Deeptalk.co.id – Stres adalah bagian alami dari kehidupan sehari-hari kita, dan kadang-kadang kita meresponsnya dengan mencari kenyamanan dalam makanan. Oleh karenanya, terdapat hubungan erat atau keterkaitan antara stres dengan emotional eating atau perilaku makan saat stres.
Artikel ini akan mengulas hubungan erat antara stres dan kebiasaan makan berdasarkan emosi (emotional eating). Kami akan membahas bagaimana tekanan hidup dapat memicu dorongan untuk mencari makanan sebagai bentuk pelarian atau penghiburan, serta bagaimana tindakan ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana stres mempengaruhi kebiasaan makan kita, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih sadar untuk mengatasi tekanan dengan cara yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Mengapa Ingin Makan Saat Stres

Dari sudut pandang fisiologis, stres menyebabkan kelenjar adrenal yang melepaskan hormon kortisol. Hormon tersebut membuat seseorang kemudian merasakan peningkatan nafsu makan dan keinginan untuk makan makanan manis. Keinginan tersebut bukan berasal dari keadaan perut yang kosong atau lapar. Melainkan otak lah yang menyuruh individu untuk makan sehingga bisa bersiap menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan. Setelah makan, kadar kortisol kembali normal dan stres pun mereda.
Kondisi stres juga memengaruhi preferensi makanan yang diinginkan. Hal tersebut berdasarkan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa tekanan fisik atau emosional meningkatkan asupan makanan tinggi lemak, gula atau keduanya. Tingkat kortisol yang tinggi, dikombinasikan dengan insulin yang tinggi pula memungkinkan keduanya menjadi penyebab emotional eating saat stres. Juga penelitian lain mengungkapkan bahwa ghrelin, atau disebut sebagai “hormon kelaparan” mungkin memiliki peran.
Setelah dicerna, makanan yang mengandung lemak dan gula tampaknya memiliki efek umpan balik yang mengurangi respons dan emosi terkait stres. Makanan-makanan ini benar-benar merupakan makanan yang “menenangkan” karena tampaknya dapat menangkal stres. Hal ini mungkin berkontribusi pada keinginan orang untuk mengonsumsi makanan tersebut yang dipicu oleh stres.
Ingin makan saat stres juga dikaitkan dengan emosi yang tidak nyaman. Seorang individu mungkin menggunakan makanan untuk coping mechanism saat menghadapi emosi sulit, alih-alih mengelolanya secara positif. Misalnya ketika Anda mengalami kesedihan setelah kehilangan secara tiba-tiba atau frustasi dengan pasangan Anda, Anda mungkin memilih kue, permen, atau sekantong cemilan kentang untuk mengelola emosi Anda karena enggan menghadapinya melalui komunikasi.
Baca juga: Waspadai Tanda Perilaku Agresif Pada Pasangan yang Berbahaya
Waspada Dengan Makan Berlebihan

Stres yang juga mengakibatkan emotional eating, menghasilkan suatu hormon sehingga mendorong sebuah efek “makanan yang menenangkan” melalui makanan dengan tinggi lemak dan manis yang kemudian bisa mendorong orang untuk makan berlebihan. Hal tersebut dijelaskan pada sebuah penelitian dan mennurut survei dari American Psychological Association mengenai kenaikan berat badan dan stres, yakni sekitar seperempat orang Amerika menilai tingkat stres mereka 8 atau lebih pada skala 10 poin.
Dalam jangka pendek, stres sebenarnya bisa mematikan nafsu makan. Sistem saraf mengirimkan pesan ke kelenjar adrenal di atas ginjal untuk memompa hormon epinefrin, yang juga dikenal sebagai adrenalin. Epinefrin membantu memicu respons fight-or-flight tubuh, suatu keadaan fisiologis yang meningkat yang membuat makan terhenti untuk sementara.
Namun lain ceritanya jika stres terus berlanjut. Kelenjar adrenal melepaskan hormon lain yang disebut kortisol, dan kortisol meningkatkan nafsu makan dan juga meningkatkan motivasi secara umum, termasuk motivasi untuk makan. Setelah episode stres selesai, kadar kortisol akan turun, tetapi jika stres tidak kunjung hilang, atau jika respons stres seseorang terhenti pada posisi “aktif”, kortisol mungkin tetap meningkat.
Tentu saja, makan berlebihan bukanlah satu-satunya perilaku terkait stres yang dapat menambah berat badan. Orang yang stres juga kurang tidur, kurang berolahraga, dan minum lebih banyak alkohol, yang semuanya dapat menyebabkan kelebihan berat badan.
Perbedaan Faktor Pemicu Stres dan Emotional Eating

Beberapa penelitian menunjukkan adanya perbedaan gender dalam perilaku mengatasi stres, dimana perempuan lebih cenderung beralih ke makanan dan laki-laki lebih memilih alkohol atau merokok. Dan sebuah penelitian di Finlandia yang melibatkan lebih dari 5.000 pria dan wanita menunjukkan bahwa obesitas dikaitkan dengan pola makan yang berhubungan dengan stres pada wanita, namun tidak pada pria.
Peneliti Harvard telah melaporkan bahwa stres akibat pekerjaan dan masalah lain berkorelasi dengan penambahan berat badan, namun hanya pada mereka yang kelebihan berat badan pada awal masa penelitian. Salah satu teorinya adalah bahwa orang yang kelebihan berat badan mengalami peningkatan kadar insulin, dan penambahan berat badan yang berhubungan dengan stres lebih mungkin terjadi ketika kadar insulin tinggi.
Berapa banyak kortisol yang diproduksi seseorang sebagai respons terhadap stres juga dapat menjadi faktor dalam persamaan stres dan pertambahan berat badan. Pada tahun 2007, para peneliti Inggris merancang penelitian cerdik yang menunjukkan bahwa orang yang merespons stres dengan tingkat kortisol tinggi dalam lingkungan eksperimental lebih cenderung ngemil sebagai respons terhadap kerepotan sehari-hari dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan mereka yang merespons stres dengan kortisol rendah.
Baca juga: Pentingnya Dukungan Sosial dalam Mengatasi Perilaku Kompulsif
Sumber:
https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/why-stress-causes-people-to-overeat
https://www.healthline.com/health/healthy-eating/why-do-i-eat-when-im-stressed#eating-when-stressed
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



