Deeptalk.co.id – Ada beberapa alasan mengapa otak kita cenderung berpikir katastrofik. Beberapa faktor yang mempengaruhi ini adalah faktor biologis, lingkungan, dan psikologis. Mari kita bahas masing-masing faktor secara singkat.
Faktor Biologis: Evolusi dan Insting Bertahan Hidup

Dalam perjalanan evolusi, otak kita diarahkan untuk menyadari ancaman dan bahaya demi kelangsungan hidup. Kita secara alami lebih peka terhadap hal-hal negatif yang mungkin membahayakan diri kita atau orang yang kita cintai. Sayangnya, kadang kala ini bisa berarti berpikir katastrofik bahkan dalam situasi yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya.
Untuk memahami faktor biologis yang mendasari kecenderungan berpikir katastrofik. Maka kita perlu memahami peran evolusi dan insting bertahan hidup dalam membentuk cara otak kita bekerja.
1. Evolusi dan Otak Manusia
Selama jutaan tahun, manusia dan leluhur kita telah melalui berbagai perubahan evolusioner untuk meningkatkan kemampuan mereka bertahan hidup. Salah satu cara tubuh kita beradaptasi adalah dengan mengembangkan otak yang lebih besar dan lebih kompleks. Yang memungkinkan kita untuk menyadari bahaya sekitar kita dan meresponnya dengan cara yang lebih tepat.
Baca juga:
2. Sistem Pemrosesan Ancaman dan Negativitas
Salah satu hasil dari evolusi otak kita adalah pengembangan sistem pemrosesan ancaman yang canggih. Sistem ini dirancang untuk memicu respons “lawan atau lari”. Hal ini membantu kita menghadapi ancaman dengan cepat. Sehingga meningkatkan peluang kita untuk bertahan dalam situasi bahaya.
Dalam proses ini, otak kita telah menjadi sangat peka terhadap informasi negatif atau yang berpotensi mengancam. Ketika kita melihat atau mengalami sesuatu yang bisa dianggap berbahaya, otak kita segera mengintensifkan perhatian kita pada hal tersebut. Pada saat yang sama, mengaktifkan reaksi emosional seperti rasa takut atau cemas.
3. Dampak Negatif dari Respons Evolusioner Ini
Walaupun sistem pemrosesan ancaman kita memiliki peran penting dalam melindungi kita dari bahaya. Sayangnya, kadang-kadang respons ini malah bisa menjadi berlebihan. Ketika kita menghadapi situasi yang kurang berbahaya atau bahkan tidak berbahaya sama sekali. Maka otak kita bisa keliru mengartikan peristiwa tersebut sebagai ancaman serius. Yang pada akhirnya menyebabkan kita berpikir katastrofik.
Misalnya, ketika kamu menerima kritik dari atasan atau teman kerja. Maka otakmu mungkin secara insting meresapi hal ini sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidupmu. Akibatnya, pikiran katastrofik mulai bermunculan, seperti mengira kamu akan dipecat atau dipermalukan di depan orang lain.
Baca juga: Bagaimana penderita Prosopagnosia menjalani Kehidupan Sosialnya sehari hari? Tantangan dan Strategi Menghadapinya
Faktor Lingkungan: Pengalaman dan Kondisi Hidup

