Semua artikel
Gangguan Kecemasan

Cyberchondria : Kecemasan Akibat Kebiasaan Mencari Tahu Informasi Penyakit di Internet

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Saat mengalami gangguan kesehatan, baik itu fisik maupun mental, tentu timbul rasa penasaran akan apa sebenarnya yang sedang terjadi pada diri kita. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan membuat kita mencari tahu dengan segala cara, salah satunya dengan mencari informasi tersebut melalui internet.

Lantas, apakah mencari tahu sebuah penyakit melalui internet adalah hal yang salah? Tentu saja tidak, internet ada untuk memudahkan kita mencari informasi. Salah satunya mengenai kesehatan. Namun sayangnya, beberapa orang menjadikan hal ini sebagai seubah patokkan, yang akhirnya membuat mereka merasa cemas. Kondisi semacam itulah yang perlu diwaspadai.

Perasaan cemas akibat mencari tahu informasi seputar penyakit di internet ini dikenal dengan istilah cyberchondria. Untuk mengenal lebih jauh mengenai kondisi cyberchondria, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut.

Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala yang disebutkan dalam artikel ini, maka segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Berikut pembahasan mengenai kondisi cyberchondria.

Pengertian Cyberchondria

Pada dasarnya, cyberchondria merupakan plesetan dari hipokondria yang merupakan kecemasan terhadap sebuah penyakit. Walaupun cyberchondria dan hipokondria merupakan kondisi yang sama-sama mencemaskan sebuah penyakit, namun cyberchondria lebih disebabkan oleh kebanyakan mengakses internet mengenai sebuah penyakit. Dengan demikian, cyberchondria adalah sebuah kecemasan berlebih terhadap kesehatan akibat kebiasaan mencari informasi mengenai kesehatan melalui internet.

Cyberchondria juga sebenarnya belum masuk dalam kategori gangguan mental, artinya kondisi ini belum tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5), yang merupakan panduan diagnosis gangguan mental bagi para Psikolog dan Psikiater di seluruh dunia. Meski demikian, bukan berarti kondisi cyberchondria ini bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya, cyberchondria sudah cukup sering ditemui di masyarakat, dan cukup mengganggu kondisi mental bahkan fisik seseorang.

Jika berbicara mengenai penyebab dari kondisi cyberchondria, tentu saja sudah pasti bahwa kondisi ini disebabkan oleh kebiasaan mencari tahu informasi kesehatan melalui internet. Namun disisi lain, kondisi ini juga bisa disebabkan oleh minimnya pengetahuan seseorang mengenai kondisi fisik dan mental yang mereka alami.

Baca juga : Ini Dia Dampak Presenteeism Karyawan Bagi Perusahaan

Gejala Cyberchondria

Walaupun cyberchondria belum masuk dalam DSM-5 sebagai sebuah gangguan mental, namun cukup banyak orang yang memberikan perhatian terhadap kondisi mental yang satu ini. Untuk itu, berikut beberapa gejala yang umum dialami oleh orang-orang yang mengalami kondisi cyberchondria:

Terobsesi akan informasi online

Para penderita cyberchondria umumnya memiliki obsesi terhadap segala informasi yang ada di media online, khususnya informasi-informasi seputar kesehatan. Mereka bisa menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu kondisi kesehatan tertentu melalui internet. Tentu saja hal ini bisa membuat kondisi cyberchondria menjadi lebih parah.

Self diagnosis

Penderita cyberchondria juga tidak jarang melakukan self diagnosis terhadap kondisi fisik dan mental yang mereka alami. Mereka sering menyamakan antara informasi yang telah didapatkan di internet dengan kondisi fisik dan mentalnya. Sayangnya perilaku semacam ini bisa membuat penderita mendapatkan penanganan yang tidak tepat, dan cukup berbahaya untuk kesehatannya.

Hasil pencarian di internet menimbulkan kecemasan

Alih-alih merasa tenang setelah mengetahui banyak informasi kesehatan melalui internet, penderita cyberchondria justru merasakan kecemasan berlebih. Biasanya mereka merasa takut karena mengalami beberapa ciri-ciri yang diidentifikasi sama dengan apa yang mereka rasakan. Walaupun sebenarnya penyakit atau gangguan yang dibaca tidak mengarah kepada kondisi fisik dan mentalnya.

Informasi di internet dianggap akurat

Walaupun beberapa informasi kesehatan di internet memang ditulis atau dipaparkan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, namun hal itu tidak bisa menjamin keakuratan keseluruhan informasi di internet. Sayangnya, penderita cyberchondria akan cukup sulit diberi pemahaman mengenai hal ini. Mereka menganggap bahwa informasi yang didapatkan di internet adalah informasi yang akurat.

Dorongan untuk memeriksakan diri

Saat merasa mengalami suatu gangguan atau penyakit tertentu setelah membaca informasinya melalui internet, penderita cyberchondria umumnya merasa yakin bahwa dirinya mengalami gangguan atau penyakit tersebut. Hal ini tidak jarang membuat mereka memeriksakan diri ke dokter.

Tidak percaya dengan diagnosa dokter

Buruknya, penderita cyberchondria bahkan tidak percaya kepada dokter jika dibuktikan bahwa dirinya baik-baik saja atau tidak sesuai dengan informasi yang didapatkan di internet. Akhirnya mereka akan mencari dokter lain untuk mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang dipikirkan. Jika semua dokter menyatakan hal yang sama, mereka tetap berpegang teguh terhadap apa yang didapatkan di internet.

Itu dia penjelasan mengenai cyberchondria. Intinya, tidak semua hal bisa kita akses melalui internet, dan tidak semua yang kita akses di internet adalah sebuah kebenaran. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Kenali Dampak Presenteeism Pada Karyawan dan Cara Mengatasinya

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Cyberchondria : Kecemasan Akibat Kebiasaan Mencari Tahu Informasi Penyakit di Internet — DeepTalk