Deeptalk.co.id – Secara umum manusia memiliki kontrol terhadap emosi mereka. Saat dalam keadaan stress atau hadapi tekanan di luar kemampuannya, manusia mampu untuk mengontrol hal tersebut. Kemampuan semacam ini dikenal dengan istilah mekanisme koping, atau coping mechanism.
Tekanan dalam hidup tentu cukup beragam. Tidak jarang tekanan tersebut justru datang dari lingkungan kita. Terlebih lagi di era modern ini tidak sedikit individu yang mengalami isolasi sosial yang dipicu oleh berbagai faktor. Isolasi sosial ini juga bisa menjadi salah satu bentuk tekanan psikologis yang cukup serius.
Lantas, apakah mekanisme koping bisa dilakukan saat individu menghadapi isolasi sosial? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa didapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Mekanisme Koping dalam Isolasi Sosial

Isolasi sosial adalah kondisi dimana individu mendapatkan sedikit sekali interaksi sosial atau tidak memiliki kedekatan emosional dengan orang-orang disekitarnya. Isolasi sosial bisa memicu berbagai dampak psikologis, seperti stress kronis, depresi, kecemasan, gangguan tidur, penurunan fungsi kognitif, dan masih banyak lagi.
Mekanisme koping adalah proses psikologis dimana individu memiliki kemampuan untuk mengelola stress, tekanan, atau tuntutan internal maupun eksternal yang melebihi batas kemampuannya. Dalam konteks sosial, mekanisme koping justru membantu individu dalam menjaga keseimbangan emosional dan mental mereka. Dengan demikian, mekanisme koping bisa dilakukan saat individu mengalami isolasi sosial.
Baca juga: Isolasi Sosial dan Kesehatan Mental: Antara Kesepian dan Gangguan Psikologis
Jenis-Jenis Mekanisme Koping dalam Isolasi Sosial

Jenis mekanisme koping pada dasarnya cukup beragam. Namun, dalam konteks isolasi sosial jenis mekanisme koping yang sering dilakukan adalah sebagai berikut:
Problem focused coping
Seperti namanya, problem focused coping adalah jenis mekanisme koping yang cenderung menghadapi masalah secara langsung. Jenis mekanisme koping yang satu ini biasanya dilakukan oleh individu yang yakin bahwa dirinya mampu menghadapi masalah, mengubah, dan mengontrol situasi. Misalnya, individu yang mengalami isolasi sosial akan mencari cara untuk kembali terkoneksi dengan lingkungan sosial. Bisa melalui sosial media, bergabung dalam komunitas, dan lain sebagainya.
Emotion focused coping
Jenis mekanisme koping kedua adalah emotion focused coping, yaitu kemampuan menghadapi tekanan dengan fokus terhadap emosi negatif yang muncul akibat isolasi sosial. Jenis mekanisme koping yang satu ini dilakukan oleh orang-orang yang merasa tidak bisa lepas dari situasi tersebut, seperti saat pandemi atau karantina. Contoh dari emotion focused coping adalah individu yang memilih untuk melakukan meditasi, menulis jurnal, menonton film, dan lain sebagainya, sebagai bentuk pelarian dari dampak yang dirasakan saat menghadapi isolasi sosial.
Meaning focused coping
Jenis mekanisme koping ketiga dalam kasus isolasi sosial adalah meaning focused coping, yaitu upaya untuk menggunakan makna atau nilai sebagai sumber kekuatan. Misalnya dengan menemukan makna dari kesendirian yang sedang dijalani, menumbuhkan rasa syukur secara spiritualitas, atau melakukan refleksi diri untuk tumbuh secara pribadi.
Social support seeking
Jenis mekanisme koping keempat dalam kasus isolasi sosial adalah social support seeking, yaitu kondisi dimana individu yang terisolasi secara fisik namun masih bisa mendapatkan dukungan secara emosional dan instrumental. Secara emosional bisa dengan saling berbagi perasaan dengan orang lain, secara instrumental bisa dengan meminta bantuan nyata kepada orang lain. Dukungan sosial yang didapatkan mampu menurunkan stress dan meningkatkan resiliensi diri.
Baca juga: Strategi Mengatasi Confirmation Bias: Melatih Pikiran Kritis dan Kesadaran Diri
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Koping

Terlepas dari semua jenis mekanisme koping yang bisa dilakukan saat sedang mengalami isolasi sosial, semua itu bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dimana faktor-faktor tersebut bisa menjadi penungnya keberhasilan atau kegagalan dari mekanisme koping yang berlangsung. Faktor tersebut diantaranya:
- Kepribadian, dimana individu dengan kepribadian ekstrovert bisa mengalami dampak emosional yang lebih besar saat mengalami isolasi sosial dibandingkan kepribadian introvert.
- Dukungan sosial, dimana individu yang memiliki dukungan sosial positif dari orang-orang terdekatnya bisa berpotensi lebih besar akan keberhasilan dari mekanisme koping yang dilakukan.
- Kemampuan regulasi emosi, dimana individu dengan kemampuan regulasi emosi yang baik mampu mengontrol kondisi emosional mereka demi menunjang keberhasilan mekanisme koping yang dilakukan.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai mekanisme koping pada individu yang menghadapi isolasi sosial. Jika kamu mengalami isolasi sosial dan kesulitan untuk keluar dari situasi tersebut, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Confirmation Bias dan Proses Rekrutmen: Ketika Perekrut Salah Menilai Kandidat
Sumber:
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. Springer Publishing Company.
Cacioppo, J. T., & Cacioppo, S. (2014). Social relationships and health: The toxic effects of perceived social isolation. Social and Personality Psychology Compass, 8(2), 58–72.
Matthews, T., Danese, A., Caspi, A., Fisher, H. L., Goldman-Mellor, S., Kepa, A., ... & Arseneault, L. (2016). Lonely young adults in modern Britain: findings from an epidemiological cohort study. Psychological Medicine, 46(1), 135-146.
Park, C. L., & Folkman, S. (1997). Meaning in the context of stress and coping. Review of General Psychology, 1(2), 115–144.
Taylor, S. E. (2011). Social support: A review. In H. S. Friedman (Ed.), The Oxford Handbook of Health Psychology (pp. 189–214). Oxford University Press.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



