Deeptalk.co.id – Manipulasi emosional adalah bentuk kekerasan yang tidak bisa dilihat secara langsung dampaknya. Meski demikian, manipulasi emosional memberikan dampak yang tidak kalah sadis dari kekerasan secara fisik. Bahkan, stress dan depresi yang dialami oleh korban manipulasi emosional bisa berujung pada pikiran atau tindakan bunuh diri.
Pelaku manipulasi emosional juga tidak selalu sosok yang kejam dan kasar. Justru, beberapa dari mereka tampak baik untuk melancarkan aksi manipulatifnya. Terlepas dari itu, dampak yang dirasakan korban bisa berkepanjangan. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas dampak jangka panjang manipulasi emosional terhadap kesehatan mental.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu merasa menjadi korban manipulasi emosional. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Dampak Jangka Panjang Manipulasi Emosional
Pelaku manipulasi emosional adalah pelaku kekerasan yang secara perlahan menyiksa korbannya. Mengapa demikian? Pasalnya, dampak yang dirasakan oleh korban kebanyakan tidak tampak oleh mata. Namun, dampak tersebut bisa dirasakan jangka panjang. Berikut beberapa dampak jangka panjang yang bisa dirasakan oleh korban manipulasi emosional:
Penurunan harga diri (low self esteem)
Pelaku manipulasi emosional seringkali merendahkan, meremehkan, mengucilkan, dan mempermalukan korbannya. Jika berlangsung terus-menerus, korban akan mengalami penurunan harga diri secara berangsur-angsur. Dari penurunan harga diri ini bisa berdampak lagi pada banyak hal, misalnya merasa tidak layak dicintai, ketakutan akan berbuat kesalahan, dan juga bergantung pada validasi orang lain.
Gangguan kecemasan dan depresi
Dalam jangka panjang, korban manipulasi emosional bisa mengalami gangguan mental yang serius seperti gangguan kecemasan, depresi, dan serangan panik. Pelaku manipulasi emosional tidak jarang memberikan tekanan emosional yang bisa memicu gangguan-gangguan tersebut. Gejala umum yang dirasakan bisa berupa overthinking, susah tidur, mudah menangis, dan merasa hampa atau tidak berdaya.
Gangguan identitas dan ketidakpastian diri (lost of identity)
Dampak jangka panjang lainnya yang bisa dialami oleh korban manipulasi emosional adalah mengalami gangguan identitas dan ketidakpastian diri atau lost of identity. Pasalnya, korban manipulasi jangka panjang sering mendapatkan kritikan, arahan, atau secara tidak langsung dibentuk oleh pelaku. Akibatnya, korban bisa mengalami kebingungan akan nilai dan keinginan pribadi, sulit mengambil keputusan, dan merasa hilang atau kosong.
Ketergantungan emosional
Pelaku manipulasi emosional pada umumnya akan membuat korbannya terikat secara emosional dengan nya. Pada akhirnya, korban mengalami ketergantungan emosional dengan pelaku. Hal inilah yang membuat korban tidak mampu untuk lepas dari kendali pelaku, terlepas dari seberapa sakit luka yang dibuat oleh pelaku padanya. Dampak lain dari kondisi ini bisa berupa rasa takut akan ditinggalkan atau ditolak, dan rela mengorbankan diri demi mempertahankan relasi.
Gangguan stress pasca trauma
Walaupun korban berhasil keluar dari hubungan dengan pelaku manipulasi emosional, banyak diantara mereka yang mengalami gangguan stress pasca trauma (PTSD). Hal ini akan lebih beresiko dialami oleh korban yang tidak mendapatkan penanganan profesional. Pasalnya, menjadi korban manipulasi emosional merupakan pengalaman traumatis yang tidak menyenangkan. Gejala khas yang dirasakan korban bisa berupa disosiasi, flashback emosi, perasaan malu dan bersalah yang kronis, hingga kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Masalah relasi jangka panjang
Tidak hanya mengalami dampak terhadap kondisi mental, korban manipulasi emosional bisa beresiko mengalami masalah sosial. Dalam hal ini kebanyakan korban mengalami masalah relasi jangka panjang. Mereka cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, takut untuk mempercayai orang lain, dan yang paling ditakutkan adalah mengulang pola relasi manipulatif. Artinya, korban manipulasi emosional yang tidak tertangani dengan tepat beresiko kembali menjadi korban, atau justru menjadi pelaku manipulasi emosional.
Baca juga: Membangun Batasan Emosional: Strategi Psikologis Melawan Manipulasi
Bisakah Pulih dari Dampak Manipulasi Emosional?
Untuk lepas dari pelaku manipulasi emosional bukan hal yang mudah. Walaupun sudah berhasil lepas, proses pemulihan dari segala bentuk trauma itu tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selain itu, proses pemulihan setiap orang juga berbeda-beda. Makanya ada orang yang bisa pulih secara pribadi, namun beberapa orang membutuhkan bantuan profesional. Berikut beberapa panduan psikologis untuk pulih dari manipulasi emosional:
-
Validasi dan kenali pengalaman tersebut sebagai bentuk pembelajaran. Tidak perlu terlalu menyalahkan diri, dan belajar untuk pelan-pelan menerima pengalaman tersebut.
-
Bangun kembali batasan diri, dan jangan takut menolak atau berkata “tidak”. Dengan hal ini kamu bisa membentengi diri dari pelaku manipulasi emosional lainnya.
-
Bangun jaringan dan dukungan yang sehat. Misalnya dengan kembali bersosialisasi dengan membangun relasi pertemanan, kekeluargaan, dan lain sebagainya.
-
Pelajari kembali kenapa dulu kamu bisa terjebak dengan pelaku manipulasi emosional. Dengan begitu kamu bisa menghindari relasi toxic dimasa depan.
-
Dapatkan bantuan profesional. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana.
Itu dia penjelasan tentang dampak jangka panjang menjadi korban manipulasi emosional, dan cara yang bisa dilakukan untuk pemulihan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Psikologi Pelaku Manipulasi Emosional: Apa yang Mendorong Perilaku Ini?
Sumber:
Walker, L. E. (1979). The Battered Woman. Harper & Row.
Forward, S. (1997). Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You. HarperCollins.
Herman, J. L. (1992). Trauma and Recovery. Basic Books.
Hines, D. A., & Malley-Morrison, K. (2001). Psychological effects of partner abuse against women. Journal of Family Violence, 16(2), 125–131.
Courtois, C. A., & Ford, J. D. (2009). Treating Complex Traumatic Stress Disorders (Adults). Guilford Press.
Barlow, D. H. (2002). Anxiety and Its Disorders: The Nature and Treatment of Anxiety and Panic. Guilford Press.
Neff, K. D. (2003). Self-Compassion: The Proven Power of Being Kind to Yourself.
Linehan, M. M. (1993). Cognitive-Behavioral Treatment of Borderline Personality Disorder.
Levine, A., & Heller, R. (2010). Attached: The New Science of Adult Attachment.
Bancroft, L. (2002). Why Does He Do That? Inside the Minds of Angry and Controlling Men.
Van der Kolk, B. (2014). The Body Keeps the Score.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



