Semua artikel
Sosial

Pandemi dan Gelombang Kesepian: Studi Psikologi tentang Isolasi Sosial di Era COVID-19

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Beberapa tahun yang lalu dunia digemparkan dengan kemunculan virus yang cukup serius dan memicu perubahan besar bagi kehidupan sosial manusia. Era tersebut dikenal dengan era COVID-19. Dimana pada akhir tahun 2019 muncul sebuah virus baru dengan penyebaran yang sangat pesat. Sehingga banyak negara yang melakukan pembatasan mobilitas atau social distancing.

Di Indonesia sendiri pembatasan mobilitas ini dikenal dengan istilah “di rumah saja”. Bagi beberapa orang mungkin tidak masalah untuk tidak keluar rumah, namun tidak semua orang seperti itu. Nyatanya, banyak orang yang mengalami peningkatan stress, dan berbagai gangguan psikologis lainnya akibat pembatasan mobilitas ini.

Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai dampak psikologis selama dan setelah pandemi COVID-19. Namun sebelum kita masuk ke topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa didapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Dampak Kesehatan Mental Selama Pandemi COVID-19

Gadis, Anak, Masker, Covid, Muda

Sepanjang pandemi COVID-19 manusia seakan dipaksa untuk membatasi aktivitas sosial mereka. Bahkan untuk bekerja diatur sedemikian rupa agar bisa dilakukan dari rumah. Pemanfaatan media online sebagai penghubung antar manusia sangat meningkat. Namun, banyak juga dampak negatif, terutama dalam hal kesehatan mental. Berikut beberapa dampak kesehatan mental selama pandemi COVID-19:

Peningkatan stress dan kecemasan

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia ada makhluk sosial. Dengan demikian, aktivitas sosial termasuk menjalin komunikasi secara langsung sudah menjadi kebutuhan manusia. Pandemi COVID-19 tentu membatasi aktivitas tersebut. Beberapa orang pada akhirnya mengalami peningkatan stress dan kecemasan. Terutama bagi mereka yang memang menyukai interaksi sosial. Terlepas dari itu, banyak faktor lainnya yang memicu peningkatan stress dan kecemasan, misalnya ketidakpastian ekonomi, ketakutan akan tertular, dan termasuk aktivitas yang terbatas.

Kesepian dan isolasi sosial

Secara tidak langsung, pandemi COVID-19 membuat banyak manusia melakukan isolasi sosial. Hal ini penting untuk menghambat penyebaran virus. Namun bagi beberapa orang, kehilangan kontak dengan keluarga, teman, dan orang-orang terdekat merupakan kondisi yang tidak menyenangkan. Kondisi tersebutlah yang pada akhirnya bisa memicu perasaan kesepian. Kelompok yang paling rentan akan situasi ini adalah para lansia dan kelompok rentan lainnya.

Depresi dan penurunan mood

Beberapa penelitian mengemukakan tentang bagaimana pandemi COVID-19 mampu memicu depresi dan penurunan mood bagi beberapa orang. Kondisi tersebut ada hubungannya dengan kekurangan sinar matahari, serta aktivitas fisik maupun sosial yang berkurang.

Baca juga: Isolasi Sosial dalam Lansia: Antara Realitas Fisik dan Kebutuhan Emosional

Dampak Kesehatan Mental Setelah Pandemi COVID-19

Gadis, Sedih, Putus Asa, Kesepian

Berakhirnya pandemi COVID-19 menjadi kabar bahagia bagi setiap manusia. Namun apakah kondisi tersebut selalu positif? Nyatanya, beberapa orang mengalami beberapa dampak psikologis setelah pandemi COVID-19, misalnya:

Gangguan kesehatan mental persisten

Walaupun pandemi COVID-19 telah berakhir, tidak semua orang mengalami perbaikan kondisi mental. Beberapa orang justru mengalami gangguan mental persisten, jangka panjang, menetap, atau tidak mudah hilang. Misalnya orang-orang yang selama COVID-19 mengalami gangguan stress pasca trauma, kecemasan sosial, atau burnout.

Perubahan pola interaksi sosial

Jika kamu memperhatikan, beberapa pola perilaku manusia ikut berubah antara sebelum dan sesudah pandemi COVID-19, dalam hal ini pola interaksi sosial manusia. Misalnya pada beberapa orang interaksi secara langsung akan lebih nyaman, setelah pandemi COVID-19 interaksi secara online yang lebih menyenangkan. Kondisi semacam ini bisa memicu social withdrawal atau kecemasan sosial.

Ketimpangan kesejahteraan mental

Beberapa penelitian menemukan bahwa dampak psikologis setelah pandemi COVID-19 ini tidak dialami oleh semua orang. Artinya kondisi tersebut bisa memicu ketimpangan kesejahteraan mental di masyarakat. Dalam hal ini, kelompok ekonomi rendah, anak-anak, dan lansia cenderung lebih mengalami dampak psikologi pasca pandemi COVID-19 ini.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai dampak kesehatan mental sebelum dan sesudah pandemi COVID-19. Dapat disimpulkan bahwa pandemi COVID-19 memang menjadi mimpi buruk bagi banyak kalangan. Banyak orang-orang yang kehilangan orang yang dicintainya, sehingga memicu trauma psikologis. Beberapa orang kehilangan pekerjaan dan penurunan finansia, yang berdampak pada stress dan kecemasan. Namun kembali lagi bahwa setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda-beda dalam menghadapi kondisi tersebut.

Kita tidak pernah tahu kapan kondisi semacam itu bisa kembali. Maka dari itu, menjaga dan melatih kesehatan mental merupakan hal yang penting. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Ini Dia Efek Jangka Panjang Isolasi Sosial yang Tidak Mendapatkan Penanganan Sesegera Mungkin

 

Sumber:

Xiong, J. et al. (2020). Impact of COVID-19 pandemic on mental health in the general population: A systematic review. Journal of Affective Disorders, 277, 55-64.

Banerjee, D. & Rai, M. (2020). Social isolation in Covid-19: The impact of loneliness. International Journal of Social Psychiatry, 66(6), 525–527.

Ettman, C. K. et al. (2020). Prevalence of depression symptoms in US adults before and during the COVID-19 pandemic. JAMA Network Open, 3(9), e2019686.

Vindegaard, N., & Benros, M. E. (2020). COVID-19 pandemic and mental health consequences: Systematic review of the current evidence. Brain, Behavior, and Immunity, 89, 531–542.

American Psychological Association (2021). Stress in America™ 2021: Pandemic Impacts.

Pfefferbaum, B., & North, C. S. (2020). Mental Health and the Covid-19 Pandemic. The New England Journal of Medicine, 383, 510-512.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial

 

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Pandemi dan Gelombang Kesepian: Studi Psikologi tentang Isolasi Sosial di Era COVID-19 — DeepTalk