Sebagai manusia, kita dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan kita dalam menentukan bagaimana kita berpikir, merasa, dan bertingkah laku. Kecenderungan berpikir katastrofik tidak terkecuali. Berikut ini adalah beberapa cara di mana pengalaman dan kondisi hidup kita mempengaruhi pola pikir katastrofik:
1. Pengalaman Traumatis dan Waspada
Pengalaman traumatis, seperti kehilangan orang yang dicintai, kecelakaan, atau kejadian yang mengancam keselamatan, dapat meninggalkan jejak pada otak kita. Setelah mengalami trauma, kita mungkin menjadi lebih waspada dan peka terhadap ancaman. Hal ini karena otak kita mencoba melindungi kita dari mengalami pengalaman yang serupa.
Namun, dampak yang lebih jangka panjang dari pengalaman traumatis dapat menciptakan “hipervigilansi” atau keadaan terus-menerus mencari ancaman. Ini meningkatkan peluang kita untuk berpikir katastrofik, bahkan ketika menghadapi peristiwa yang relatif tidak berbahaya.
2. Lingkungan Stres dan Ketidakpastian
Tumbuh dan hidup dalam lingkungan yang penuh tekanan atau ketidakpastian juga dapat mengajarkan kita untuk berpikir katastrofik. Anak-anak yang tumbuh dalam rumah tangga yang tidak aman seperti kondisi ekonomi yang sulit. Mungkin merasa perlu mengantisipasi berbagai skenario terburuk untuk melindungi diri mereka dari situasi yang tidak diinginkan.
Namun dalam jangka panjang, kebiasaan ini untuk melihat sisi negative. Karena berfokus pada ancaman potensial dapat membuat kita lebih rentan terhadap kecemasan, stres, dan depresi.
3. Pendidikan dan Komunikasi dalam Lingkungan Hidup
Cara kita diajari untuk berpikir dan berkomunikasi dalam keluarga, lingkungan sosial, atau budaya juga mempengaruhi kecenderungan kita untuk berpikir katastrofik. Jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang sering menekankan masalah, mengeluh, dan memperbesar risiko. Maka kita mungkin belajar untuk meniru pola pikir ini dalam kehidupan kita sendiri.
Faktor Psikologis: Kepribadian dan Pola Pikir

Kepribadian dan pola pikir kita sangat mempengaruhi cara kita memandang dan bereaksi terhadap peristiwa di dunia sekitar kita. Ini termasuk kecenderungan untuk berpikir katastrofik. Berikut adalah beberapa aspek kepribadian dan pola pikir yang berhubungan dengan pemikiran ini:
1. Neurotisisme dan Kecemasan
Neurotisisme adalah salah satu faktor kepribadian utama yang sering dikaitkan dengan pemikiran katastrofik. Orang dengan skor tinggi dalam neurotisisme cenderung mengalami emosi negative. Seperti kecemasan, depresi, dan marah lebih sering dan lebih intens.
Ketika menghadapi situasi yang menantang atau menekan, individu yang neurotik mungkin lebih cenderung berpikir katastrofik. Mereka mungkin melihat peristiwa atau situasi melalui “lensa” yang lebih negatif dan merespons dengan rasa takut atau cemas yang berlebihan.
2. Pola Pikir Pessimis
Pola pikir juga mempengaruhi kecenderungan kita untuk berpikir katastrofik. Orang yang memiliki pola pikir pesimistis cenderung melihat dunia dalam cara yang lebih negative. Sehingga sering kali memperkirakan hasil terburuk dalam berbagai situasi.
Pikiran ini tidak hanya memicu pikiran katastrofik, tetapi juga dapat menghasilkan siklus negative. Dimana pemikiran negatif memperkuat dirinya sendiri, memperburuk stres dan kecemasan.
3. Faktor Genetik dan Biologis
Selain faktor psikologis dan lingkungan, faktor genetik dan biologis juga bisa mempengaruhi bagaimana kita berpikir dan merespon situasi. Misalnya, individu dengan predisposisi genetik untuk gangguan suasana hati atau kecemasan mungkin lebih cenderung untuk berpikir katastrofik. Skor tinggi dalam ciri seperti neurotisisme juga bisa sebagian dipengaruhi oleh faktor genetik.
Secara keseluruhan, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa otak kita cenderung berpikir katastrofik. Dengan mengetahui dan memahami kecenderungan ini, kita dapat mulai mengidentifikasi situasi atau pikiran yang melatarbelakangi pola pikir kita. Sehingga kita bisa mulai bekerja untuk mengendalikannya.
Baca juga: Apa Itu Prosopagnosia? Ketika Wajah Tak Lagi Dikenal
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



