Semua artikel
Terapi

Mengenal Jenis-Jenis Mekanisme Pertahanan Diri

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Era modern ini membuat kita berjumpa dengan banyak sekali pemicu stress. Tidak hanya stress yang cukup serius seperti masalah pekerjaan, namun juga tentang hal-hal sederhana seperti berita hoax di internet. Maka dari itu, tidak heran jika di era modern ini banyak anak muda yang mengalami stress, kecemasan berlebih, depresi, dan berbagai jenis gangguan mental lainnya.

Jauh sebelum kita memasuki era modern, orang-orang pintar terdahulu sudah memikirkan cara untuk bisa mengatasi stress. Misalnya, sebuah konsep mekanisme pertahanan diri yang pertama kali dikembangkan oleh Sigmund Freud, dan disempurnakan oleh anaknya yang bernama Anna Freud.

Lantas, apa sebenarnya mekanisme pertahanan diri? Dan bagaimana bentuk dari mekanisme pertahanan diri itu sendiri? artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan bahan self diagnosis maupun penanganan gangguan mental. Jika kamu mengalami masalah kesehatan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pengertian Mekanisme Pertahanan Diri

Frowning young pretty woman doing silence gesture at camera isolated on white background with copy space

Mekanisme pertahanan diri atau yang juga biasa disebut dengan defense mechanism, adalah upaya psikologis yang secara tidak sadar dilakukan individu untuk melindungi diri dari ancaman-ancaman psikologis, seperti perasaan cemas, stress, atau kenyataan yang mungkin akan menyakitkan secara mental.

Jika kembali kepada analisis mekanisme pertahanan diri yang dikemukakan oleh Freud, mekanisme pertahanan diri sendiri ada untuk melindungi atau menjaga keseimbangan ego, ketika timbul konflik antara id dan super ego. Mudahnya, id merupakan insting manusia, superego adalah moralitas manusia, dan ego sendiri adalah realitas atau kesadaran.

Baca juga: Antara Kasih dan Kekuasaan: Stockholm Syndrome di Era Relasi Digital

Jenis-Jenis Mekanisme Pertahanan Diri

Impressed young pretty woman standing in profile view pointing at camera isolated on white background with copy space

Untuk mengenal lebih jauh seperti apa mekanisme pertahanan diri, kita perlu tahu juga jenis-jenis dari mekanisme pertahanan diri berikut:

Repression (represi)

Jenis mekanisme pertahanan diri pertama adalah represi atau repression. Represi ini bisa dikatakan sebagai jenis mekanisme pertahanan diri yang paling dasar, namun sangat penting berdasarkan teori psikoanalisis Freud.

Represi adalah mekanisme pertahanan diri dimana seseorang secara tidak sadar menekan ingatan, pikiran, dorongan, atau segala sesuatu yang mengancam atau akan menyakitkan, ke dalam alam bawah sadar. Sehingga, hal-hal menyakitkan itu tidak lagi muncul dan mengganggu kesadaran sehari-hari.

Denial (penolakan)

Jenis mekanisme pertahanan diri kedua adalah penolakan atau denial. Kita mungkin tidak asing dengan jenis yang satu ini. Selain memang sudah sering dibahas, penolakan atau denial juga merupakan istilah yang cukup sering digunakan sehari-hari.

Denial atau penolakan adalah mekanisme pertahanan diri dimana seseorang secara tidak sadar menolak untuk menerima kenyataan yang bisa memicu rasa sakit, kecemasan, atau ketidaknyamanan emosional untuk dirinya sendiri.

Projection (proyeksi)

Jenis mekanisme pertahanan diri ketiga adalah projection atau proyeksi. Seseorang yang melakukan proyeksi sebagai mekanisme pertahanan dirinya akan secara tidak sadar melindungi dirinya dari kemungkinan timbulnya emosi-emosi negatif. Namun, dengan menyematkan sumber ketidaknyamanannya kepada orang lain, atau diluar dirinya.

