Deeptalk.co.id – Stres adalah sebuah kenyataan yang tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari, dan seringkali kita mencari cara yang efektif untuk melepaskan tekanan yang terakumulasi. Salah satu cara yang mungkin tidak terduga namun cukup efektif adalah berteriak. Berteriak mungkin bukanlah bentuk pemecahan masalah yang umum atau dianggap elegan, namun, dalam dunia yang penuh tekanan dan stres, berteriak dapat menjadi cara yang cukup efektif untuk melepaskan ketegangan yang terakumulasi.
Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi sisi unik dari melepaskan stres melalui tindakan berteriak, yang mungkin tampak kontraintuitif pada pandangan pertama. Dengan menggali dampak psikologis dan fisik dari berteriak sebagai bentuk pelampiasan emosional, kita dapat merinci cara ini mungkin memberikan rasa lega dan katharsis dalam menghadapi tekanan hidup.
Teriak Dapat Meredakan Stres

Sudah banyak solusi yang ditawarkan untuk mengatasi stres, mulai latihan mindfulness, resep teh yang menenangkan, musik yang menenangkan, beragam aplikasi pengurang stres, atau bahkan menggunakan obat-obatan. Namun, ada juga salah satu cara sederhana dan tidak terlalu rumit untuk dilakukan dalam mengurangi stres yakni dengan berteriak.
Telah ada beragam penelitian yang melakukan uji mengenai teriakan yang dapat membuat perasaan menjadi lebih tenang, berteriak dipercaya kebanyakan orang dapat mengurangi stres. Salah satunya penelitian survei dari Washington Post-UMass Lowell yang mengindikasikan bahwa para penggemar olahraga ‘selalu’ berteriak ke TV saat menonton pertandingan olahraga.
Salah satu responden survei tersebut pun menyatakan bahwa berteriak yang dirasa benar-benar konyol, nyatanya bisa membuat dirinya menjadi terasa lebih baik. Meskipun kemarahan pada tim menang atau kalah di layar tidak akan mengubah hasil, namun berteriak ke TV dan mengungkapkan bahwa rasa frustasi itu bersifat melegakan dan membantu.
Selain pada para penggemar olahraga, ternyata banyak universitas atau perguruan tinggi di Kanada dan Amerika Serikat telah mendorong mahasiswanya untuk berteriak keras. Ini dilakukan karena berteriak dapat membantu mereka menghilangkan stres akibat ujian akhir. Berteriak dapat membantu mereka merasa lebih baik, meski hanya sementara.
Fenomena ini juga ditunjukkan oleh Charles Darwin pada tahun 1872 bahwa pola dasar jeritan tersebar luas di seluruh spesies hewan. Pola tersebut selalu digunakan untuk menyampaikan gairah emosional. Apakah seorang hewan sedang ketakutan atau tidak bisa manusia nilai berdasarkan suara yang dihasilkannya, penelitian menyebutkan.
Efek neurokimia dan fisiologis dari berteriak tidak terletak pada tindakan itu sendiri, melainkan pada kelegaan setelahnya. Serangan endorfin dan peptida yang diproduksi di kelenjar pituitari dan sistem saraf pusat. Ini bekerja pada reseptor otak untuk meningkatkan kesenangan, mengurangi rasa sakit, dan meningkatkan kekuatan. Berteriak membuat tubuh menjadi lebih waspada dan membantu melepaskan ketegangan otot akibat emosi yang terpendam.
Selain itu, berteriak menciptakan reaksi kimia yang mirip dengan yang dialami saat olahraga. Ini membuat tubuh mendapatkan serangan dopamin dan pelepasan endorfin. Sehingga dengan demikian, berteriak dapat membantu melepaskan penumpukan kortisol sebagai hormon stres utama.
Baca juga: Jenis-Jenis Gangguan Kepribadian yang Berkaitan Dengan Dark Empath
Bisa Menjadi Metode Terapi

Berawal dari tahun 1970 ketika psikolog dan psikoterapis Amerika, Dr. Arthur (Art) Janov, pertama kali menyarankan pengobatan untuk penyakit mental yang dikenal sebagai Terapi Primal atau jeritan/teriakan. Beberapa profesional melihatnya sebagai intervensi yang bermanfaat. Ada pula yang masih memandangnya sebagai hal yang tidak lazim dan kontroversial.
Terapi Janov didasarkan pada teori bahwa ingatan yang ditekan sebenarnya dapat digunakan untuk mengobati kondisi penyakit mental, termasuk stres. Ia terketuk untuk menciptakan terapi primal ini dari pengalamannya saat menyaksikan teriakan menakutkan yang terdengar dari dalam diri seorang pria muda yang tergeletak di lantai.
Sehingga ia pun memandang bahwa kenangan menyakitkan yang tidak diungkapkan akan memberikan tekanan yang tidak perlu pada tubuh dan jiwa seseorang. Ini dapat mengakibatkan penyakit fisik dan mental. Janov pun percaya bahwa terapi dasar seperti dengan berteriak dapat membantu mengatasi penyebab utama rasa sakit yang tertekan dan membantu meredakan gejala stres dan penyakit mental.
Dari adanya terapi primal atau jeritan ini, banyak juga profesional kesehatan yang kemudian menyarankan untuk menganggap berteriak sebagai aktivitas sehari-hari pada umumnya untuk menghilangkan stres. Ini mungkin bisa dianggap mirip dengan jogging, tinju, atau meremas bola stres.
Namun tentunya Anda tidak selalu bisa berteriak sesuka hati Anda di tempat mana pun. Akan lebih bijak jika Anda juga bisa mengendalikannya agar orang lain juga tidak merasa terganggu. Anda mungkin bisa berteriak dengan lepas di tempat-tempat tertentu seperti di mobil Anda, puncak gunung, pantai, atau taman di pagi hari saat belum ramai dengan orang-orang.
Jika tidak satu pun dari pilihan ini yang masuk akal, berteriak panjang dan keras di atas bantal bisa menjadi terapi yang sama. Tidak seperti membentak seseorang karena marah atau frustrasi ketika seseorang kehilangan kendali atas emosinya, berteriak untuk pertama kali adalah aktivitas yang terkendali dan terencana.
Tak perlu mempermasalahkan tentang panjang dan volume teriakan, Anda hanya mencoba melepaskan stres. Berteriaklah sekeras yang Anda mau, selama yang Anda mau, dan sesuka Anda. Selama Anda merasa lega setelahnya, itu yang terpenting.
Baca juga: Pseudodementia Pada Lansia : Strategi Perawatan dan Pendekatan Holistik
Sumber:
https://www.theswaddle.com/screaming-relieves-stress-rage-can-it-be-therapeutic
https://www.theravive.com/today/post/go-ahead-and-scream-0003123.aspx
https://www.inverse.com/article/35258-screaming-primal-therapy-science
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



