengaruh Neuropsikologi
Alasan seseorang sulit move on dalam perspektif psikologis yang keempat bisa karena adanya pengaruh neuropsikologi. Dalam hubungan romantis, saat hubungan berlangsung umumnya tubuh akan memproduksi hormon dopamin yang sangat tinggi. Saat hubungan berakhir, produksi dopamin akan menurun secara drastis. Kondisi semacam ini akan membuat otak seakan mengalami kondisi withdrawal. Artinya, individu tersebut mengalami kecanduan cinta, dan sangat membutuhkan dosis cinta itu kembali.
Baca juga: Mindfulness, Self-Compassion, dan Healing Journey: Pendekatan Psikologi Positif
Kurangnya Self Compassion dan Dukungan Sosial
Alasan seseorang sulit move on dalam perspektif psikologis yang kelima bisa karena kurangnya self compassion dan dukungan sosial. Self compassion sendiri merupakan kebaikan atau belas kasih terhadap diri sendiri. Sedangkan dukungan sosial bisa didapatkan dari orang-orang terdekat, seperti teman, keluarga, support group, dan lain sebagainya. Kurangnya kedua poin tersebut bisa membuat individu kehilangan semangat untuk move on.
Itu dia penjelasan singkat tentang alasan seseorang sulit move on dalam perspektif psikologi. Jika Anda mengalami hambatan dalam proses move on, dan terganggu akan hal tersebut. Anda bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Peran Terapi Psikologis dalam Healing Journey
Sumber:
Bowlby, J. (1980). Loss: Sadness and Depression (Attachment and Loss Vol. 3). Basic Books.
Slotter, E. B., Gardner, W. L., & Finkel, E. J. (2010). Who am I without you? The influence of romantic breakup on the self-concept. Personality and Social Psychology Bulletin, 36(2), 147–160.
Nolen-Hoeksema, S., Wisco, B. E., & Lyubomirsky, S. (2008). Rethinking Rumination. Perspectives on Psychological Science, 3(5), 400–424.
Fisher, H. E., Aron, A., & Brown, L. L. (2005). Romantic love: An fMRI study of a neural mechanism for mate choice. Journal of Comparative Neurology, 493(1), 58–62.
Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



