Deeptalk.co.id – Setiap manusia memiliki emosi dan perasaan, dan mereka terhubung satu sama lain akibat adanya perasaan dan emosi tersebut. Sehingga saat Anda melakukan kesalahan dalam mengekspresikan emosi Anda, ini bisa mengundang keterputusan dalam hubungan Anda.
Sebaliknya, mengekspresikan emosi dan perasaan dengan cara yang aman dapat membuat Anda lebih terhubung dengan orang lain, teman, keluarga atau pasangan serta orang yang Anda cintai. Oleh karena itu, mengetahui beberapa kesalahan dalam mengekspresikan emosi dan perasaan ini akan menjadi langkah awal untuk lebih bijaksana lagi.
Apa Kesalahan Paling Umum Saat Mengekspresikan Emosi?

Kesalahan yang sering dilakukan orang ketika mereka mencoba untuk berbagi perasaan adalah dengan mengatakan, “Yang sedang saya rasakan ialah …” Kata ‘yang’ menunjukkan bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya adalah pikiran, bukan perasaan.
Pikiran baik-baik saja untuk dibagikan. Pada saat yang sama, pikiran menyampaikan informasi kering, bukan sari dari apa yang Anda alami di dalam. Perasaan memiliki dampak yang lebih kuat pada ikatan. Jadi, meskipun berbagi pikiran membangun rasa keterhubungan, hubungan itu kurang kuat dibandingkan ketika Anda juga melihat ke dalam diri sendiri dan berbagi perasaan yang Anda temukan di sana: penuh harapan, putus asa, senang, waspada, frustrasi, senang, dll.
Alih-alih mengatakan, “saya merasa…” beberapa orang justru menggunakan frasa “kamu membuatku merasa…”. Dan berikut adalah mengapa hal tersebut salah untuk digunakan ketika mengekspresikan emosi Anda.
1. Tampil Sebagai Tuduhan atau Pernyataan Menyalahkan
Menyatakan perasaan atau emosi, terutama perasaan yang rentan seperti sedih, bingung atau cemas, bisa mengundang sebagian besar pendengar. Justru sebaliknya jika Anda melontarkan pernyataan dengan nada tuduhan pada lawan bicara Anda. Ini tentu tidak menyenangkan dan mengundang sikap defensif serta antagonisme.
Akan berbeda jika Anda mengatakan, “Kamu membuat saya merasa…” yang bisa dianggap menyalahkan dibandingkan dengan “saya merasa…” dengan membawa Anda sebagai fokus yang dibicarakan.
Baca juga: Tipe-Tipe Invalidasi Emosi yang Berbahaya dan Umum Terjadi
2. Melemahkan Diri Sendiri
Mengungkapkan atau mengekspresikan emosi bisa memberikan Anda kekuatan untuk kembali memperbaiki perasaan negatif Anda. Namun, kesalahan yang sering terjadi saat mengekspresikan emosi adalah menggunakan ungkapan yang membuat Anda justru menjadi korban yang tidak berdaya. Ini bisa menimbulkan rasa bersalah atau malu pada pasangan atau lawan bicara Anda, sekaligus membuat Anda lemah.
Sebaliknya, mengawalinya dengan menggunakan frasa “saya merasa…” akan memberikan Anda kekuatan untuk mencari tahu apa yang harus Anda lakukan agar merasa lebih baik. Ini juga bisa memberdayakan Anda karena itu memfokuskan Anda dan orang lain pada dilema Anda.
Anda pun bisa menemukan kunci permasalahan sehingga mendapatkan solusi. Mungkin perasaan Anda akibat dari kelelahan, lapar atau kelebihan beban. Atau bisa juga berasal dari situasi yang menantang yang membutuhkan pemikiran matang untuk mencari cara mengatasinya.
3. Mengundang Tuduhan Balasan
Frasa “Kamu membuatku merasa…” terdengar seperti serangan, dan ini bisa menghasilkan serangan balik tidak lama kemudian. Lalu percakapan Anda kemungkinan besar akan meningkat menjadi argumen kemarahan. Anda dan lawan bicara Anda hanya akan saling lempar tuduhan saling menyalahkan satu sama lain.
Dengan meluncurkan kata-kata “Saya merasa…”, lalu disertai alasan lain yang mendukung perasaan Anda, ini senantiasa mengajak lawan bicara untuk berempati sekaligus berbagi pemecahan masalah. Bukan malah saling tuding-tudingan kesalahan.
Jika sudah merasa saling menyalahkan, Anda bisa menghentikannya dan saling meminta maaf, sambil menjelaskan emosi dan perasaan apa yang tengah Anda alami. Jelaskan dengan perlahan dan pasti lawan bicara Anda akan mengerti dan ikut membantu mencari solusi.
4. Mendasarkan Pada Kesalahpahaman Tentang Apa yang Memicu Perasaan
Seseorang tidak biasanya dengan sendirinya membuat orang lain ikut merasakan apa yang mereka pikir atau rasakan. Sehingga penting untuk memperhatikan kombinasi dari apa yang dikatakan (atau dilakukan) oleh seseorang dan interpretasi dari orang lain atas kata-kata atau tindakan tersebut.
Misal, saat Anda membuat orang lain untuk tertawa, mereka mungkin menanggapinya dengan sedikit geli. Namun bisa saja mereka juga menanggapinya dengan mencemooh, jengkel, frustasi atau dengan kasih sayang yang besar.
Ini adalah kombinasi dari apa yang Anda katakan dan lakukan dan apa yang mereka bawa yang menentukan situasinya. Dengan demikian, ini berarti tanggapan pendengar berasal dari faktor-faktor di dalam kepala pendengar maupun dari apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain.
5. Tidak Memusatkan Perhatian Pada Diri Sendiri Sebagai Yang Paling Bertanggung Jawab
Kesalahan dalam mengekspresikan emosi ialah saat memusatkan perhatian atau topik pembicaraan Anda pada lawan bicara, alih-alih memfokuskannya dari orang yang menjadi tanggung jawab Anda, yakni diri Anda sendiri. Padahal mengekspresikan emosi menjadi cara untuk penemuan diri sendiri, sehingga tempatkan diri Anda sebagai yang paling bertanggung jawab atas emosi yang Anda rasakan.
Baca juga: 5 Alasan di Balik Pentingnya Mengekspresikan Emosi
Sumber:
How to Express Feelings. . . and How Not To. (2023, May 1). Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/resolution-not-conflict/201305/how-express-feelings-and-how-not
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



