Semua artikel
Pikiran

Bagaimana Cara Kerja Otak Kita Saat Berpikir Katakstrofik?

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Kita akan berbicara tentang berpikir katastrofik. Pikiran ini akan muncul jika kita merasa terjebak pada pemikiran terburuk atas situasi yang sedang kamu hadapi. Sehingga pikiran buruk ini akan merampas ketenangan pikiran kita.

Berpikir katastrofik merupakan hal yang umum dalam kehidupan kita. Saat rentetan pikiran negatif ini hadir, biasanya kita merespons dengan rasa cemas, stres, dan bahkan panik. Namun, tahukah kamu bahwa berpikir katastrofik ini bukan hanya sekadar pikiran buruk biasa? Ya, ada mekanisme di balik semua ini. Dimana terdapat proses yang melibatkan struktur dan fungsi otak kita.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi labirin otak kita dan memahami seperti apa proses di balik berpikir katastrofik. Kita akan mencoba melihat peran berbagai struktur otak, bagaimana pola pikir ini mempengaruhi emosi dan perilaku kita.

Berpikir Katakstrofik dan Otak

Ketika kita berbicara tentang berpikir katastrofik, kita harus melihat dari struktur otak. Bagaimana mereka bekerja bersama untuk membentuk pola pikir ini? Ada dua bagian otak yang sangat penting dalam proses ini, yaitu amigdala dan korteks prefrontal. Keduanya bermain dalam tim yang dinamis di dalam kepala kita.

Amigdala: Pahlawan Penjaga Stres

Amigdala adalah bagian otak yang berfungsi sebagai penjaga kita, merespons ancaman dan rasa takut. Ketika kita merasakan bahaya atau ancaman, amigdala kita menjadi aktif dan mengirim sinyal ke sisanya otak supaya waspada. Sayangnya, terkadang amigdala menjadi terlalu bersemangat dalam tugasnya. Bahkan membuat kita merasa takut atau cemas dengan situasi yang sebenarnya tidak terlalu mengancam.

Baca juga: Mengapa Otak Kita Cenderung Berpikir Katakstrofik atau Negatif?

Korteks Prefrontal: Pemikiran Rasional dan Solusi

Sementara amigdala memainkan peran penting dalam berpikir katastrofik, bukan berarti kita tidak punya kendali sama sekali. Disebut dengan manager otak kita. Korteks prefrontal bertanggung jawab untuk berpikir rasional dan mencari solusi. Ketika amigdala kita mulai beraksi, korteks prefrontal mengumpulkan informasi dan berusaha untuk menenangkan amigdala.

Namun, terkadang korteks prefrontal kita tidak seefektif yang kita harapkan. Pengalaman buruk di masa lalu, perasaan takut, dan stres bisa melemahkan kemampuan korteks prefrontal untuk mengatasi amigdala yang ‘panik’. Inilah yang menyebabkan kita terjebak dalam pola berpikir katastrofik.

Jadi, mekanisme otak saat berpikir katastrofik adalah interaksi antara amigdala dan korteks prefrontal. Ketika amigdala menjadi terlalu sensitif, mereka saling mempengaruhi dan menciptakan ketidakseimbangan yang berujung pada berpikir katastrofik. Sekarang kita tahu, bukan, bagaimana otak kita bekerja saat berpikir katastrofik?

Proses Otak Saat Berpikir Katakstrofik

Sekarang, kita sudah tahu beberapa struktur penting dalam otak yang terlibat dalam proses berpikir katastrofik. Tapi, bagaimana sebenarnya proses ini berlangsung? Ada tiga tahapan utama yang akan kita bahas, yaitu percikan awal, kognisi negatif, dan respons fisik serta emosi.

Tahap Percikan Awal (Initial Spark)

Setiap proses berpikir katastrofik diawali dengan apa yang disebut “percikan awal”. Ini adalah titik di mana pikiran negatif muncul dan memulai perjalanannya. Pikiran ini bisa muncul dari berbagai sumber, baik itu pengalaman masa lalu, perasaan takut, stres, atau bahkan imajinasi kita sendiri. Percikan awal ini seperti bahan bakar yang menciptakan api di dalam otak kita.

Tahap Kognisi Negatif

Setelah percikan awal itu berlangsung, selanjutnya adalah tahap kognisi negatif. Di tahap ini, pikiran negatif tersebut semakin diperkuat dan mempengaruhi cara kita berpikir. Tahap ini merupakan proses dimana otak kita mengintensifkan dan mempertahankan ide-ide negatif tersebut.

Tahap Respons Fisik dan Emosi

Pikiran negatif yang sudah merasuk dan bertahan dalam tahap kognisi negatif mulai menciptakan dampak yang nyata di tubuh dan emosi kita. Kita merasakan denyut jantung yang cepat, keringat mulai bercucuran, dan perut kita terasa seperti ada yang mengaduk-aduk. Ini adalah bagian dari respons stres kita. Di saat yang sama, emosi kita juga terpengaruh. Kita bisa merasa cemas, takut, atau bahkan panik.

Contoh Proses Berpikir Katakstrofik

Mari kita coba ambil contoh untuk melihat proses berpikir katastrofik berlangsung. Sebut saja kamu sedang bekerja di sebuah proyek. Tiba-tiba kamu mendapat email dari atasannya yang ingin bertemu.

Percikan awal di sini adalah menerima email tersebut. Otakmu langsung berpikir: “Kenapa bos mau ketemu? Apa dia mau membicarakan proyekku? Apa ada yang salah?”

Tahap kognisi negatif. Di tahap ini, kamu mulai mempertajam dan memperbesar pikiran negatifmu. Kamu mulai berpikir, “Pasti aku membuat kesalahan di proyek. Mungkin aku akan dipecat. Saya tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan lain. Bagaimana aku bisa membayar tagihan?”

Tahap respons fisik dan emosi. Setelah pikiran-pikiran negatif tersebut semakin membesar dan kuat, stres mulai terasa dalam tubuhmu. Kamu mulai merasa gelisah, jantung berdebar-debar, sulit berkonsentrasi, dan merasa cemas. Emosi pun terpengaruh. Kamu merasa takut, cemas, dan panik.

Jadi, pada dasarnya, berpikir katastrofik adalah proses yang panjang yang melibatkan berbagai tahapan dan struktur otak. Mengenali proses ini faktanya adalah langkah pertama yang penting untuk menghentikan pola pikir katastrofik. Karena sekarang kita tahu bagaimana proses ini bekerja, kita bisa mulai mencari cara untuk menghentikannya.

Baca juga: Bagaimana penderita Prosopagnosia menjalani Kehidupan Sosialnya sehari hari? Tantangan dan Strategi Menghadapinya

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Bagaimana Cara Kerja Otak Kita Saat Berpikir Katakstrofik? — DeepTalk