Deeptalk.co.id – Emotional eating, atau makan berdasarkan emosi, adalah fenomena yang dikenal secara luas, di mana seseorang menggunakan makanan sebagai cara untuk meredakan perasaan dan kenyamanan emosional. Artikel ini akan mengupas alasan psikologis yang mendasari perilaku emotional eating, mengapa kita cenderung mencari kenyamanan dalam makanan saat kita menghadapi stres, kecemasan, atau perasaan negatif lainnya.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang alasan-alasan di balik perilaku ini, kita dapat mengambil langkah-langkah yang lebih bijaksana untuk mengelola pola makan berdasarkan emosi dan mengembangkan hubungan yang lebih sehat antara emosi dan makanan.
Tentang Emotional Eating

Emotional eating atau makan secara emosional adalah tindakan menggunakan makanan untuk menghibur diri sendiri. Ini termasuk untuk meredam emosi yang menyakitkan, atau untuk mengalihkan perhatian dari perasaan yang tidak mampu diatasi. Perilaku emotional eating ini bukan sekedar mendapati rasa lapar biasa secara fisik dan memiliki perbedaan dengannya.
Jika kelaparan secara fisik muncul secara bertahap dengan perut yang ditandai dengan rasa lapar dan keroncongan, emotional eating justru datang tiba-tiba dan terasa mendesak yang seolah-olah harus segera dipuaskan. Saat lapar secara fisik, Anda mungkin terbuka terhadap pilihan sehingga sebutir apel pun terdengar enak. Namun, emotional eating justru sering kali memiliki keinginan untuk makan makanan tertentu dan kecenderungan untuk memakan makanan manis atau berkalori tinggi.
Emotional eating sering kali dilakukan tanpa berpikir panjang sehingga sebelum Anda menyadarinya, Anda sudah memakan sekantong kue atau enam potong pizza. Rasa lapar secara emosional ini tidak akan terpuaskan setelah perut kenyang, melainkan Anda ingin lebih banyak dan boleh makan sampai Anda merasa kekenyangan.
Setelah makan untuk memuaskan rasa lapar fisik, Anda tidak akan merasa buruk tetapi ketika Anda makan untuk memuaskan emosi, Anda mungkin merasa bersalah setelahnya. Kadang-kadang menggunakan makanan sebagai hadiah, hadiah, atau perayaan adalah hal yang manusiawi. Namun ketika makan adalah mekanisme penanggulangan emosional utama Anda, seperti ketika dorongan pertama Anda adalah membuka kulkas setiap kali Anda kesal, kesepian, kelelahan, atau bosan, Anda terjebak dalam siklus yang tidak sehat. Makan terasa nikmat pada saat itu, namun perasaan yang memicu makan tersebut masih ada.
Baca juga: Ketika Stres Psikologis Bisa Memperburuk Ketergantungan
Alasan Dibalik Emotional Eating

Mungkin Anda sering bertanya-tanya, apa yang membuat seseorang mengalami emotional eating? Tidak ada satu alasan pun mengapa orang menggunakan makanan untuk kenyamanan. Terkadang, ada hubungan antara makanan dan emosi yang berasal dari masa kanak-kanak dan berlanjut hingga saat ini.
Namun, terdapat salah satu teori yang umum untuk menjawabnya ialah bahwa makanan membantu seseorang untuk menghindari perasaan tidak nyaman. Makanan dapat melepaskan dopamin sebagai zat kimia otak yang membuat seseorang merasa lebih baik. Emosi yang sulit dapat menimbulkan perasaan hampa dan kosong. Oleh karenanya, seseorang menggunakan makanan untuk memenuhi perasaan kosong tersebut agar merasa lebih baik.
Selain itu, manusia mengembangkan kebiasaan dan rutinitas dengan makanan. Sehingga jika seseorang selalu makan saat stres, mungkin dirinya akan langsung makan saat pertama kali muncul gejala stres tanpa menyadarinya. Pun juga makanan itu adalah hal yang legal, dan bisa didapatkan di mana saja. Pesan dan gambar tentang makanan saja sudah dapat meningkatkan rasa lapar Anda.
Hampir semua hal bisa memicu seseorang untuk makan secara emosional, termasuk alasan secara eksternal maupun internal. Alasan eksternal umum untuk makan secara emosional mungkin termasuk stres kerja, kekhawatiran keuangan, masalah kesehatan, atau pergumulan hubungan. Bahkan orang yang mengikuti diet ketat atau memiliki riwayat diet lebih cenderung makan secara emosional.
Sedangkan penyebab internal potensial lainnya termasuk:
1) kurangnya kesadaran introspektif (menyadari apa yang Anda rasakan)
2) alexithymia (kurangnya kemampuan untuk memahami, memproses, atau menggambarkan emosi)
3) disregulasi emosi (ketidakmampuan mengelola emosi)
4) sumbu stres hipotalamus hipofisis adrenal (HPA) terbalik (respon kortisol yang kurang aktif terhadap stres)
Makan secara emosional sering kali merupakan perilaku otomatis. Semakin banyak makanan yang digunakan untuk mengatasinya, semakin mapan kebiasaan tersebut. Namun ternyata, emotional eating bukalah suatu gangguan makan atau eating disorder, meskipun ini masih bisa menjadi tanda gangguan makan yang kemudian menyebabkan berkembangnya gangguan makan.
Apakah makan emosional merupakan gangguan makan? Makan secara emosional bukanlah suatu kelainan makan. Ini bisa menjadi tanda gangguan makan, yang bisa menyebabkan berkembangnya gangguan makan.
Academy of Nutrition and Dietetics menuturkan bahwa gangguan makan didiagnosis ketika perilaku makan seseorang memenuhi kriteria tertentu. Banyak orang yang mengalami gangguan perilaku makan namun tidak memenuhi kriteria gangguan makan. Anda tidak perlu didiagnosis menderita kelainan makan untuk mencari bantuan. Anda berhak memiliki hubungan yang baik dengan makanan. Jika Anda merasa memiliki perilaku makan yang tidak teratur, bicarakan dengan ahli kesehatan mental atau ahli diet terdaftar.
Baca juga: Pola Pikir ‘Katastropik’: Sebuah Bentuk Distorsi Kognitif yang Perlu Kita Waspadai
Sumber:
https://www.lifespan.org/lifespan-living/emotional-eating-its-causes-and-how-manage-it
https://www.healthline.com/health/emotional-eating
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



