Deeptalk.co.id – Fantasi dan imajinasi adalah sesuatu yang membawa manusia ke era modern seperti sekarang. Banyak penemuan-penemuan yang memudahkan hidup manusia yang berawal dari sebuah renungan dan lamunan. Namun bagaimana jika seseorang terlalu larut dalam lamunannya, dan menghabiskan banyak waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas yang lebih bermanfaat? Kondisi semacam itu dikenal dengan istilah maladaptive daydreaming.
Terlepas dari segala waktu yang dihabiskan akibat maladaptive daydreaming, kondisi tersebut tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Walaupun demikian, kondisi maladaptive daydreaming memiliki banyak kaitan dengan jenis gangguan mental lain. Misalnya pada kondisi dissociative disorder yang sering dikaitkan dengan kondisi maladaptive daydreaming.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang maladaptive daydreaming dan dissociative disorder, serta perbedaan dari keduanya. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental atau perilaku abnormal. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa yang tepat, dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Pengertian Maladaptive Daydreaming

Maladaptive daydreaming adalah kondisi psikologis dimana seseorang terlalu larut dalam imajinasi dan fantasi mereka, sehingga mengalami gangguan atau hambatan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Maladaptive daydreaming berbeda dengan daydreaming (melamun) pada umumnya.
Pada kondisi maladaptive daydreaming, seseorang akan menghabiskan banyak sekali waktu untuk melamun. Bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Berbeda dengan daydreaming normal yang hanya berlangsung beberapa menit saja. Selain itu, dalam kondisi maladaptive daydreaming seseorang juga akan kesulitan untuk kembali ke realitas. Seakan dirinya terus ditarik ke dalam imajinasi dan fantasinya. Sedangkan dalam daydreaming normal seseorang bisa dengan mudah kembali ke realitas dan melakukan aktivitas normal dengan baik.
Kondisi maladaptive daydreaming juga membuat lamunannya disertai dengan aktivitas motorik, seperti mengayun, menggumam, atau berekspresi sesuai dengan narasi yang ada dalam imajinasi dan fantasinya. Individu dengan maladaptive daydreaming juga menjadikan lamunan sebagai pelarian dari stress, tekanan, kesedihan, dan emosi-emosi negatif lainnya.
Baca juga: Maladaptive Daydreaming: Antara Kreativitas dan Disfungsi Psikologis
Pengertian Dissociative Disorder
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968570/original/023314600_1647747998-sage-friedman-HS5CLnQbCOc-unsplash_Fotor.jpg)
Dissociative disorder adalah salah satu jenis gangguan mental yang tercantum dalam DSM-5 (buku pedoman diagnosis gangguan mental). Dissociative disorder umumnya ditandai dengan adanya gangguan pada fungsi mental seseorang, seperti memori, identitas, persepsi, atau kesadaran yang menjadi terganggu atau terpisah.
Dissociative disorder sendiri terbagi kedalam beberapa kondisi, yaitu dissociative identity disorder (DID), dissociative amnesia, depersonalization/derealization disorder. Kondisi dissociative disorder ini juga sering dikaitkan dengan kejadian traumatis yang berat atau berulang.
Baca juga: Dampak Maladaptive Daydreaming terhadap Regulasi Emosi dan Kesehatan Mental
Perbedaan Maladaptive Daydreaming dan Dissociative Disorder
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3589199/original/044810600_1633059134-dingzeyu-li-ie8WW5KUx3o-unsplash_1_.jpg)
Maladaptive daydreaming dan dissociative disorder memang sama-sama berhubungan dengan pelarian dari realitas. Selain itu keduanya juga sama-sama memiliki kaitan kuat dengan trauma atau stress psikologis. Serta masih banyak lagi kesamaan antara maladaptive daydreaming dengan dissociative disorder. Namun diantara banyaknya kesamaan kedua kondisi ini, maladaptive daydreaming dan dissociative disorder tetaplah dua kondisi yang berbeda. Untuk melihat perbedaan antara keduanya, bisa dilihat dari beberapa hal berikut:
Konten pengalaman
Fantasi dan imajinasi pada penderita maladaptive daydreaming berisi cerita, karakter, atau plot yang dikembangkan dan dipelihara secara sadar atau tidak sadar. Selain itu, penderita dissociative disorder umumnya menyadari bahwa semua itu hanyalah imajinasi atau fantasi belaka.
