Semua artikel
Sindrom Psikologi

Terkurung Rasa Aman Palsu: Stockholm Syndrome dan Dampaknya pada Mental Gen Z

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Sadarkah kamu bahwa di era modern ini tidak hanya memberikan banyak kemudahan untuk kita. Namun juga memudahkan para pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya. Salah satu kasus kejahatan yang lumayan menyimpan trauma adalah kasus penculikan atau penyanderaan. Namun uniknya, beberapa korban bukannya membenci pelaku, melainkan jatuh cinta atau memiliki ikatan emosional dengan pelaku. Kondisi semacam itu dikenal dengan istilah stockholm syndrome.

Istilah stockholm syndrome tentu tidak asing lagi bagi sebagian dari kita. Pasalnya, kondisi yang satu ini memang sudah lama ada, dan bahkan beberapa kali menjadi ide cerita dalam sebuah buku maupun film. Walaupun stockholm syndrome sering dikaitkan dengan kondisi psikologis, namun nyatanya kondisi tersebut tidak tercantum dalam DSM-5 yang merupakan buku pedoman diagnosis gangguan mental.

Walaupun awalnya kondisi stockholm syndrome berhubungan dengan kasus penculikan maupun penyanderaan. Seiring berjalannya waktu beberapa gen z justru mengalami stockholm syndrome diluar kondisi tersebut. Selain itu, dampak dari stockholm syndrome yang dialami oleh gen z juga bukan hal yang sederhana. Lantas, seperti apa stockholm syndrome dan dampaknya terhadap gen z? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami stockholm syndrome, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Seperti Apa Bentuk Stockholm Syndrome Pada Gen Z?

young couple sitting on the floor with books

Stockholm syndrome adalah kondisi dimana seorang korban memiliki ikatan emosional dengan pelaku penculikan, penyanderaan, atau kekerasan. Sedangkan gen z adalah generasi yang lahir pada rentan tahun 1997-2012. Generasi ini tumbuh beriringan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Penggunaan sosial media menjadi rutinitas sehari-hari mereka. Sayangnya, hal tersebutlah yang seringkali membuat mereka bertemu dengan pelaku stockholm syndrome.

Stockholm syndrome pada gen z bisa muncul dalam berbagai bentuk, diantaranya:

Toxic relationship

Menjalin hubungan yang toxic atau toxic relationship merupakan salah satu cara pelaku stockholm syndrome masuk dalam kehidupan korban. Hubungan dalam hal ini tidak selalu tentang hubungan asmara, namun juga bisa hubungan pertemanan, hubungan keluarga, hubungan rekan kerja, dan masih banyak lagi.

Memiliki hubungan toxic, terutama dalam jangka waktu lama, membuat seseorang cenderung menormalisasi kekerasan, menolak untuk keluar dari hubungan tersebut, dan timbul perasaan tidak bisa melanjutkan hidup tanpa pelaku. Pasalnya, dalam hubungan tersebut korban sudah memiliki ikatan emosional yang kuat dengan pelaku.

Cyberbullying dan Online Grooming

Bentuk lain dari stockholm syndrome yang bisa dialami oleh gen z adalah cyberbullying dan online grooming. Kedua kondisi tersebut adalah hal yang sangat mungkin terjadi di era modern ini. Beberapa remaja menunjukan ketertarikan mereka kepada pelaku pelecehan di media sosial, yang awalnya memberikan perhatian, lalu perlahan melakukan pelecehan emosional.

Kultur celebrity dan fanaticism

Selain kedua kondisi di atas, kultur celebrity dan fanaticism juga menunjukan pola serupa dengan penderita stockholm syndrome. Dalam hal ini seseorang bisa membela habis-habisan idolanya, walaupun sudah jelas idolanya melakukan kesalahan yang fatal.

Baca juga: Sayang Tapi Terjebak: Saat Gen Z Tak Sadar Mengalami Stockholm Syndrome

Dampak Stockholm Syndrome Terhadap Kesehatan Mental Gen Z

young couple sitting on the floor with books

Walaupun tidak masuk dalam kategori gangguan mental yang tercantum dalam DSM-5. Kondisi stockholm syndrome bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja. Jika dibiarkan dan tidak mendapatkan pertolongan, penderita stockholm syndrome bisa mengalami dampak kesehatan mental seperti:

Gangguan kecemasan dan depresi

Gangguan kecemasan adalah kondisi dimana seseorang mengalami kecemasan, rasa takut, atau khawatir yang berlebih, dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Sedangkan depresi adalah kondisi dimana seseorang mengalami rasa sedih mendalam, sehingga kehilangan minat akan aktivitas dan kehidupannya.

Seseorang yang memiliki ketergantungan yang tidak sehat dengan orang lain akan mengalami stress yang berkepanjangan. Dimana kondisi stress inilah yang bisa memicu gangguan kecemasan dan depresi.

Kehilangan identitas diri

Penderita stockholm syndrome cenderung mendapatkan kontrol dari pelaku untuk bisa melakukan segala hal yang diharapkan pelaku. Tidak jarang mereka memenuhi kebutuhan pelaku dengan mengabaikan kebutuhan pribadi dan nilai yang mereka miliki. Jika terus terjadi, lama kelamaan penderita akan mulai kehilangan identitas mereka.

Kesulitan membangun hubungan yang sehat

Terjebak dalam kondisi stockholm syndrome bukan hal yang baik untuk masa depan. Walaupun berhasil keluar dari cengkraman pelaku. Korban sering kali mengalami trauma, atau masih tidak terbiasa dengan hubungan yang sehat. Itu dia alasan mengapa orang yang pernah mengalami stockholm syndrome tetap harus mendapatkan penanganan. Agar mereka tidak kembali terjebak dalam hubungan serupa.

Itu dia penjelasan singkat terkait kondisi stockholm syndrome pada gen z, dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Jika kamu membutuhkan bantuan profesional, silahkan kunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Senyum yang Membebani: Kenapa Gen Z Rawan Smiling Depression?

 

Sumber:

Namnyak, M., Tufton, N., Szekely, R., Toal, M., Worboys, S., & Sampson, E. L. (2008). Stockholm syndrome: Psychiatric diagnosis or urban myth? Acta Psychiatrica Scandinavica, 117(1), 4-11. https://doi.org/10.1111/j.1600-0447.2007.01112.x

Graham, D. L. R., Rawlings, E., & Rigsby, R. K. (1994). Loving to Survive: Sexual Terror, Men's Violence, and Women's Lives. New York: NYU Press.

American Psychological Association (APA). (2023). Understanding Trauma and its Effects. https://www.apa.org/topics/trauma

McNally, R. J. (2003). Remembering Trauma. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Pew Research Center. (2019). On the Cusp of Adulthood and Facing an Uncertain Future: What We Know About Gen Z So Far. https://www.pewresearch.org/social-trends/2020/05/14/on-the-cusp-of-adulthood-and-facing-an-uncertain-future-what-we-know-about-gen-z-so-far/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Terkurung Rasa Aman Palsu: Stockholm Syndrome dan Dampaknya pada Mental Gen Z — DeepTalk