Deeptalk.co.id – Teknologi pada dasarnya memang diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Namun disisi lain, teknologi juga menghadirkan masalah baru bagi manusia itu sendiri. Misalnya dalam kasus isolasi sosial yang cukup marak menjadi perbincangan di banyak media. Dimana isolasi sosial ini justru banyak terjadi di era perkembangan teknologi yang seharusnya membantu manusia untuk lebih mudah terhubung.
Isolasi sosial sendiri merupakan kondisi dimana individu memiliki keterbatasan atau bahkan terputusnya koneksi dengan orang lain, baik itu secara fisik maupun emosional. Sedangkan seperti yang kita ketahui, teknologi saat ini memungkinkan kita terhubung bahkan dengan manusia di belahan dunia lain. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas peran teknologi dalam mengurangi dan memperparah isolasi sosial di masyarakat.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut kepada psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Peran Teknologi dalam Mengurangi Isolasi Sosial

Seperti yang sudah dipaparkan di awal, teknologi memang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia, termasuk dalam koneksi atau komunikasi. Maka dari itu, tidak heran jika teknologi seharusnya mampu membantu manusia untuk mengurangi kasus isolasi sosial. Meskipun kembali lagi kepada bagaimana manusia tersebut memanfaatkan teknologi yang ada saat ini. Berikut beberapa peran teknologi dalam mengurangi isolasi sosial:
Memperluas akses komunikasi
Teknologi yang ada saat ini sudah cukup canggih untuk memungkinkan kita berkomunikasi dengan orang secara jarak jauh. Tidak hanya komunikasi melalui pesan teks dan panggilan suara, kita bahkan bisa bertatapan melalui panggilan video dengan sangat jelas. Semua itu tentu bisa mendekatkan kita dengan orang-orang yang jauh, dan mengusir rasa kesepian. Misalnya pada anak yang merantau untuk kerja atau kuliah, orang tua yang tinggal jauh dari anaknya, atau orang-orang dengan keterbatasan mobilitas.
Membuka dukungan online
Sebelum adanya perkembangan teknologi seperti saat ini, kita hanya mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat. Baik itu dukungan secara material maupun dukungan secara psikologis. Saat ini sudah banyak dukungan yang terbuka secara online, baik itu tentang donasi kemanusiaa, hingga kelompok-kelompok dukungan untuk penderita gangguan mental, penyakit kronis, dan lain sebagainya. Dengan demikian, orang-orang bisa memiliki ikatan atau rasa keterhubungan dengan orang lain.
Memfasilitasi aktivitas sosial virtual
Mengingat pandemi COVID-19 kemarin, kita sadar bahwa teknologi sangat membantu dalam menghubungkan kita dengan orang lain. Termasuk dalam memfasilitasi aktivitas sosial secara virtual, misalnya sekolah, pekerjaan, hingga sekedar berhubungan dengan orang-orang terdekat.
Akses layanan kesehatan mental dan konseling online
Teknologi saat ini juga membantu kita untuk lebih mudah mengakses layanan kesehatan mental dan konseling secara online. Misalnya jika kamu mengalami gejala isolasi sosial, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan terhubung dengan psikolog yang ada disana.
Baca juga: Psikologi Pejuang: Mengambil Inspirasi dari Semangat Kemerdekaan untuk Bertahan dalam Krisis Mental
Peran Teknologi dalam Memperparah Isolasi Sosial

Walaupun teknologi memang banyak membantu manusia untuk lepas dari isolasi sosial. Kita tidak pungkiri bahwa teknologi juga bisa menjadi faktor pemicu atau memperparah isolasi sosial. Misalnya dengan beberapa peran berikut:
Interaksi yang minim ikatan emosional
Komunikasi secara online memang mudah untuk dilakukan. Namun disisi lain, komunikasi secara online ini justru minim ikatan emosional. Pada akhirnya, komunikasi yang terjalin tidak seiring dengan hubungan sosial yang semakin erat. Maka tidak heran jika banyak anak muda yang merasa kesepian, walaupun sudah berinteraksi dengan banyak orang di media sosial.
Ketergantungan terhadap media sosial
Media sosial memang banyak sekali menyajikan informasi-informasi menari, yang membuat kita mudah terdistraksi. Hal tersebut memicu ketergantungan bagi banyak orang. Ketergantungan terhadap media sosial ini membuat kita minim interaksi secara langsung di dunia nyata. Tidak jarang juga memicu masalah baru seperti cyberbullying, ketidakpuasan terhadap diri sendiri yang berujung pada rasa kesepian.
Menggantikan hubungan sosial nyata
Saat interaksi virtual menggantikan interaksi secara langsung, seseorang bisa mengalami keterbatasan dalam membangun empati, keintiman, dan dukungan emosional yang biasanya diperoleh dari kontak langsung.
Fragmentasi sosial dan filter bubble
Apa yang muncul di media sosial kita secara tidak langsung sudah diatur oleh sistem yang kita kenal dengan istilah algoritma. Saat algoritma ini sudah terbentuk, cara pandang kita bisa semakin sempit terhadap satu pemikiran saja. Hal tersebut memicu polarisasi sosial, dan mengurangi rasa keterhubungan dengan masyarakat yang lebih luas.
Itu dia sedikit gambaran bagaimana teknologi saat ini bisa menjadi peran ganda dalam kasus isolasi sosial. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Kemerdekaan dan Kolektifitas: Menjaga Kesehatan Mental sebagai Tanggung Jawab Bersama
Sumber:
Anderson, M., & Perrin, A. (2017). Technology use among seniors. Pew Research Center.
Baecker, R., Sellen, K., Crosskey, S., Boscart, V., & Barbosa Neves, B. (2014). Technology to reduce social isolation and loneliness. Proceedings of the 16th international ACM SIGACCESS conference on Computers & accessibility, 27–34. Primack, B. A., Shensa, A., Sidani, J. E., Whaite, E. O., Lin, L., Rosen, D., Colditz, J. B., Radovic, A., & Miller, E. (2017). Social Media Use and Perceived Social Isolation Among Young Adults in the U.S. American Journal of Preventive Medicine, 53(1), 1–8. Seabrook, E. M., Kern, M. L., & Rickard, N. S. (2016). Social Networking Sites, Depression, and Anxiety: A Systematic Review. JMIR Mental Health, 3(4), e50.
Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2018). Associations between screen time and lower psychological well-being among children and adolescents: Evidence from a population-based study. Preventive Medicine Reports, 12, 271–283.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



