Deeptalk.co.id – Pada dasarnya gangguan mental tidak hanya menyerang generasi tertentu. Namun, akhir-akhir ini kita sering mendengar statement bahwa gen z merupakan generasi yang rawan mengalami gangguan mental. Apakah benar demikian?
Pada kenyataannya, gen z merupakan generasi yang melek akan informasi. Mereka dengan mudah mengakses banyak informasi dengan kemajuan teknologi yang ada. Salah satu informasi yang dengan mudah dapat diketahui adalah informasi terkait kesehatan mental. Bisa jadi, gen z dikatakan rawan mengalami gangguan mental karena mereka sadar akan keberadaan gangguan mental tersebut. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang masih asing dengan beberapa istilah dalam dunia kesehatan mental.
Meski demikian, disisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi membuat kehidupan sosial tidak sama lagi dengan sebelumnya. Gen z yang lahir pada era perkembangan teknologi yang sangat pesat, tidak hanya bersaing dengan sesama mereka, namun dengan teknologi yang telah ada. Tekanan yang didapatkan oleh gen z tentu memiliki perbedaan dengan generasi sebelumnya.
Salah satu jenis gangguan mental yang cukup sering dialami oleh para gen z adalah gangguan suasana hati atau mood disorder. Berdasarkan DSM-5 yang merupakan buku pedoman diagnosa psikologis, gangguan suasana hati merupakan kondisi dimana seseorang mengalami perubahan suasana hati yang signifikan dan berkepanjangan, perubahan emosi yang mempengaruhi fungsi sehari-hari, dan gejala yang tidak dapat dijelaskan oleh kondisi medis atau penggunaan zat.
Pada dasarnya gangguan suasana hati terbagi dalam beberapa bagian, yaitu depresi mayor, gangguan bipolar, gangguan depresi persisten, gangguan siklotimia, gangguan suasana hati lainnya, dan gangguan suasana hati tidak spesifik. Namun pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai gangguan suasana hati yang sering dialami oleh gen z.
Berikut beberapa jenis gangguan suasana hati yang sering dialami oleh gen z:
Depresi

Jenis gangguan suasana hati pertama yang sering dialami oleh gen z adalah depresi. Depresi merupakan kondisi dimana seseorang mengalami rasa sedih mendalam, atau penurunan suasana hati, sehingga membuat penderitanya kehilangan minat akan aktivitas sehari-hari.
Kondisi depresi pada gen z tentu akan mempengaruhi performa mereka dalam bermasyarakat. Bagaimana tidak, depresi mampu membuat penderitanya kehilangan minat, bahkan terhadap hal-hal yang mereka senangi.
Gen z pada saat ini memasuki usia-usia produktif, dimana depresi tentu akan mempengaruhi produktivitas pada gen z. Sayangnya, tekanan baik dari lingkungan keluarga, pekerjaan, pendidikan, atau bahkan pertemanan sering kali menjadi cukup toxic dan mendekatkan mereka dengan kondisi depresi.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Asysyfa Putri Humairah dan Shanty Komalasari menyatakan bahwa gen z dengan kondisi broken home mengalami tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gen z yang tidak mengalami broken home.
Baca juga: Bagaimana Cara Gen Z Bebas Dari Depresi?
Gangguan Kecemasan

Selain depresi, jenis gangguan suasana hati lainnya yang umum dialami oleh gen z adalah gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Seperti namanya, gangguan kecemasan merupakan kondisi dimana seseorang mengalami kecemasan, kekhawatiran, atau rasa takut berlebih terhadap objek atau kondisi tertentu.
Gangguan kecemasan memang tidak memandang generasi apapun. Namun pada para gen z, banyak faktor yang pada akhirnya membuat gangguan kecemasan ini lebih rentan dialami. Sebagai salah satu contoh, generasi sebelumnya mungkin akan sangat asing dengan istilah cyberbullying atau perundungan di internet. Pada gen z, hal itu merupakan situasi yang sangat mungkin terjadi, dan cukup rentan memicu gangguan kecemasan bagi para korbannya.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Anna Pradiningsiha dkk, ditemukan bahwa terdapat 72% remaja yang masuk dalam kategori gen z di SMAN 8 Mataram mengalami kecemasan. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian bagi para pendidik dan orang tua. Walaupun pada umumnya kecemasan merupakan hal yang normal, namun kecemasan yang dibiarkan bisa berujung pada gangguan kecemasan.
Bipolar

Jenis gangguan suasana hati yang rentan dialami oleh gen z berikutnya adalah bipolar. Bipolar merupakan kondisi dimana seseorang mengalami perubahan suasana hati yang sangat drastis dari kondisi mania ke depresi, atau sebaliknya. Mania merupakan kondisi dimana terjadinya peningkatan suasana hati yang signifikan, dimana penderita akan merasa senang berlebih atau euforia, serta timbulnya perilaku impulsif. Sedangkan depresi merupakan penurunan suasana hati, dimana penderitanya mengalami rasa sedih mendalam sehingga kehilangan minat akan aktivitas sehari-hari.
Bipolar pada gen z tidak seperti mood swing yang umum kita jumpai pada beberapa orang. perubahan suasana hati ini terjadi sangat drastis, dan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari bagi penderitanya.
Itu dia tiga jenis gangguan suasana hati yang cukup sering dialami oleh para gen z. Jika kamu gen z dan memiliki beberapa kondisi seperti di atas, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut oleh psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Baca juga: Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Depresi?
Sumber:
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Arlington, VA: American Psychiatric Publishing.
Humairah, A. P., & Komalasari, S. (2024). Dampak Depresi Pada Generasi Z Akibat Broken Home. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 11(2), 1275-1294.
Pradiningsih, A., Nopitasari, B. L., Qiyaam, N., Rahmawati, C., Safwan, S., Nurbaety, B., ... & Ramadhani, I. (2024). Deteksi Depresi, Anxietas, dan Stress Pada Remaja Generasi Z Sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Mental. Lumbung Pengabdian Kesehatan, 1(3), 4-7.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



