Semua artikel
Relationship

Pasangan dengan Anxious Attachment: Tantangan dalam Hubungan dan Cara Menghadapinya

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Memiliki hubungan yang sehat dengan pasangan tentu merupakan dambaan bagi banyak orang. Dengan hubungan yang sehat kondisi mental juga bisa terjaga. Bahkan, hubungan yang sehat bisa membantu setiap pasangan untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Namun, tantang akan menghadang saat individu memiliki pasangan dengan anxious attachment atau gaya keterikatan cemas. Anxious attachment adalah salah satu dari keempat tipe attachment style. Individu dengan anxious attachment cenderung sangat membutuhkan kedekatan emosional, dan terlalu sensitif akan tanda-tanda penolakan dari pasangan. Hal tersebut sering kali membuat rasa tidak nyaman dalam sebuah hubungan.

Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang apa saja tantangan saat memiliki pasangan dengan anxious attachment, dan bagaimana cara menghadapinya. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental, cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Tantangan Menghadapi Pasangan dengan Anxious Attachment

Perlu diketahui bahwa anxious attachment bukanlah gangguan mental. Namun terkadang kondisi tersebut bisa sangat mengganggu untuk diri sendiri maupun orang terdekat. Adapun dalam kehidupan berpasangan, individu dengan anxious attachment bisa memberikan beberapa tantangan bagi pasangannya, misalnya:

Sangat membutuhkan perhatian dan validasi terus-menerus

Tantangan paling umum yang dihadapi jika memiliki pasangan dengan anxious attachment adalah akan selalu dimintai kepastian akan hal-hal yang sebenarnya sudah pasti. Misalnya terus memastikan apakah pasangannya mencintainya, tidak akan meninggalkannya, atau tentang prioritas dalam hubungan. Walaupun sederhana, namun akan sangat menjengkelkan itu hal itu terus berlangsung tanpa tahu kapan akan berakhir.

Terlalu responsif akan isyarat negatif

Memiliki pasangan dengan anxious attachment juga berarti kamu harus memperhatikan hal-hal kecil, seperti ekspresi wajah, nada suara, maupun jeda dalam komunikasi. Pasalnya, jika di dalam hal tersebut mengisyaratkan sedikit saja hal negatif, maka itu bisa ditafsirkan sebagai penolakan maupun ancaman dalam hubungan.

Takut akan penolakan dan sangat bergantung secara emosional

Pasangan dengan anxious attachment juga sangat sulit menerima penolakan, dan bisa sangat bergantung secara emosional. Mereka juga umumnya akan bereaksi secara berlebihan terhadap konflik, misalnya dengan marah, menangis, atau menunjukan keputusasaan untuk mendapatkan perhatian.

Baca juga: Disorganized Attachment: Cinta yang Tidak Konsisten dan Membingungkan

Cara Menghadapi Pasangan dengan Anxious Attachment

Dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh individu dengan anxious attachment, hal itu bukan alasan untuk mereka ditinggalkan. Walau bagaimanapun individu dengan anxious attachment juga merupakan korban dari pola asuh yang sedikit keliru. Untuk itu, berikut beberapa tips menghadapi pasangan dengan anxious attachment:

Bersikap konsisten dan dapat dipercaya

Cara pertama yang bisa dilakukan sebagai pasangan adalah dengan memberikan konsistensi akan rasa aman yang dihadirkan dalam sebuah hubungan. Menepati janji dan menghindari perubahan mendesak juga akan membantu pasangan dengan anxious attachment menjadi lebih baik. Mempertahankan komunikasi yang baik dan secara rutin juga akan membantu hubungan menjadi lebih sehat.

Validasi emosi dan kebutuhannya

Walaupun sikap manja dan selalu terikat terkadang menjengkelkan, percayalah itu karena Ia takut akan kehilanganmu. Maka dari itu, alih-alih mengabaikan dan merasa jengah, lebih baik validasi emosi dan berikan apa yang mereka butuhkan. Buktikan bahwa kamu mencintai dan tidak akan meninggalkannya.

Gunakan komunikasi yang terbuka dan menangkan

Individu dengan anxious attachment memang perlu dihadapi dengan kejujuran dan ketenangan. Maka dari itu, cobalah untuk menjalin komunikasi yang terbuka dan menenangkan. Kurangi bahasa-bahasa yang ambigu atau istilah yang bisa memiliki dua makna.

Berikan jaminan secara proaktif

Tidak perlu dianggap lebay atau berlebihan dalam mengungkapkan cinta kepada pasangan dengan anxious attachment. Pasalnya, hal-hal semacam itu justru membuat mereka tenang dan merasa dicintai. Kamu bisa mengucapkan dan menunjukan rasa cinta dan sayang setiap saat kepadanya.

Atur batasan dengan empati

Walaupun memiliki pasangan dengan anxious attachment akan membuat kamu sangat terikat. Bukan berarti kamu tidak memiliki batasan personal. Namun, ingatlah untuk mengkomunikasikan batasan tersebut dengan perhatian dan penuh empati. Dengan begitu kamu tidak terlalu merasa terikat, dan pasangan tidak takut akan ditinggalkan.

Berikan dukungan untuk mendapatkan konseling psikologi

Walau bagaimanapun perilaku pasangan dengan anxious attachment ini bukan hal sehat untuk dipertahankan. Demi kelangsungan hubungan yang sehat, cobalah untuk memberikan dukungan agar pasangan mau mendapatkan konseling psikologi. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana.

Itu dia sedikit penjelasan tentang tantangan memiliki pasangan dengan anxious attachment, dan beberapa cara untuk menghadapinya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Avoidant Attachment: Cinta Dengan Penghindaran dan Perasaan Tidak Aman

 

Sumber:

Levine, A., & Heller, R. (2010). Attached: The New Science of Adult Attachment and How It Can Help You Find – and Keep – Love. TarcherPerigee.
Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.
Johnson, S. M. (2008). Hold Me Tight: Seven Conversations for a Lifetime of Love. Little, Brown Spark.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics, and Change. Guilford Press.
Tatkin, S. (2016). Wired for Love: How Understanding Your Partner’s Brain and Attachment Style Can Help You Defuse Conflict and Build a Secure Relationship. New Harbinger Publications.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Pasangan dengan Anxious Attachment: Tantangan dalam Hubungan dan Cara Menghadapinya — DeepTalk