Deeptalk.co.id – Menjaga kestabilan emosi memang terdengar cukup sederhana. Namun dalam prakteknya, itu bukan hal yang mudah bagi banyak orang. Walaupun perkembangan emosional sudah berlangsung sejak masa kanak-kanak. Namun nyatanya, masih banyak orang dewasa yang tidak memahami emosinya sendiri.
Tahukah kamu bahwa emosi yang stabil bisa tercipta dengan menerapkan mindfulness dan regulasi emosi. Lantas, apa itu mindfulness dan regulasi emosi? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.
Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami masalah dengan kondisi emosionalmu. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog agar mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Apa Itu Mindfulness?
Mindfulness adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental. Selain itu, penerapan teknik mindfulness dalam kehidupan sehari-hari juga bisa membantu seseorang untuk lebih mengenal emosinya. Termasuk mengidentifikasi respon terbaik apa yang bisa diberikan terhadap emosi yang dirasakannya.
Mindfulness adalah kondisi dimana seseorang memfokuskan seluruh perhatiannya terhadap apa yang sedang dihadapi saat ini, secara sadar, terbuka, dan tanpa adanya penghakiman. Teknik mindfulness awalnya berasal dan teknik meditasi Buddhis. Namun seiring dengan berjalannya waktu, teknik ini mulai banyak dipraktekan orang-orang untuk menjaga kestabilan emosi dan kondisi mental. Bahkan dalam dunia psikologis, teknik mindfulness diadopsi menjadi terapi psikologis, misalnya pada mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) dan Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT).
Baca juga: Mekanisme Regulasi Emosi pada Individu dengan Gangguan Kecemasan: Tinjauan Psikologis
Apa Itu Regulasi Emosi?
Regulasi emosi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengontrol, mengelola, atau mengubah respon emosional yang dirasakan agar sesuai dan bisa diterima dengan lingkungan sosial. Misalnya kondisi dimana seseorang mendapatkan kritikan, yang seharusnya seseorang mengalami rasa sedih dan keterpurukan akan kritikan itu. Dengan adanya regulasi emosi, orang tersebut akan menganggap kritikan sebagai bahan pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.
Regulasi emosi sendiri mencakup upaya untuk mengenali, memahami, menilai, dan mengungkapkan emosi secara tepat. Artinya, regulasi emosi membantu seseorang untuk tidak hanya mengenali emosi mereka. Namun juga tahu kemana arah emosi tersebut akan diekspresikan dengan tepat, dan tentunya bisa diterima oleh sosial.
Hubungan Antara Mindfulness dan Regulasi Emosi
Jika dilihat sekilas saja, mindfulness dan regulasi emosi memang sudah jelas memiliki ikatan yang kuat. Setidaknya, keduanya sama-sama memiliki ikatan dengan “emosi manusia”. Namun jika diperhatikan lagi lebih dalam, mindfulness ini membantu manusia untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi mereka dengan cara-cara berikut:
· Meningkatkan kesadaran emosional, dimana teknik mindfulness memang membiasakan seseorang untuk merasakan emosi apa yang sedang dialami, tanpa segera bereaksi terhadap emosi tersebut.
· Mengurangi reaktivitas emosional, dimana sikap netral dan tidak menghakimi yang diajarkan oleh teknik mindfulness membantu individu dalam mengelola emosi mereka. Dengan demikian, kemampuan regulasi emosi terlatih dalam hal ini.
· Mendorong penerimaan, dimana teknik mindfulness mengajarkan seseorang untuk menerima segala bentuk emosi, baik itu positif maupun negatif sebagai pengalaman hidup. Artinya, mindfulness mengajarkan manusia untuk memahami emosinya, yang tentunya baik untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi.
Perbedaan Antara Mindfulness dan Regulasi Emosi
Walaupun sama-sama berhubungan dengan emosi. Nyatanya, mindfulness dan regulasi emosi memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Berikut beberapa perbedaan mindfulness dan regulasi emosi:
Perbedaan definisi
Dari pengertian mindfulness dan regulasi emosi saja sudah cukup berbeda. Dimana mindfulness adalah upaya untuk menetapkan kesadaran secara penuh terhadap kondisi yang sedang dialami, tanda adanya penghakiman. Sedangkan regulasi emosi adalah upaya untuk mengelola emosi agar sesuai dengan konteks yang ada.
Perbedaan tujuan utama
Dari tujuan utama mindfulness dan regulasi emosi juga memiliki perbedaan. Mindfulness memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kesadaran dan penerimaan terhadap apa yang dialami. Sedangkan regulasi emosi memiliki tujuan utama untuk mengubah pengalaman atau ekspresi emosional ke hal yang bisa diterima.
Perbedaan proses
Jika dilihat dari prosesnya kita juga bisa melihat perbedaan antara mindfulness dengan regulasi emosi. Proses mindfulness cenderung non-intervensi, dan hanya menyadari serta menerima. Sedangkan proses regulasi emosi lebih bersifat aktif, misalnya dengan mengubah pikiran atau menekan emosi.
Perbedaan peran dalam psikologi
Perbedaan lain dari mindfulness dan regulasi emosi bisa dilihat dari perannya dalam psikologi. Mindfulness berperan sebagai teknik mental untuk meningkatkan kesejahteraan. Sedangkan regulasi emosi berperan sebagai kemampuan dalam kecerdasan emosional.
Itu dia penjelasan tentang mindfulness, regulasi emosi, hubungan, dan perbedaan keduanya. Dapat disimpulkan bahwa mindfulness dan regulasi emosi memang memiliki hubungan yang erat, khususnya dalam kondisi emosional. Terlepas dari itu, keduanya juga memiliki perbedaan yang harus ditempatkan sesuai kebutuhan.
Jika kamu memiliki masalah dalam mengatur kondisi emosional. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Kecerdasan Emosional dan Regulasi Diri: Pendekatan Psikologi Positif
Sumber:
Baer, R. A. (2003). Mindfulness Training As A Clinical Intervention: A Conceptual And Empirical Review. Clinical Psychology: Science and Practice, 10(2), 125–143. https://doi.org/10.1093/clipsy/bpg015
Gross, J. J. (1998). The Emerging Field Of Emotion Regulation: An Integrative Review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.3.271
Chambers, R., Gullone, E., & Allen, N. B. (2009). Mindful Emotion Regulation: An Integrative Review. Clinical Psychology Review, 29(6), 560–572. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2009.06.005
Roemer, L., Williston, S. K., & Rollins, L. G. (2015). Mindfulness And Emotion Regulation. Current Opinion in Psychology, 3, 52–57. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2015.02.006
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