Rationalization (rasionalisasi)

Jenis mekanisme pertahanan diri keempat adalah rationalization atau rasionalisasi. Sama halnya dengan jenis mekanisme pertahanan diri sebelumnya, rasionalisasi juga secara tidak sadar dilakukan untuk melindungi diri dari emosi negatif. Namun, rasionalisasi dilakukan dengan menciptakan alasan logis untuk mendukung tindakan, pikiran, maupun perasaannya yang sebenarnya kurang dapat diterima.

Displacement (pemindahan)

Jenis mekanisme pertahanan diri kelima adalah displacement atau pemindahan. Jenis mekanisme yang satu ini juga dilakukan secara tidak sadar untuk meredakan ketegangan emosional yang ada. Displacement atau pemindahan adalah mekanisme pertahanan diri dimana seseorang akan memindahkan emosi, dorongan, atau reaksi dari sumber asli yang mengancam, ke target yang lebih aman. Misalnya, rasa marah kepada atasan, dialihkan ke pasangan, karena menganggap pasangan lebih bisa menerima, dan atasan akan menimbulkan resiko yang lebih fatal.

Sublimation (sublimasi)

Jenis mekanisme pertahanan diri keenam adalah sublimation atau sublimasi. Jenis mekanisme pertahanan diri yang satu ini merupakan jenis yang paling matang berdasarkan teori psikoanalisis. Berbeda dengan jenis lainnya yang cenderung menghindari atau menekan, sumblimasi justru dilakukan dengan mengalihkan ke hal-hal yang lebih baik atau menguntungkan. Misalnya, dorongan agresif yang diubah menjadi aktivitas yang lebih bisa diterima oleh masyarakat.

Regression (regresi)

Jenis mekanisme pertahanan diri ketujuh adalah regression atau regresi, yaitu kondisi dimana seseorang menghadapi stress, kecemasan, atau tekanan emosional, kembali ke perilaku yang lebih primitif atau kekanak-kanakan. Misalnya, seorang anak yang baru memiliki adik, kembali mengompol. Walaupun sebenarnya anak itu tidak pernah lagi mengompol.

Reaction formation (informasi reaksi)

Jenis mekanisme pertahanan diri kedelapan adalah reaction formation atau informasi reaksi. Reaction formation dilakukan untuk mengurangi kecemasan atau menutupi konflik batin. Secara tidak sadar, seseorang yang melakukan reaction formation akan mengubah dorongan perasaan yang tidak dapat diterima menjadi ekspresi berlawanan yang lebih ekstrim. Misalnya, saat seseorang tidak menyukai rekan kerjanya, maka dia akan bersikap ramah kepada rekan kerjanya tersebut.

Intellectualization (intelektualisasi)

Jenis mekanisme pertahanan diri kesembilan adalah intellectualization atau intelektualitas. Jenis mekanisme pertahanan diri yang satu ini dilakukan secara tidak sadar untuk menjaga diri dari rasa sakit secara emosional dengan mengalihkan perhatian dari aspek emosional yang bisa memicu kecemasan, dan lebih fokus kepada hal-hal yang lebih logis, rasional, dan intelektual.

Identification (identifikasi)

Jenis mekanisme pertahanan diri kesepuluh adalah identification atau identifikasi. Identifikasi adalah merupakan jenis mekanisme pertahanan diri dimana seseorang akan mengadopsi sifat, perilaku, atau nilai orang lain yang mereka kagumi untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa aman dan harga diri.

Itu dia penjelasan tentang mekanisme pertahanan diri dan jenis-jenisnya. Jika kamu membutuhkan bantuan psikolog, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Terkurung Rasa Aman Palsu: Stockholm Syndrome dan Dampaknya pada Mental Gen Z

 

Sumber:

Freud, S. (1936). The Ego and the Mechanisms of Defence. (Aslinya oleh Anna Freud). London: Hogarth Press.

Cramer, P. (2006). Protecting the Self: Defense Mechanisms in Action. New York: Guilford Press.

Vaillant, G. E. (1992). Ego Mechanisms of Defense: A Guide for Clinicians and Researchers. Washington, DC: American Psychiatric Press.

Westen, D. (1998). The scientific legacy of Sigmund Freud: Toward a psychodynamically informed psychological science. Psychological Bulletin, 124(3), 333–371.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mengenal Jenis-Jenis Mekanisme Pertahanan Diri — DeepTalk