Semua artikel
Emosi

Mekanisme Regulasi Emosi pada Individu dengan Gangguan Kecemasan: Tinjauan Psikologis

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Regulasi emosi adalah salah satu kemampuan yang perlu untuk diasah. Pasalnya, kemampuan yang satu ini memang memberikan banyak sekali manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Uniknya, kemampuan regulasi emosi yang baik juga bisa membantu penderita gangguan kecemasan.

Regulasi emosi sendiri merupakan kemampuan individu dalam memantau, mengevaluasi, dan memodifikasi reaksi emosional mereka agar sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi. Artinya, seseorang dengan kemampuan regulasi emosi yang baik tidak akan mudah tersulut emosi, apa lagi melakukan hal-hal yang menimbulkan bahaya untuk orang lain maupun diri sendiri.

Artikel kali ini akan secara khusus membahas mekanisme regulasi emosi pada penderita gangguan kecemasan. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami masalah kesehatan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Pengertian Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan adalah salah satu gangguan mental yang ditandai dengan perasaan cemas, khawatir, atau takut berlebih terhadap objek atau situasi tertentu. Gangguan kecemasan juga merupakan salah satu gangguan mental yang telah dialami oleh banyak orang. Maka tidak heran jika gangguan ini menjadi perhatian serius bagi para intelek psikologis.

Gangguan kecemasan berbeda dengan kecemasan pada umumnya. Meski demikian, gejala awal gangguan kecemasan memang memiliki kemiripan dengan kecemasan. Terlepas dari itu, gangguan kecemasan memiliki intensitas yang lebih sering, durasi yang lebih lama, dan yang utama adalah mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari.

Penderita gangguan kecemasan umumnya mengalami beberapa hal berikut:

Menghindari emosi negatif

Penderita gangguan kecemasan umumnya menghindari emosi negatif, alih-alih menghadapi dan mencari solusi dari pemicu emosi negatif tersebut. Sayangnya, langkah ini justru memperkuat kecemasan dalam jangka panjang.

Penilaian negatif terhadap emosi pribadi

Penderita gangguan kecemasan umumnya selalu menilai negatif akan emosi yang dirasakan. Padahal, emosi negatif maupun positif bisa dilihat dengan sudut pandang yang baik. Justru, penilaian negatif terhadap emosi pribadi ini bisa memicu rasa takut akan emosi pribadi, yang ujungnya memperparah kondisi emosionalnya.

Kesulitan memahami dan mengidentifikasi emosi

Penderita gangguan kecemasan juga cukup sering mengalami kesulitan untuk memahami dan mengidentifikasi emosi mereka. Padahal, kemampuan memahami dan mengidentifikasi emosi ini bisa membantu dalam proses pemulihan atau terapi yang dijalani.

Menggunakan strategi yang tidak efektif

Dalam banyak kasus, penderita gangguan kecemasan cenderung menggunakan strategi-strategi yang tidak efektif untuk proses pemulihannya. Misalnya dengan rumination (merenung berlebihan), suppression (menekan emosi), atau avoidance (menghindari situasi).

Baca juga: Kecerdasan Emosional dan Regulasi Diri: Pendekatan Psikologi Positif

Strategi Regulasi Emosi untuk Menunjang Intervensi Penderita Gangguan Kecemasan

Jika diperhatikan dengan seksama, banyak sekali intervensi psikologis yang mengajarkan kita untuk melatih kemampuan regulasi emosi. Misalnya pada terapi perilaku kognitif atau CBT. Intervensi psikologi semacam ini juga banyak diaplikasikan pada penderita gangguan kecemasan. Tujuannya adalah untuk membantu penderita meminimalisir timbulnya kecemasan, dan mengatur emosi dengan baik.

Berikut beberapa strategi regulasi emosi yang bisa menunjang intervensi pada penderita gangguan kecemasan:

Reappraisal (restrukturisasi kognitif)

Pertama adalah reappraisal atau restrukturisasi kognitif, yaitu upaya untuk merubah cara pandang terhadap situasi agar tidak dipandang terlalu mengancam untuk diri sendiri. Jika kita bisa memandang situasi dengan perasaan tidak terancam, kita bisa lebih baik dalam mengatur emosi. Termasuk mengatur respon terhadap situasi tersebut.

Mindfulness

Kedua bisa dengan melatih atau membiasakan diri mempraktekan teknik mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. Mindfulness sendiri adalah upaya untuk menjaga kesehatan mental dengan memfokuskan diri terhadap apa yang terjadi saat ini, menerima, dan tidak menghakimi situasi atau perasaan yang ada.

Mempraktekan teknik mindfulness bukan berarti mengabaikan emosi-emosi negatif yang dirasakan. Melainkan dengan menyadari, memahami, dan memproses emosi tersebut sehingga mampu memberikan respon yang bijak dan bisa diterima dengan baik oleh diri sendiri dan orang-orang disekitar.

Acceptance (penerimaan)

Ketiga bisa dengan acceptance atau penerimaan, yaitu upaya untuk menerima setiap emosi, baik itu emosi positif maupun emosi negatif. Perlu diingat bahwa setiap emosi itu normal untuk dirasakan. Namun, tinggal bagaimana kita mengekspresikan emosi tersebut dengan baik. Tentunya masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu diri sendiri maupun orang disekitar.

Itu dia sedikit penjelasan tentang mekanisme regulasi emosi pada individu dengan gangguan kecemasan. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik bisa membantu intervensi pada penderita gangguan kecemasan.

Jika kamu merasa mengalami gejala gangguan kecemasan, atau kesulitan dalam melatih kemampuan regulasi emosi. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat,

Baca juga: Peran Regulasi Emosi dalam Perkembangan Anak dan Remaja

 

Sumber:

Gross, J. J. (2002). Emotion Regulation: Affective, Cognitive, And Social Consequences. Psychophysiology, 39(3), 281–291. https://doi.org/10.1017/S0048577201393198.

Cisler, J. M., Olatunji, B. O., Feldner, M. T., & Forsyth, J. P. (2010). Emotion Regulation And The Anxiety Disorders: An Integrative Review. Journal of Psychopathology and Behavioral Assessment, 32(1), 68–82. https://doi.org/10.1007/s10862-009-9161-1.

Mennin, D. S., Holaway, R. M., Fresco, D. M., Moore, M. T., & Heimberg, R. G. (2007). Delineating Components Of Emotion And Its Dysregulation In Anxiety And Mood Psychopathology. Behavior Therapy, 38(3), 284–302. https://doi.org/10.1016/j.beth.2006.09.001.

Etkin, A., & Wager, T. D. (2007). Functional Neuroimaging Of Anxiety: A Meta-Analysis Of Emotional Processing In PTSD, Social Anxiety Disorder, And Specific Phobia. American Journal Of Psychiatry, 164(10), 1476–1488. https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2007.07030504.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Mekanisme Regulasi Emosi pada Individu dengan Gangguan Kecemasan: Tinjauan Psikologis — DeepTalk