Deeptalk.co.id – Setiap individu tentu memiliki respon yang berbeda-beda saat merasa cemas. Respon tersebut pada dasarnya normal-normal saja, selama tidak mengganggu kehidupan individu tersebut. Misalnya individu yang berjalan mondar-mandir untuk meredakan kecemasan yang mereka rasakan, atau orang yang memilih untuk mendengarkan musik relaksasi untuk membantunya tetap tenang.
Namun tahukah kamu bahwa dalam beberapa kondisi, kecemasan justru bisa membuat seseorang terdiam seribu bahasa. Kondisi semacam itu dijelaskan dalam ilmu psikologi dengan istilah selective mutism. Lantas, seperti apa sebenarnya selective mutism itu, dan apakah kondisi tersebut termasuk masalah kesehatan mental? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi selective mutism.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Selective Mutism

Seperti yang sudah dipaparkan di awal bahwa selective mutism merupakan kondisi dimana individu merespon kecemasan yang dialami dengan terdiam. Kondisi semacam ini pada dasarnya sering dialami oleh anak usia 2-4 tahun. Namun jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat, anak bisa mengalami selective mutism bahkan sampai menginjak usia dewasa.
Jika kondisi selective mutism terjadi pada orang dewasa, tentu akan sangat mengganggu fungsi sosialnya. Tidak hanya pada orang dewasa, selective mutism pada anak-anak juga bisa mengganggu kehidupan sehari-hari, misalnya mengganggu proses pembelajaran di sekolah.
Selective mutism terjadi bukan karena individu menolak untuk berbicara atau merespon orang-orang dan kejadian di sekitarnya. Namun kondisi ini terjadi begitu saja, diluar kendali individu tersebut. Kecemasan yang dialami membuat individu dengan selective mutism tidak bisa berbicara, membeku, atau tidak bisa bergerak sama sekali. Meski demikian, diam yang dialami oleh individu dengan selective mutism tidak berlangsung selamanya. Saat kecemasan meredah, maka mereka bisa berinteraksi selayaknya orang-orang pada umumnya.
Baca juga: Dampak Mengkonsumsi Narkoba Terhadap Kesehatan Mental
Penyebab Selective Mutism

Sayangnya penyebab utama dari kondisi selective mutism belum diketahui hingga saat ini. Meski demikian, banyak ahli yang sependapat bahwa kondisi ini bisa dipicu oleh beberapa faktor, misalnya:
Faktor kesehatan mental
Selective mutism bisa saja menjadi salah satu komplikasi dari gangguan mental lainnya. Misalnya pada penderita gangguan kecemasan sosial, fobia, autisme, separation anxiety disorder, gangguan stress pasca trauma, gangguan berbicara atau bahasa, dan beberapa jenis gangguan mental lainnya.
Faktor generik
Faktor pemicu kondisi selective mutism selanjutnya bisa jadi disebabkan oleh faktor genetik. Dalam hal ini, individu yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi selective mutism atau jenis gangguan kecemasan lainnya, akan berpotensi lebih besar mengalami kondisi selective mutism.
Faktor lingkungan
Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor lingkungan juga tidak kalah berkontribusi dalam pembentukan kondisi mental seseorang. Dengan demikian, faktor lingkungan juga bisa menjadi salah satu faktor pemicu kondisi selective mutism. Faktor lingkungan dalam hal ini bisa berupa mengalami kejadian traumatis, masalah keluarga, atau anak-anak yang baru pindah di lingkungan yang baru.
Pola asuh orang tua
Orang tua dan keluarga memang menjadi lingkungan sosial pertama anak di awal-awal kehidupannya. Dimana pada masa itu anak mengalami banyak sekali proses pembelajaran, termasuk dalam merespon segala sesuatu yang dihadapinya. Anak yang tidak diajarkan cara bersosialisasi yang baik dengan orang tua atau pengasuhnya akan berpotensi mengalami selective mutism.
Gejala Selective Mutism

Setelah mengenal penyebab dari selective mutism, tentu penting bagi kita mengetahui gejala selective mutism itu sendiri. Dengan demikian, kita bisa mengenali orang-orang dengan kemungkinan kondisi selective mutism, agar bisa diarahkan mendapatkan penanganan yang tepat. Berikut beberapa gejala selective mutism:
· Menjadi lebih pasif saat berhadapan atau berinteraksi dengan orang yang baru dikenal.
· Cenderung menghindari kontak mata dengan orang lain, baik itu saat sedang berinteraksi atau tidak.
· Sering merasa gugup atau canggung, terutama saat berada di tempat baru, atau bertemu dengan orang baru.
· Terlihat kaku, baik itu dari bahasa tubuh atau kalimat yang diungkapkan saat sedang berbicara dengan orang lain. Hal ini membuat mereka tidak bisa rileks atau berbicara dengan santai.
· Cenderung sebisa mungkin menghindari interaksi dengan orang lain.
· Lebih senang bekerja secara individu, dan tidak terlibat dalam interaksi dengan orang baru.
· Melakukan segala cara untuk menghindari percakapan dengan orang lain, termasuk mengamuk tanpa alasan yang jelas.
· Memiliki tatapan yang kosong, dan gerak tubuh yang kaku.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai kondisi selective mutism. Semoga artikel ini dapat bermanfaat, dan memberikan informasi lebih.
Baca juga: Shared Psychotic Disorder: Mengadopsi Gangguan Psikotik Dari Orang Terdekat
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



