Deeptalk.co.id – Fantasi dan imajinasi memang banyak melahirkan ide-ide baru yang inovatif dan mampu merubah dunia. Dari imajinasi juga manusia bisa ada di era modern seperti sekarang. Meski demikian, fantasi dan imajinasi ini tetap tidak boleh berlebihan. Pasalnya, apapun yang berlebihan tentu bisa mendatangkan dampak negatif.
Melamun cara untuk masuk ke dunia fantasi dan imajinasi. Sedangkan melamun yang berlebihan atau yang dikenal dengan maladaptive daydreaming justru bisa membuat seseorang terlalu larut dalam imajinasi dan fantasi, bahkan kesulitan untuk kembali ke realitas.
Lantas, bagaimana jadinya jika seseorang mengalami kondisi maladaptive daydreaming? Apakah bisa berdampak pada kehidupan dan produktivitas orang tersebut? Artikel kali ini akan secara khusus membahas pengaruh maladaptive daydreaming terhadap relasi sosial, produktivitas, dan kehidupan penderitanya.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental atau timbul perilaku abnormal. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Dampak yang Ditimbulkan Oleh Kondisi Maladaptive Daydreaming

Walaupun maladaptive daydreaming tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Namun kondisi satu ini bisa memberikan berbagai dampak bagi kehidupan penderitanya. Berikut beberapa dampak yang ditimbulkan oleh maladaptive daydreaming:
Dampak pada fungsi sehari-hari
Dampak yang paling nyata dari kondisi maladaptive daydreaming adalah terganggunya fungsi sehari-hari penderita. Misalnya waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, atau melakukan pekerjaan rumah, justru habis karena melamun. Terlebih lagi melamun bagi penderita maladaptive daydreaming bisa berlangsung dalam berjam-jam, dan kesulitan untuk kembali ke realitas.
Dampak interpersonal dan sosial
Kondisi maladaptive daydreaming ini juga bisa mengganggu aktivitas sosial dan interpersonal seseorang. Pada individu dengan maladaptive daydreaming, mereka sering menggunakan lamunan sebagai pengganti interaksi dengan manusia. Hal tersebut meningkatkan intensitas menarik diri, isolasi sosial, dan kesulitan mempertahankan relasi dengan rekan kerja maupun pasangan.
Dampak emosional dan regulasi emosi
Tidak jarang kondisi maladaptive daydreaming ini juga berdampak pada kondisi emosional dan kemampuan regulasi emosi penderitanya. Maladaptive daydreaming sering dijadikan koping untuk menghindari atau meredakan kecemasan, kesepian, maupun trauma masa lalu. Sayangnya, langkah tersebut justru bersifat impulsif dan tidak menyelesaikan penyebab stress. Dalam beberapa penelitian, maladaptive daydreaming juga bisa mengurangi kemampuan regulasi emosi dan membuat kondisi emosional menjadi tidak stabil atau sulit dikontrol.
Dampak terhadap kognisi dan perhatian
Kondisi maladaptive daydreaming juga bisa berdampak pada kemampuan kognisi dan perhatian seseorang. Maladaptive daydreaming dapat menyerupai atau berinteraksi dengan gangguan perhatian. Beberapa orang dengan karakteristik maladaptive daydreaming juga memenuhi kriteria ADHD atau kesulitan eksekutif, seperti perencanaan, mengatur tugas, atau sustain attention.
Adiktif dan kompulsif
Banyak penderita maladaptive daydreaming menunjukan kesulitan untuk keluar dari imajinasinya, dan seakan terus tertarik untuk larut dalam imajinasinya. Hal tersebut mirip dengan perilaku adiktif. Tidak sedikit dari mereka yang seakan menunjukan kebutuhan besar untuk berfantasi atau sebagai aspek kompulsif. Hal semacam itu membuat penderita maladaptive daydreaming semakin sulit untuk keluar dari kondisi tersebut.
Dampak terhadap kesehatan fisik
Perlu diingat bahwa kondisi mental dan fisik saling mempengaruhi satu sama lain. Artinya, kondisi maladaptive daydreaming juga bisa mempengaruhi kondisi fisik penderitanya. Biasanya penderita maladaptive daydreaming sering mengalami susah tidur atau mengurangi waktu tidurnya, mengurangi perawatan diri (olahraga dan makan), yang pada akhirnya berdampak pada berbagai gangguan fisik lainnya.
Resiko klinis serius
Walaupun tidak termasuk kategori gangguan mental, namun kondisi maladaptive daydreaming memiliki komordibitas yang tinggi. Artinya, penderita maladaptive daydreaming sangat mungkin mengalami komplikasi dengan berbagai masalah kesehatan lain yang lebih serius. Misalnya kondisi ADHD, depresi, OCD, dan lain sebagainya.
Baca juga: Strategi Psikoterapi untuk Mengatasi Maladaptive Daydreaming
Alasan Maladaptive Daydreaming Berdampak Besar Terhadap Kehidupan
Dari penjelasan di atas bisa diketahui bagaimana kondisi maladaptive daydreaming memberikan berbagai dampak terhadap kehidupan. Hal ini bisa terjadi karena beberapa alasan berikut:
- Fantasi dari maladaptive daydreaming memberikan pelarian emosional jangka pendek dari rasa sakit, kecemasan, dan emosi negatif lainnya. Namun hal tersebut tidak memberikan penyelesaian terhadap masalah, dan justru memperpanjang masalah.
- Fantasi dari maladaptive daydreaming seakan menjadi penguat reward emosional (kenikmatan, kontrol narasi) sehingga perilaku terkuat/berulang (mirip mekanisme kecanduan perilaku).
- Pada sebagian individu, terutama bagi individu dengan riwayat trauma, maladaptive daydreaming berkaitan erat dengan gejala disosiatif. Semua faktor ini menyebabkan interferensi nyata dalam fungsi sehari-hari.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai dampak maladaptive daydreaming dan alasan mengapa maladaptive daydreaming bisa memberikan dampak tersebut. Jika kamu mengalami gejala maladaptive daydreaming. Cobalah mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Perbandingan Maladaptive Daydreaming dengan Dissociative Disorders
Sumber:
Somer, E. (2002). Maladaptive daydreaming: A qualitative inquiry. Journal of Contemporary Psychotherapy, 32(2), 197–212.
Somer, E., Lehrfeld, J., Bigelsen, J., & Jopp, D. S. (2016). Development and validation of the Maladaptive Daydreaming Scale (MDS). Consciousness and Cognition, 39, 77–91.
Somer, E., Soffer-Dudek, N., Ross, C. A., & Halpern, N. (2017). The comorbidity of daydreaming disorder (maladaptive daydreaming). The Journal of Nervous and Mental Disease.
Soffer-Dudek, N. (2022). Maladaptive daydreaming: Epidemiological data and clinical implications.
Ross, C. A., Ridgway, J., & George, N. (2020). Maladaptive daydreaming, dissociation, and the dissociative disorders. Psychiatric Research and Clinical Practice, 2(2), 53–61.
Cleveland Clinic. (n.d.). Maladaptive daydreaming: What it is, symptoms & treatment. Retrieved from Cleveland Clinic patient resources.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