Berbeda dengan kondisi dissociative disorder dimana pengalaman akan dikaitkan dengan fragmentasi memori, identitas, atau realitas (mis. amnesia, “switching” identitas, derealization). Hal tersebut juga tidak selalu berkaitan dengan fantasi jangka panjang.
Kesadaran dan kembali
Dalam kasus maladaptive daydreaming, penderita tetap sadar bahwa dirinya sedang larut dalam imajinasi dan fantasi mereka. Mereka juga tetap memiliki kontrol untuk masuk atau keluar dari lamunannya. Meskipun hal tersebut bisa terasa kompulsif dan sulit dihentikan.
Sedangkan dalam kasus dissociative disorder, pengalaman bisa berupa hilangnya kesadaran terhadap aspek identitas/memori, bukan sekadar “mengalih perhatian” tetapi kehilangan kontinuitas diri. Artinya, pada kondisi ini individu benar-benar kehilangan kontrol akan dirinya sendiri.
Fungsi atau tujuan psikologis
Kondisi maladaptive daydreaming lebih berfungsi sebagai pelarian atau pengaturan emosi, untuk mendapatkan ketenangan atau kedamaian jiwa akibat tekanan berlebih. Sedangkan kondisi dissociative daydreaming merupakan mekanisme protektif terhadap trauma ekstrem atau merupakan cara psikis memisahkan pengalaman menyakitkan agar individu tetap fungsional atau bertahan.
Gangguan fungsi dan klinis
Kondisi maladaptive daydreaming memicu gangguan fungsi sosial, menyita banyak waktu, serta menurunkan produktivitas penderitanya. Terlepas dari semua gangguan yang ditimbulkan, kondisi ini belum tercantum dalam DSM-5 sebagai sebuah gangguan psikologis, namun ada pada instrumen pengukuran.
Sedangkan kondisi dissociative disorder bisa memicu implikasi klinis yang lebih berat, seperti kehilangan memori autobiografis, identitas terfragmentasi, risiko fungsi sosial/pekerjaan terganggu. Selain itu, dissociative disorder juga tercantum jelas dalam DSM-5 sebagai sebuah gangguan mental.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai kondisi maladaptive daydreaming dan dissociative disorder. Jika kamu mengalami gejala dari salah satu kondisi tersebut. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Maladaptive Daydreaming dan Hubungannya dengan Gangguan Kecemasan
Sumber:
Somer, E., Lehrfeld, J. M., Bigelsen, J., & Ross, C. A. (2016). Development and validation of the Maladaptive Daydreaming Scale (MDS). Consciousness and Cognition, 42, 1–14.
Somer, E., Soffer-Dudek, N., & Ross, C. A. (2016). Maladaptive daydreaming: Proposed diagnostic criteria and their assessment with a structured clinical interview. (Proposed diagnostic criteria PDF).
Bigelsen, J., Lehrfeld, J., Jopp, D., & Somer, E. (2016). Maladaptive daydreaming: Evidence for an under-researched syndrome. Journal of Nervous and Mental Disease, 204(9), 710–717.
Soffer-Dudek, N. (2018). Trapped in a daydream: Daily elevations in maladaptive daydreaming are associated with sleep disturbance, psychiatric symptoms, and dissociation. Frontiers in Psychiatry, 9, 194.
Ross, C. A., & kolega (2020). Maladaptive daydreaming, dissociation, and the dissociative disorders. (Review / integrative article). [Open access review].
Spiegel, D., Loewenstein, R. J., Lewis-Fernández, R., Sar, V., Simeon, D., Vermetten, E., & others. (2013). Dissociative disorders in DSM-5. Annual Review of Clinical Psychology, 9, 299–326.
Pietkiewicz, I. J., & colleagues. (2018). Maladaptive daydreaming as a new form of behavioral addiction: A qualitative study. Journal of Behavioral Addictions, 7(3), 1–12.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



