Deeptalk.co.id – Mayoritas diantara kita tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah bipolar. Bipolar merupakan salah satu jenis gangguan mental yang cukup sering menjadi perbincangan. Selain karena perkembangan ilmu pengetahuan, dan kemudahan mengakses informasi, banyaknya kasus terkait bipolar ini juga yang membuat topik tersebut menjadi perbincangan hangat.
Bipolar sendiri termasuk dalam kategori gangguan suasana hati atau mood disorder. Gangguan yang satu ini sudah tercantum dalam DSM-5 yang merupakan buku pedoman diagnosa gangguan mental. Dengan demikian, bipolar merupakan gangguan yang diakui keberadaannya oleh para praktisi-praktisi di bidang psikologis.
Kabar buruknya, bipolar merupakan salah satu jenis gangguan mental yang rentan dialami oleh gen z. Seperti yang kita ketahui, saat ini gen z sudah mulai memasuki lingkungan sosial yang lebih jauh. Banyak gen z yang sudah mulai merambat ke dunia kerja, menduduki posisi-posisi penting, dan mendominasi di lingkungan sosial. Hal tersebut membuat kita perlu untuk memberikan fokus khusus terhadap kondisi mental yang satu ini.
Walaupun prevalensi bipolar pada gen z memang belum diketahui secara pasti. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa kondisi yang dialami oleh gen memang bisa memicu seseorang mengalami bipolar. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai bipolar, dan pemicu bipolar pada gen z.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami beberapa gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Apa Itu Bipolar?

Seperti yang sudah dipaparkan secara singkat di atas, bipolar merupakan salah satu jenis gangguan mental. Juga termasuk dari bagian gangguan suasana hati, atau mood disorder. Bipolar ditandai dengan kondisi suasana hati yang tidak stabil. Dimana dalam kasus bipolar akan melibatkan dua fase, yaitu fase depresi, dan fase mania.
Pada fase depresi, penderita bipolar akan mengalami penurunan suasana hati. Mereka akan merasakan kesedihan mendalam, timbulnya rasa tidak berguna, menarik diri dari lingkungan, bahkan memicu pikiran untuk bunuh diri. Pada fase depresi ini, penderita tidak hanya sekedar merasa sedih seperti orang-orang pada umumnya. Melainkan kesedihan yang mendalam, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada fase mania, penderita bipolar akan mengalami peningkatan suasana hati. Mereka akan merasakan kesenangan, kegembiraan, dan euforia yang sangat berlebihan. Pada fase ini, penderita bipolar cenderung berperilaku impulsif, berpikir dan bertindak sangat cepat, munculnya imajinasi-imajinasi yang sangat banyak. Bahkan dalam banyak kondisi, penderita juga mengalami halusinasi.
Naik dan turunnya suasana hati yang dialami oleh penderita bipolar membuat kehidupan sosialnya ikut terganggu. Bisa dibayangkan bagaimana bipolar mengganggu kehidupan para gen z, yang notabenenya baru mulai memasuki kehidupan sosial yang lebih dalam. Dengan demikian, penderita bipolar sangat perlu mendapatkan penanganan khusus, dan rutin melakukan terapi sesuai dengan anjuran psikolog atau psikiater.
Baca juga: Mengenal Macam-Macam Istilah Psikologis Modern yang Populer di Era Gen Z
Apa Pemicu Bipolar Pada Gen Z?

Gen z pada dasarnya merupakan generasi yang sangat kreatif. Lahirnya mereka di era perkembangan teknologi yang sangat pesat. Membuat mereka tidak asing dengan berbagai perangkat teknologi yang ada. Dengan demikian, sangat mudah bagi para gen z untuk mempelajari pengetahuan, termasuk hal-hal yang berbau kesehatan mental.
Namun perlu diketahui bahwa, banyaknya kemudahan yang dialami gen z tidak membuat mereka bisa lepas dengan kemungkinan gangguan mental dan masalah kehidupan lain. Tentu saja setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing. Buktinya, banyak kondisi-kondisi tertentu yang hanya dialami oleh gen z, namun ternyata bisa memicu gangguan mental termasuk bipolar. Berikut beberapa pemicu bipolar pada gen z:
Tekanan sosial media
Pemicu bipolar pada gen z yang pertama adalah tekanan sosial media. Sosial media memang bisa membuat kita berkomunikasi dengan sangat mudah. Namun dibalik itu, banyak juga kasus-kasus terkait sosial media, termasuk cyberbullying, eksploitasi online, FOMO, dan masih banyak lagi. Kasus semacam itu bisa menimbulkan tekanan tersendiri bagi para korbannya. Dimana hal ini tidak dialami oleh generasi sebelumnya. Tekanan sosial media yang berlebihan sangat mungkin memicu bipolar pada gen z.
Kurang pengetahuan
Memang benar bahwa gen z sangat mudah untuk mengakses informasi. Sayangnya, kemudahan itu tidak dimanfaatkan oleh sebagian besar orang. Kamu mungkin pernah dengar bahwa saat ini kita sedang dalam kondisi krisis literasi. Kabar buruknya, kurangnya pengetahuan terkait kesehatan mental membuat penderita terlambat mendapatkan diagnosis dan juga penanganan. Akibatnya, bipolar diketahui saat kondisinya sudah benar-benar serius dan membutuhkan penanganan yang jauh lebih ekstra.
Ketidakpastian ekonomi
Banyak gen z yang mengalami ketidakpastian ekonomi. Beberapa tahun kemarin kita bahkan melalui pandemi COVID-19 yang membuat perekonomian seluruh dunia menjadi kacau balau. Selain itu, banyaknya persaingan diantara para gen z membuat mereka mengalami tekanan tersendiri. Kondisi semacam ini juga rupanya bisa memicu seseorang mengalami bipolar jika tidak segera menanganinya dengan tepat.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai bipolar, dan pemicu bipolar pada gen z. Semoga artikel ini dapat memberikan informasi lebih.
Baca juga: Mengenal Macam-Macam Istilah Kesehatan Mental yang Populer di Era Gen Z
Sumber:
Johnson, Smith, & Lee. (2021). The influence of social media on self-diagnosis in Generation Z: A psychological perspective. Journal of Adolescent Health.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



