Deeptalk.co.id – Apakah kamu masih mengenal istilah workaholic sebagai julukan untuk para pekerja keras? Jika iya, kamu perlu membaca artikel ini untuk memperbaiki pola pikir yang salah itu. Karena dibandingkan dengan pekerja keras, seorang workaholic lebih cocok disebut sebagai gila kerja.
Orang yang bekerja memiliki banyak sekali alasan, mulai dari memenuhi kebutuhan financial, hingga mengejar jenjang karir yang diharapkan. Untuk itu, tidak jarang beberapa orang bekerja mati-matian untuk menggapai apa yang mereka harapkan.
Kondisi tersebut akhirnya membuat beberapa orang terjebak dalam kondisi workaholic, disadari atau tanpa disadari. Sayangnya beberapa orang akan dengan bangga saat mendapat julukan workaholic, padahal sesungguhnya ini bukanlah kondisi yang baik. Kebalikannya, workaholic sebenarnya cukup mengganggu kesehatan mental seseorang.
Pengertian Workaholic
Sebelum membahas lebih jauh mengenai workaholic, sebaiknya kita mengetahui pengertian dari workaholic itu sendiri. American Psychology Association atau yang disingkat dengan APA, menyatakan bahwa workaholic merupakan kondisi dimana seseorang memaksakan atau merasa adanya kebutuhan yang tidak terkendalikan untuk terus bekerja.
Workaholic juga bisa disebut dengan kecanduan bekerja. Dari istilah “kecanduan” sendiri sudah bisa di tebak bahwa kondisi ini bukanlah kondisi yang baik. Walaupun bekerja pada dasarnya merupakan tindakan yang baik dan produktif, namun tetap saja apapun yang berlebihan dan kelewat batas itu tetap tidak baik untuk diri sendiri.
Selain kecanduan bekerja, workaholic juga dikenal dengan istilah gila kerja. Seorang workaholic bekerja seakan tidak mengenal waktu. Mereka akan memprioritaskan pekerjaan mereka di atas apapun itu. Hal ini tentu akan mengganggu kehidupan sehari-hari, dan tentu saja hubungan dengan keluarga dan kerabat terdekat.
Berbeda dengan seorang pekerja keras yang masih bisa menikmati waktu luang dan bisa mengatur waktu kapan bekerja dan kapan beristirahat. Seorang workaholic justru menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja karena adanya dorongan dari dalam diri yang tidak bisa mereka kendalikan. Mereka juga cenderung tidak bisa menikmati pekerjaannya dan melakukan pekerjaan hanya atas dorongan dari dalam diri.
Seorang workaholic perlu untuk menindak lanjuti kondisi mereka. Pasalnya, kondisi ini akan berdampak negatif untuk kesehatan fisik dan mental jika dibiarkan begitu saja.
Penyebab Workaholic

Seorang workaholic memiliki alasan yang berbeda-beda hingga akhirnya mengalami kondisi tersebut. Namun, beberapa diantaranya diakibatkan oleh pola pikir diri sendiri. Berikut beberapa penyebab seseorang menjadi workaholic:
Sindrom impostor
Kondisi ini membuat seseorang merasa tidak pantas untuk mendapatkan pekerjaan atau mendapatkan pencapaian apapun dalam hidupnya. Hal ini mengakibatkan seseorang dengan sindrom impostor akan terus bekerja dan berusaha sebaik mungkin.
Baca juga : Gamophobia : Rasa Takut Berlebih Terhadap Komitmen dan Pernikahan
Workaholic merupakan hal yang keren
Adanya paradigma mengenai workaholic adalah suatu kondisi yang keren sering kali membuat seseorang memaksakan diri untuk terus menerus bekerja hingga mendapatkan julukan workaholic. Untuk itulah pemikiran semacam ini perlu diubah, pada dasarnya workaholic bukanlah pekerja keras.
Terbiasa bekerja
Bekerja bukanlah tindakan yang buruk. Meski demikian kita tidak boleh bekerja hingga melupakan waktu untuk istirahat. Seseorang yang terbiasa bekerja terus menerus akan merasa waktunya terlalu berharga untuk dipakai beristirahat. Padahal, tubuh tetap membutuhkan waktu untuk istirahat.
Dampak Workaholic

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa workaholic merupakan kondisi yang berdampak buruk bagi kehidupan seseorang. Berikut beberapa dampak akibat menjadi seorang workaholic:
Risiko gangguan mental
Bekerja secara berlebihan tidak hanya membuat kamu merasa lelah dan mengalami gangguan fisik. Banyak jenis gangguan mental yang diakibatkan oleh kondisi ini. Kamu bisa jadi mulai merasa stress dengan pekerjaan yang kamu hadapi. Kondisi ini akan terus meningkat menjadi gangguan kecemasan, hingga akhirnya depresi.
Banyaknya energi yang dikeluarkan akibat bekerja berlebihan membuat seseorang mengalami kelelahan dan kesulitan untuk merasa bahagia. Kondisi semacam inilah yang membuat seorang workaholic rentan mengalami depresi.
Resiko gangguan fisik
Seperti yang sudah diketahui bahwa jika terlalu banyak bekerja kamu akan mengalami kelelahan. Hal ini akan membuat daya tahan tubuh mu menjadi menurun. Akibatkan kamu akan dengan mudah terserang berbagai penyakit. Selain itu, seorang workaholic juga sering kali melewatkan waktu makan dan istirahat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.
Merusak hubungan pribadi
Tugas kita tidak hanya selalu tentang bekerja. Ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk sekedar membangun komunikasi yang baik dengan orang-orang disekitar kita, misalnya keluarga, pasangan, rekan kerja, dan lain sebagainya. Sayangnya semua itu akan rusak akibat kebiasaan gila kerja atau workaholic yang menghabiskan banyak waktu hidupnya dengan pekerjaan.
Seperti itulah seorang workaholic, tidak baik untuk kesehatan fisik, mental, dan bahkan hubungan dengan orang-orang sekitar. Jadi, jangan lagi menganggap workaholic sama dengan bekerja keras, karena keduanya adalah dua hal yang berbeda. Lantas, apakah kamu masih memiliki obsesi untuk menjadi seorang workaholic?
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Pediophobia : Rasa Takut Berlebih Terhadap Boneka
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



