Deeptalk.co.id – Regulasi emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengelola dan mengontrol emosi mereka dengan efektif, terutama dalam situasi yang menantang atau stres. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan resiliensi atau ketahanan diri seseorang dalam menghadapi situasi sulit, pun juga sebaliknya regulasi emosi yang dapat meningkatkan resiliensi seseorang.
Dalam artikel ini, kita akan membahas keterkaitan antara regulasi emosi dan resiliensi, serta bagaimana meningkatkan kemampuan regulasi emosi dapat membantu seseorang menjadi lebih tangguh dan berhasil mengatasi tantangan hidup.
Keterkaitan Regulasi Emosi dengan Resiliensi

Hubungan antara kedua hal ini disampaikan oleh Troy dan Maus dalam artikel ilmiahnya menyarankan bahwa regulasi emosi dan hasil resiliensi dapat dihubungkan melalui penggunaan dua strategi. Yakni kontrol perhatian dan penilaian ulang kognitif. Dalam kerangka kerjanya mereka mengusulkan bahwa kemampuan regulasi emosi adalah moderator. Dimana seseorang yang memiliki kemampuan regulasi emosi lebih tinggi lebih cenderung menunjukkan resiliensi setelah kesulitan yang melanda dirinya dibandingkan dengan mereka yang memiliki regulasi emosi rendah. Kontrol atensi dan strategi penilaian ulang kognitif harus mengarah pada respons emosi yang adaptif (kurang negatif), sehingga berkontribusi pada resiliensi.
Selain itu, ada pula kaitan lainnya yakni mengenai program pelatihan ketahanan atau resiliensi. Seperti ketika keterampilan bertahan yang kuat dalam konstruksi ulang situasi untuk membantu seseorang dalam memahami situasi stres dalam konteks yang lebih luas. Ini berkaitan dengan penilaian ulang. Selanjutnya, ada pula program pelatihan Psychological Capital (Psy Cap) yang mendorong karyawan untuk mempertimbangkan situasi di tempat kerja. Yakni ketika mereka merasa mandek lalu kemudian memikirkan faktor-faktor dalam situasi tersebut yang dapat mereka ubah, yang juga memiliki hubungan yang jelas dengan strategi modifikasi situasi.
Sebuah meta-analisis program pelatihan resiliensi baru-baru ini juga turut membahas penilaian kognitif dan coping mechanism yang berfokus pada masalah sebagai faktor pelindung psikologis. Demikian pula penelitian lain yang juga meninjau beberapa faktor resiliensi tingkat individu yang berhubungan dengan regulasi emosi, seperti positive coping, pengaruh positif, pemikiran positif serta kontrol perilaku.
Perubahan kognitif disini dikelompokkann sebagai pemikiran positif, sedangkan modifikasi situasi mungkin akan diklasifikasikan sebagai positive coping. Akan tetapi, penyebaran perhatian dan pemilihan situasi tidak cocok dengan kategori ini.
Selanjutnya perbedaan antara faktor-faktor yang berbeda ini agak tidak jelas. Misalnya peneliti menganggap istilah “regulasi emosi” berada di bawah kendali perilaku, mungkin karena hanya mempertimbangkan strategi regulasi berbasis respons. Penggunaan model proses oleh Gross dapat membantu mengidentifikasi teknik lain yang berguna untuk membangun resiliensi.
Baca juga: Perbedaan Quarter Life Crisis dan Midlife Crisis
Resiliensi Emosi

Mengatur emosi untuk meningkatkan resiliensi akan merujuk pada istilah resiliensi emosi atau ketangguhan secara emosional, yang mana merupakan kemampuan seseorang untuk mengatasi dan beradaptasi dengan situasi stres. Dan intimya adalah berkaitan juga dengan regulasi emosi, sebagai kemampuan untuk mengelola emosi diri sendiri. Kondisi ini akan melibatkan dan berpusat di sekitar Autonomic Nervous System (ANS) atau sistem saraf otonom.
ANS berinteraksi dengan organ dalam, termasuk pembuluh darah, lambung, usus, hati, ginjal, kandung kemih, alat kelamin, paru-paru, pupil, jantung, dan kelenjar keringat, ludah, dan pencernaan. Ini juga memiliki dua sisi yang berlawanan, yakni :
– Sistem Saraf Simpatik (SNS) – bertanggung jawab atas respons fight-or-flight terhadap informasi yang datang dari lingkungan, pikiran, dan perasaan.
– Sistem Saraf Parasimpatik (PNS) – membantu fungsi istirahat dan pencernaan, menghemat sumber daya fisik.
Kedua sistem tersebut akan terlihat seperti misalnya saat Anda menghadapi ancaman dan perlu melarikan diri, sehingga sistem simpatik akan dengan cepat menggerakkan tubuh Anda untuk mengambil tindakan. Setelah ancaman berlalu, sistem parasimpatis kemudian akan mulai meredam respons ini dengan perlahan-lahan mengembalikan tubuh Anda ke keadaan normal kemudian istirahat.
Resiliensi emosional dibantu oleh sifat dan pola pikir seseorang, termasuk kualitas pikiran seperti positivity, optimisme, penuh humor, rasa ingin tahu dan keinginan untuk belajar. Keterampilan ini pun juga dapat dikembangkan yang pada akhirnya dapat membantu seorang individu untuk mengubah dan mendukung pola pikir yang lebih sehat.
Anda dapat belajar untuk menyadari emosi saat muncul dan kemudian menginterupsi dan mengatur emosi apa pun yang merusak kesejahteraan diri maupun orang lain. Regulasi emosi ini merupakan inti dari kecerdasan emosional, yang merupakan kemampuan untuk mengenali, mengelola dan mengatur emosi dan perilaku Anda saat sedang sendiri ataupun saat berinteraksi dengan orang lain.
Sisi emosional dalam diri manusia dirancang untuk bereaksi terhadap ancaman bahya, kehilangan, kesenangan, pelanggaran dan siapa pun yang mungkin mengganggu tujuan mereka. Pemicu ini bisa nyata, tetapi emosi juga bisa ditimbulkan oleh imajinasi dan ingatan seseorang. Banyak dari reaksi bawaan yang berevolusi ini dapat menyelamatkan hidup, membantunya dalam mengembangkan hubungan, dan/atau memotivasi perilaku.
Reaksi seperti itu dapat terjadi dalam waktu kurang dari satu detik tanpa berpikir, dan karenanya dapat membawa individu ke dalam masalah atau merusak kesejahteraan. Jika, misalnya, Anda berada di jalan yang ramai dan tiba-tiba didorong dari belakang, Anda mungkin bereaksi dengan berbalik arah dan menyerang ancaman tersebut dengan memukul orang di belakang Anda. Itu mungkin tidak pantas jika Anda mengetahui bahwa kejadian itu berasal dari orang tua yang kehilangan keseimbangan lalu jatuh ke arah Anda.
Baca juga: Hubungan Pola Penghindaran Pada Kebiasaan Procrastination
Sumber:
Lansley, C., PhD. (2022). Five strategies for emotion regulation – the core of emotional resilience. EIA Group. https://www.eiagroup.com/emotional-regulation-the-core-of-emotional-resilience/
Sophie A. Kay (2016). Emotion Regulation and Resilience: Overlooked Connections. Industrial andnOrganizational Psychology, 9, pp 411-415 doi:10.1017/iop.2016.31
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



