Deeptalk.co.id – Sepeti yang diketahui bahwa narkoba dan alkohol mengandung zat adiktif yang dapat membuat orang yang mengkonsumsinya mengalami kecanduan. Kecanduan tersebutlah yang membuat pengonsumsi narkoba dan alkohol mengalami kesulitan untuk berhenti mengkonsumsi itu semua.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa orang memiliki keinginan kuat untuk berhenti mengkonsumsi narkoba, alkohol, atau hal-hal yang menyebabkan kecanduan. Sayangnya dibutuhkan pengorbanan yang cukup besar untuk itu semua. Bahkan berhenti dari mengkonsumsi zat-zat adiktif itu bisa berdampak pada kondisi fisik dan mental seseorang. Kondisi semacam itu dikenal dengan istilah withdrawal syndrome.
Untuk mengenal lebih jauh mengenai kondisi withdrawal syndrome, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. Namun sebelum kita masuk ke dalam pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis.
Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai withdrawal syndrome.
Pengertian Withdrawal Syndrome

Withdrawal syndrome adalah kondisi dimana seseorang mengalami reaksi fisik dan juga mental setelah lepas dari penggunaan zat-zat adiktif, seperti alkohol dan narkoba. Reaksi fisik dan mental yang dialami juga cukup beragam, mulai dari merasa pusing, tidak bersemangat, dan lain sebagainya.
Rasanya sudah menjadi rahasia umum bagaimana perjuangan orang-orang yang berusaha untuk lepas dari zat adiktif. Terlebih lagi jika mereka sudah mengkonsumsi zat-zat tersebut dalam jangka waktu lama dan intensitas yang cukup sering.
Kondisi withdrawal syndrome ini umumnya akan terjadi saat menghentikan zat-zat adiktif tersebut dilakukan secara tiba-tiba. Selain itu, kondisi withdrawal syndrome umum dikenal dengan istilah sakau.
Saat kondisi withdrawal syndrome ini tidak ditangani secara tepat, maka penderita bisa mengalami kondisi yang lebih parah. Untuk itu penderita withdrawal syndrome atau orang-orang yang berniat untuk menghentikan konsumsi zat-zat adiktif, perlu melakukan konsultasi dengan Psikolog atau orang-orang yang ahli dibidangnya.
Penyebab Withdrawal Syndrome

Seperti pada pengertian withdrawal syndrome itu sendiri, penyebab utama dari kondisi ini adalah mengkonsumsi zat-zat adiktif dan berhenti secara tiba-tiba. Kondisi withdrawal syndrome akan semakin parah jika penderita sudah mengkonsumsi zat adiktif dalam jangka panjang, dan tidak mendapatkan pertolongan profesional dalam proses penghentiannya.
Walaupun menghentikan konsumsi zat-zat adiktif bisa memberikan dampak negatif untuk tubuh, namun bukan berarti hal tersebut bisa dibiarkan begitu saja. Zat-zat adiktif yang terus menerus dikonsumsi akan membangun toleransi terhadap tubuh. Dengan demikian, dosis yang dikonsumsi akan terus bertambah, dan justru akan mendatangkan lebih banyak masalah untuk tubuh.
Maka dari itu, penghentian terhadap zat-zat adiktif tetap harus dilakukan. Namun untuk meminimalisir kondisi withdrawal syndrome ini, diperlukan pengawasan dari orang-orang yang ahli di bidangnya.
Adapun jenis-jenis zat yang dapat memicu withdrawal syndrome jika dihentikan secara mendadak adalah, alkohol, heroin, kokain, ganja, ekstasi, amfetamin, sabu, barbiturat, antidepresan, inhalasi, dan nikotin.
Baca juga : Waspada Komplikasi Gangguan Depersonalisasi dan Cara Mengatasinya
Gejala Withdrawal Syndrome

Untuk dapat mengenal kondisi withdrawal syndrome rasanya masih kurang jika kita belum mengetahui gejala apa saja yang dirasakan oleh penderita withdrawal syndrome. Namun pada kenyataannya, setiap penderita withdrawal syndrome bisa jadi menunjukkan gejala dan tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda. Maka dari itu, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dari Psikolog atau Psikiater untuk dapat memastikan kondisi tersebut.
Meski demikian, pada umumnya penderita withdrawal syndrome akan mengalami beberapa gejala sebagai berikut:
· Berkurangnya atau kehilangan nafsu makan.
· Mengalami perubahan suasana hati secara signifikan.
· Mengalami beberapa masalah fisik seperti masalah pada hidung (hidung mampet atau berair), mudah lelah, mengiggil, nyeri otot, mual, muntah, keringat berlebih, hingga gemetar (tremor).
· Menjadi lebih sensitif dalam menghadapi segala sesuatunya, seperti mudah tersinggung, mudah menangis, dan lain sebagainya.
· Mengalami susah tidur.
Selain beberapa gejala di atas, pada penderita withdrawal syndrome dengan kondisi yang lebih parah, mereka bisa saja mengalami kejang, halusinasi, bahkan delirium. Halusinasi merupakan kondisi dimana seseorang mampu melihat, merasakan, mencium, mendengar, hal-hal yang tidak nyata. Sedangkan delirium adalah kondisi dimana seseorang mengalami penurunan dalam kemampuan berpikir.
Orang-orang yang mengalami gejala di atas perlu melakukan konsultasi dengan Psikolog atau Psikiater. Dari konsultasi tersebut akan dilakukan pemeriksaan dan ditemukan diagnosis terhadap kondisi yang dialami. Dengan begitu akan ditentukan penanganan apa yang tepat untuk mengatasi kondisi withdrawal syndrome tersebut.
Penanganan yang diberikan juga akan beragam, mulai dari mengkonsumsi obat-obatan, perubahan gaya hidup, hingga psikoterapi. Terlepas dari itu semua, dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat juga tidak kalah penting untuk kelangsungan pengobatan kondisi withdrawal syndrome.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai withdrawal syndrome. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Depersonalization Disorder : Terpisahnya Jiwa dan Raga
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



