Deeptalk.co.id – Pernahkah kamu berjumpa dengan seseorang yang tiba-tiba membisu pada situasi tertentu? Atau anak yang sangat aktif di dalam rumah, namun menjadi sangat pasif saat berada di luar rumah? Bisa jadi orang atau anak tersebut sedang mengalami kondisi yang dikenal dengan istilah selective mutism.
Untuk mengenal lebih jauh mengenai kondisi selective mutism, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis.
Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai selective mutism.
Pengertian Selective Mutism

Selective mutism merupakan salah satu gangguan kecemasan yang cukup parah. Dimana pada kasus ini, penderita akan tiba-tiba membisu saat sedang berada pada kondisi sosial tertentu. Walaupun kondisi selective mutism ini cukup sering dijumpai pada anak-anak, namun tidak menuntut kemungkinan orang dewasa juga mengalami kondisi serupa.
Contoh kasus selective mutism ini adalah, seorang anak yang tiba-tiba membisu dan tidak bisa mengeluarkan sepatah-katapun dari mulutnya saat sedang berada di sekolah. Namun pada kenyataannya anak ini tidak memiliki masalah dalam kemampuan berbicara sama sekali.
Gangguan selective mutism ini masuk dalam kategori gangguan kecemasan yang parah. Pasalnya kondisi ini sangat mengganggu seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pada anak, kasus selective mutism ini sangat mempengaruhi aktivitas sosial, seperti sekolah, atau berinteraksi dengan anak-anak sebayanya.
Kondisi selective mutism ini bisa dideteksi sejak usia 3 tahun atau setelah anak sudah menguasai kemampuan berbicaranya. Pada kenyataannya seseorang yang mengalami gangguan selective mutism ini tidak memiliki masalah dalam kemampuan berbicara. Hanya saja dalam situasi tertentu mereka seakan mengalami kekakuan pada lidah yang akhirnya membuat mereka tidak bisa mengeluarkan sepatah-katapun.
Penyebab Selective Mutism

Sayangnya belum ditemukan penyebab pasti dari gangguan selective mutism ini. Meski demikian, beberapa beberapa faktor berikut dianggap dapat memicu seseorang mengalami selective mutism.
Gangguan kecemasan
Seperti yang diketahui bahwa kondisi selective mutism ini merupakan gangguan kecemasan yang cukup parah. Dengan demikian, kondisi ini bisa saja dipicu oleh riwayat kecemasan yang dimiliki oleh seseorang. Selain itu, APA menyatakan bahwa kondisi selective mutism bisa jadi dipicu oleh sifat dasar yang dimiliki sejak lahir. Dimana, anak yang mudah cemas cenderung mengalami reaksi yang berlebihan pada amygdala (bagian otak).
Baca juga : Rapunzel Syndrome : Kebiasaan Memakan Rambut Sendiri
Genetik
Faktor lain yang dapat memicu kondisi selective mutism adalah genetik. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan selective mutism atau masalah kecemasan berlebih, dipercaya lebih besar kemungkinan mengalami gangguan selective mutism.
Rasa percaya diri yang rendah
Seseorang dengan rasa percaya diri yang rendah juga bisa memicu kondisi selective mutism. Rasa percaya diri yang rendah ini seringkali beriringan dengan perasaan cemas berlebih saat berada di lingkungan sosial, atau diharuskan untuk melakukan aktivitas bersama orang lain. Dengan demikian, kondisi ini bisa menjadi lebih parah jika tidak diatasi dan berakhir pada gangguan selective mutism.
Gejala Selective Mutism

Walaupun gangguan selective mutism ini bisa saja dialami oleh orang dewasa, namun umumnya kasus ini bermula pada usia kanak-kanak, yaitu pada rentan usia 2 hingga 4 tahun. Pada usia tersebut anak akan melalui proses perkembangan dalam kemampuan berbicaranya. Dengan demikian, kasus selective mutism ini tidak berhubungan dengan masalah dalam kemampuan berbicara.
Gejala yang sangat menonjol dari penderita selective mutism adalah perbedaan yang cukup kontras saat berbicara di luar dan di dalam rumah. Meski demikian, karena kasus ini sering kali dialami oleh anak-anak, cukup banyak orang tua yang tidak menghiraukan kondisi tersebut. untuk itu diperlukan kepekaan dari orang tua.
Berikut beberapa gejala lain dari gangguan selective mutism:
· Menghindari kontak mata saat sedang berinteraksi dengan orang lain, khususnya orang yang dianggap asing.
· Menunjukkan ekspresi canggung dan gugup saat berada di lingkungan baru, atau berada di depan umum.
· Cenderung menarik diri untuk tidak berinteraksi dengan orang lain, dan tampak malu-malu saat berada di lingkungan baru.
· Terlihat kaku dan tegang saat terpaksa berinteraksi dengan orang lain.
· Mampu berbicara secara aktif dan lancar saat berada di dalam rumah, namun terdiam saat berada di luar rumah.
· Mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain saat berada di depan umum, walaupun dengan orang-orang terdekatnya.
· Berinteraksi dengan bahasa tubuh saat berada di luar rumah. Misalnya menggeleng untuk berkata tidak, dan menganggukkan kepala untuk berkata iya.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai gangguan selective mutism. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala di atas, maka segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater.
Semoga artikel ini bermanfaat.
Baca juga : Waspada Dampak dan Cara Mengatasi Perasaan Bersalah yang Berlebihan
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



