Deeptalk.co.id – Merdeka secara umum bermakna kebebasan. Artinya, saat kamu selalu dituntut untuk berpikir positif dan mengabaikan emosi negatif, bisa jadi kamu belum merdeka secara mental. Jika demikian, kamu masih dijajah oleh toxic positivity.
Penjajahan toxic positivity ini membuat individu tertekan secara emosional. Tentunya bisa mendatangkan dampak negatif untuk kondisi mental penderitanya. Lantas, bisakah kita merdeka dari toxic positivity? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Cobalah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Toxic Positivity

Toxic positivity adalah keyakinan atau sikap seseorang untuk menuntut orang lain berpikir positif, walaupun orang tersebut dengan dalam kondisi emosional yang tidak baik, seperti sedang menghadapi masalah, sedih, atau baru saja melalui pengalaman traumatis.
Toxic positivity muncul sebagai konsep dimana emosi negatif dianggap tidak pantas, sehingga seseorang perlu untuk mengabaikan atau tidak mengekspresikan emosi tersebut. Perlu diingat bahwa setiap emosi itu normal, baik positif maupun negatif. Emosi negatif tidak seharusnya ditekan atau diabaikan. Pasalnya hal tersebut justru akan menjadi bom waktu dengan ledakan yang lebih besar di kemudian hari.
Memaksakan diri untuk terus berpikiran positif juga bisa membuat kita kehilangan kepekaan akan emosi-emosi negatif. Pada akhirnya kita menjadi tidak paham kapan waktu untuk bersedih, kecewa, marah, dan lain sebagainya. Selain itu, menurut Quintero dan Long, toxic positivity merupakan bentuk invalidasi emosional. Dimana individu akan mengalami tekanan untuk terus terlihat bahagia, dan disisi lain emosi negatif tidak lagi diakui.
Baca juga: Dari Penjajahan Pikiran ke Pembebasan Jiwa: Revolusi Mental di Era Modern
Dampak Toxic Positivity

Toxic positivity bukan kondisi yang bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya kondisi tersebut bisa memberikan berbagai dampak negatif untuk diri sendiri, misalnya:
- Tekanan emosional, yaitu kondisi dimana seseorang tidak bisa mengekspresikan emosi atau perasaan negatif secara sehat.
- Munculnya rasa bersalah, terutama saat individu tersebut tidak bisa merasa sangat bahagia, atau saat sedang merasakan emosi negatif. Padahal emosi negatif sama normalnya dengan emosi positif.
- Menurunnya kesehatan mental, karena pada dasarnya toxic positivity bukan hal baik untuk dilakukan. Walaupun selalu tampak berekspresi positif, namun emosi negatif yang tertutupi bisa memicu atau memperburuk stress, kecemasan, depresi, dan masalah mental lainnya.
- Hubungan interpersonal terganggu, karena individu dengan toxic positivity bahkan sering lupa berekspresi dengan tepat. Pada akhirnya validasi emosi sering terasa kurang, dan memicu komunikasi yang dangkal dan tidak autentik.
Baca juga: Mental Health Sebagai Hak Asasi: Saatnya Menuntut Merdeka Psikologis
Cara Melepaskan Diri Dari Toxic Positivity

Dampak toxic positivity memang tidak tampak langsung oleh mata. Namun secara perlahan dampak tersebut bisa menghancurkan hidup manusia. Maka dari itu, penting untuk kita melepaskan diri dari toxic positivity, berikut beberapa cara yang bisa dipraktekan:
Menerima emosi secara penuh
Cara pertama adalah dengan menerima emosi secara penuh, baik itu emosi positif maupun negatif. Sangat normal untuk merasakan sedih, kecewa, marah, dan emosi negatif lainnya sebagai bagian dari diri kita. Semua emosi negatif itu tidak perlu diabaikan, melainkan patut diterima secara penuh.
Validasi perasaan orang lain
Cara kedua adalah dengan memvalidasi perasaan orang lain. Tidak perlu meminta orang yang lagi sedih untuk tidak bersedih. Cukup dengarkan cerita mereka, dan memberikan dukungan. Cara ini bisa membantu kamu lebih mengenal emosi, dan berempati terhadap orang lain.
Berlatih self compassion
Cara ketiga adalah dengan melatih kemampuan self compassion, yaitu upaya untuk memperlakukan diri sendiri dengan baik dan penuh empati, terutama saat sedang menghadapi masa sulit. Tidak perlu menekan diri untuk terus merasa baik, atau tidak juga untuk menekan emosi yang muncul.
Gunakan afirmasi yang realistis
Cara keempat adalah dengan menggunakan afirmasi yang realistis. Misalnya saat sedang dalam masa sulit, tidak perlu mengatakan “saya baik-baik saja”, atau “saya harus bahagia”, ganti dengan kalimat “sayang sedang dalam perjalanan melewati masa sulit ini, dan semua yang saya rasakan adalah normal”.
Cari bantuan profesional
Cara kelima adalah dengan mencari bantuan profesional, seperti melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Tidak bisa dipungkiri bahwa tidak semua hal bisa kita atasi sendiri. Terutama untuk kasus-kasus yang lebih kompleks, atau diluar kemampuan kita. Dalam beberapa kasus, berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater bisa memberikan hasil yang lebih signifikan. Jika kamu membutuhkan bantuan psikolog, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id dan berkonsultasi dengan psikolog disana.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai toxic positivity. Dapat disimpulkan bahwa toxic positivity adalah penjajah yang membuat mental kita tidak bisa merdeka. Namun, kita bisa melawannya demi kondisi mental yang lebih baik. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Kemerdekaan Diri: Mengatasi Luka Batin sebagai Bentuk Perjuangan Pribadi
Sumber:
Quintero, A., & Long, J. (2019). Toxic positivity: Keeping it real in a world obsessed with being happy. Psychology Today.
Salgado, D. M. (2021). The dark side of positive vibes: Understanding toxic positivity and its consequences. Journal of Positive Psychology Studies, 12(3), 145–153.
Williams, K. E., & Smith, J. A. (2020). Emotional suppression, toxic positivity, and mental health outcomes. Clinical Psychology Review, 81, 101893.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



