Deeptalk.co.id – Di era digital saat ini, di mana media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, fenomena oversharing semakin merajalela. Oversharing merujuk pada kecenderungan seseorang untuk berbagi terlalu banyak informasi pribadi atau intim secara terbuka kepada orang lain, baik melalui platform online maupun dalam interaksi sosial sehari-hari.
Namun, sedikit yang menyadari dampak yang bisa timbul akibat dari perilaku oversharing ini terhadap kesehatan mental kita. Dalam artikel ini, kami akan menggali lebih dalam mengenai fenomena oversharing, memahami asal-usulnya, dan mengungkap dampaknya yang serius terhadap kesehatan mental kita.
Tentang Oversharing

Istilah oversharing atau diartikan dengan perilaku membagikan terlalu banyak informasi pribadi kepada publik atau orang lain. Itu bisa terjadi secara online maupun offline. Namun ini menjadi hal yang biasa dilakukan ketika kita telah mengenal media sosial yang menjadi kebutuhan informasi sehari-hari. Oversharing justru menjadi masalah besar di situs media sosial yang membuat penempatan diri Anda secara online mnejadi mudah.
Pun saat ini di kehidupan sehari-hari telah berkembang pesat teknologi yang semakin mudah digunakan. Sehingga unggahan di media sosial bisa dikenal banyak orang hanya dengan satu klik. Juga dengan adanya aksesibilitas yang mudah untuk memposting, tidak perlu banyak kebiasaan untuk terus menerus memposting dan berbagi secara berlebihan di media sosial.
Dorongan dari keinginan untuk terus membagikan ini muncul ketika setiap unggahan yang mendapatkan suka, atau pengikut baru datang membanjiri. Ini pun membuat otak melepaskan dopamin akibat telah memberikan perasaan penghargaan yang kuat. Akhirnya Anda bisa menjadi bergantung pada validasi dari kehidupan online orang lain.
Kecanduan akan oversharing ini menuntut Anda untuk terus membagikan kehidupan secara online, dalam prosesnya menjadi mengabaikan kebahagiaan diri sendiri. Ini juga mendorong Anda untuk tetap menjaga identitas online tertentu untuk meningkatkan harga diri.
Anda bisa saja terus menerus memposting highlight kehidupan Anda dan mulai bersaing dengan orang lain dalam upaya untuk melengkapi postingan lain demi menggapai kehidupan online yang “sempurna”. Padahal ketika individu mulai mengambil tindakan tertentu dan menjalani gaya hidup tertentu hanya untuk tujuan citra mereka di media sosial, akan mudah untuk kehilangan rasa diri dan individualitas seseorang.
Baca juga: Ketika Takut Dengan Masa Depan, Berikut Penjelasannya
Efek Oversharing di Media Sosial

Mungkin sekedar membagikan kehidupan pribadi di media sosial tidak akan memberikan masalah, pun ini dapat melepaskan dopamin dalam otak Anda untuk sesaat. Ini bisa menjadi hal yang menyenangkan, namun juga bisa memberikan konsekuensi lainnya.
Oversharing dapat menempatkan Anda dalam berbahaya, terutama terkait dengan privasi dan keamanan Anda. Ini bisa dalam bentuk perampokan atau penguntitan, seperti jika Anda berbagi lokasi, rutinitas sehari-hari, dan aktivitas sosial secara berlebihan, orang-orang dapat melacak Anda dan mengetahui di mana Anda akan berada dan kapan.
Selain itu, oversharing akan memberikan konsekuensi dapat merusak prospek profesionalitas Anda. Jika Anda memutuskan untuk mengoceh di media sosial tentang suatu hal, Anda dapat dimintai pertanggungjawaban atas apa pun yang Anda katakan, karena bagaimanapun, Anda memutuskan untuk mempostingnya. Jika kiriman Anda ditemukan oleh kolega atau atasan Anda, Anda berpotensi kehilangan pekerjaan.
Oleh karenanya, dalam hal reputasi, beberapa hal lebih baik dibiarkan pribadi, dan berbagi secara berlebihan dapat menyebabkan kehidupan pribadi dan publik Anda bertabrakan. Selain dalam hal hubungan sosial, oversharing pun dapat memberikan konsekuensi bagi diri Anda secara internal.
Oversharing bisa menjadi hal yang tidak sehat, yakni ketika Anda mulai terjebak pada perbandingan sosial. Ini terjadi ketika Anda sangat terlibat dalam media sosial sehingga menjadi oversharing, lalu Anda memainkan permainan di mana Anda menjadi sering membandingkan kehidupan Anda dengan orang lain.
Ini dapat menyebabkan depresi, rendah diri, dan kecemburuan. Selain itu, perasaan bahwa Anda harus membagikan setiap detail agar terlihat “menarik” hanya akan menambah perasaan itu. Juga ketika terus menerus oversharing, perasaan cemas dan depresi tersebut bisa mulai menjadi lebih menonjol daripada serangan dopamin yang Anda dapatkan saat seseorang menyukai postingan Anda.
Efek dan bahaya dari oversharing lebih jauh dan dapat membahayakan kesehatan mental kita saat kita mencari validasi dari orang asing secara online. Seorang psikolog mengatakan bahwa dengan tidak mengetahui kesan seperti apa yang Anda buat saat online akan dapat menyebabkan stres dan kecemasan.
Melihat beragam konsekuensi buruknya, maka dari itu dengan menetapkan batasan diri dengan penggunaan media sosial dan menemukan jalan keluar yang sehat untuk masalah pribadi kita, kita dapat mempertahankan individualitas kita dan mencegah jatuh ke dalam perangkap berbagi yang berlebihan. Mengenal diri sendiri dan mengetahui apa batasan Anda agar tetap sehat akan menjadi semakin penting. Penting untuk diingat bahwa suka dan bagikan bukanlah yang seharusnya menentukan harga diri kita.
Baca juga: Perubahan Psikologis Pada Lansia, Apa Saja Itu?
Sumber:
Smith, S. (2022, January 20). Healthy venting or oversharing? The problems with being sad online. Dazed. https://www.dazeddigital.com/life-culture/article/55268/1/social-media-bella-hadid-mental-illness-sad-oversharing-instagram
Durlofsky, P. (2017, February 15). Pause Before Posting: The Benefits of Not Over Sharing on Social Media. Psych Central. https://psychcentral.com/blog/pause-before-posting-the-benefits-of-not-over-sharing-on-social-media
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



