Semua artikel
Sindrom Psikologi

Sayang Tapi Terjebak: Saat Gen Z Tak Sadar Mengalami Stockholm Syndrome

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah berjumpa dengan orang yang sangat mencintai orang yang selalu menyakitinya? Jika pernah, maka kamu harus perhatiin orang itu. Bisa jadi dia sedang terjebak dalam kondisi stockholm syndrome.

Tahukah kamu bahwa stockholm syndrome akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di banyak kalangan. Terutama di kalangan para gen z. Selain karena ini merupakan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian. Stockholm syndrome rupanya sudah banyak dialami oleh para gen z.

Lantas, apa sebenarnya stockholm syndrome itu? Dan mengapa gen z sering kali tanpa sadar terjebak di dalamnya? Artikel kali ini akan secara khusus membahas terkait topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami stockholm syndrome, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Apa Itu Stockholm Syndrome?

Person suffering from bullying

Stockholm syndrome adalah kondisi psikologis dimana seseorang jatuh cinta kepada orang yang menyakitinya, khususnya dalam kasus penculikan, penyanderaan, kekerasan emosional, dan hubungan abusive.

Mungkin kondisi stockholm syndrome terdengar aneh bagi sebagian orang. Namun nyatanya, kondisi stockholm syndrome ini sudah ada sejak 1973. Pada saat itu terjadi sebuah perampokan bank di Stockholm, Swedia. Pelaku perampokan menyandera beberapa korban, dan uniknya korban justru membela pelaku setelah mereka dibebaskan.

Penderita stockholm syndrome cenderung membenarkan perilaku penculik atau pelaku kekerasan. Banyak alasan mengapa mereka membenarkan hal tersebut. Namun, beberapa dari mereka melakukannya karena sudah timbul ketertarikan secara emosional, beberapa lainnya juga menjadikan hal tersebut sebagai mekanisme bertahan hidup.

Kondisi stockholm syndrome tidak hanya terjadi pada kasus penculikan atau penyanderaan saja, namun bisa juga dialami dalam berbagai aspek, misalnya:

·         Hubungan romantis yang toxic atau abusive, baik itu secara verbal, fisik, maupun emosional.

·         Lingkungan keluarga yang memiliki kecenderungan untuk mengontrol secara berlebihan.

·         Situasi sosial dimana pelaku mempraktekan manipulasi emosional kepada korbannya. Misalnya dengan melakukan gaslighting, guilt-tripping, dan lain sebagainya.

Baca juga: Senyum yang Membebani: Kenapa Gen Z Rawan Smiling Depression?

Bagaimana Gen Z Bisa Sadar Kalau Dirinya Sedang Terjebak Dalam Stockholm Syndrome?

Person suffering from bullying

Berhubung fenomena stockholm syndrome ini cukup sering dijumpai pada para gen z akhir-akhir ini. Kita perlu memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut. Selain itu, penting juga untuk membekali diri sebagai upaya perlindungan. Maka dari itu, berikut beberapa cara yang bisa gen z lakukan untuk menyadari kalau dirinya sudah terjebak dalam stockholm syndrome:

Edukasi diri tentang dinamika kekerasan emosional

Terkadang kita tetap bertahan terhadap sesuatu bukan karena tidak ingin keluar dari hal tersebut. Melainkan kita tidak sadar atau tidak teredukasi dengan baik, bahwa itu merupakan hal yang salah. Maka dari itu, mulailah mengenali seperti apa dinamika kekerasan emosional. Cari tahu ciri-ciri gaslighting, trauma bonding, dan stockholm syndrome. Dengan begitu kamu bisa mengenali adanya stockholm syndrome dalam hubungan yang kamu jalani.

Menulis jurnal

Cara lain yang bisa kamu lakukan adalah dengan menulis jurnal. Mungkin terdengar cukup sederhana. Namun, terkadang kita tidak menyadari adanya kesalahan, sebelum kita mencoba mengingat, dan mencurahkannya dalam sebuah tulisan. Kamu bisa mulai dengan menuliskan apa yang kamu alami dan perasaan yang kamu rasakan secara rasional. Lalu, tempatkan dirimu sebagai orang lain dan baca kembali tulisan tersebut. Kira-kira, apa yang kamu rasakan dan alami merupakan hal yang normal atau tidak.

Temukan support system yang baik

Sebisa mungkin tetap terhubung dengan orang-orang terdekatmu. Misalnya dengan teman, sahabat, keluarga, dan lain sebagainya. Miliki orang-orang yang bisa memberikan dukungan secara emosional atau yang dalam hal ini kita sebut dengan support system. Support system inilah yang nantinya akan menyadarkan kamu jika kamu sudah keluar batas, atau dalam hal ini terjebak dalam stockholm syndrome. Teman atau keluarga yang baik akan memberikan gambaran secara nyata tentang mana yang baik dan tidak baik untuk dirimu.

Jangan ragu untuk berbicara dengan psikolog

Perlu kamu ingat bahwa berkonsultasi dengan psikolog tidak perlu menunggu kamu mengalami gangguan mental. Jika kamu merasakan ada yang ganjal dengan hubungan yang kamu jalin, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi terkait hal tersebut dengan psikolog. Selain itu, langkah ini juga bisa membantu untuk mendeteksi adanya kemungkinan gangguan mental lainnya yang dipicu oleh kondisi stockholm syndrome ini.

Itu dia sedikit penjelasan terkait stockholm syndrome. Jika kamu membutuhkan bantuan psikolog, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Kalau Kamu Capek Tapi Nggak Kelihatan: Ini Bisa Jadi Tanda Smiling Depression

 

Sumber:

Namnyak, M., Tufton, N., Szekely, R., Toal, M., Worboys, S., & Sampson, E. L. (2008). "Stockholm syndrome": Psychiatric diagnosis or urban myth?
Journal of Forensic Psychiatry & Psychology, 19(3), 357-370.

Graham, D. L. R., Rawlings, E., & Rigsby, R. K. (1994). Loving to Survive: Sexual Terror, Men’s Violence, and Women’s Lives. New York: NYU Press.

American Psychological Association (APA). (2022). Trauma Bonding and Emotional Abuse.

https://www.apa.org/topics/trauma.

Healthline. (2021). What Is Stockholm Syndrome?. https://www.healthline.com/health/mental-health/stockholm-syndrome.

Verywell Mind. (2022). Understanding Stockholm Syndrome. https://www.verywellmind.com/what-is-stockholm-syndrome-5184094.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Sayang Tapi Terjebak: Saat Gen Z Tak Sadar Mengalami Stockholm Syndrome — DeepTalk