Deeptalk.co.id – Masa sekarang perkembangan teknologi digital memang sangat pesat. Ada saja teknologi baru yang diperkenalkan ke masyarakat. Kehadiran teknologi ini memang sangat membantu meringankan kerja manusia. Namun, tentu ada saja dampak negatif dari teknologi yang sangat canggih ini.
Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi untuk membantu kehidupan kita sayangnya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, para pelaku kejahatan bisa dengan mudah menemukan target mereka, dan melancarkan aksi kejahatannya. Salah satunya kejahatan yang berhubungan dengan kondisi stockholm syndrome.
Stockholm syndrome adalah kondisi dimana seseorang mengalami ikatan emosional dengan orang yang menculik, menyandera, atau melakukan kekerasan terhadap dirinya. Pada banyak kasus stockholm syndrome, penderita tidak segan-segan membela pelaku walaupun itu merugikan dirinya sendiri.
Lantas, bagaimana bisa kondisi stockholm syndrome menjadi lebih beresiko di era digital? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami stockholm syndrome, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Evolusi Stockholm Syndrome di Era Digital

Lahirnya istilah stockholm syndrome didasari dengan sebuah kejadian perampokan bank di Stockholm, Swedia pada tahun 1973. Pada saat itu pelaku perampokan menyandera beberapa korban. Namun setelah dilepaskan, alih-alih menyalahkan pelaku, korban justru membela dan membentuk ikatan emosional dengan pelaku.
Istilah stockholm syndrome sendiri diciptakan oleh seorang psikiater dan kriminologi asal Swedia yang bernama Nils Bajerot. Pada kasus 1973 itu Bajerot yang membantu polisi selama krisis penyanderaan tersebut. Pada saat itu, istilah stockholm syndrome digunakan untuk menggambarkan sikap korban yang memiliki ikatan emosional dengan pelaku penyanderaan.
Seiring dengan berjalannya waktu, terutama di era modern ini. Istilah stockholm syndrome tidak hanya tentang penculikan maupun penyanderaan. Namun, pola dari stockholm syndrome ini ditemukan memiliki kemiripan dengan berbagai kasus, misalnya:
· Hubungan online yang toxic, misalnya hubungan asmara, pertemanan, maupun komunitas yang tidak sehat namun penderita tetap menganggap bahwa itu hal yang benar.
· Manipulasi influencer atau public figure kepada para penggemar fanatiknya. Misalnya saat public figure terbukti melakukan kesalahan fatal, penggemar akan tetap membela dan menganggap benar perilaku orang yang digemarinya itu.
· Manipulasi oleh algoritma yang menampilkan konten tentang ketergantungan emosional dan menurunkan harga diri. Dalam hal ini pengguna tahu bahwa konten tersebut akan memberikan dampak negatif, namun mereka seakan tidak bisa lepas dan terus menggunakan platform tersebut.
Baca juga: Terkurung Rasa Aman Palsu: Stockholm Syndrome dan Dampaknya pada Mental Gen Z
Solusi dan Pencegahan Stockholm Syndrome di Era Digital

Walaupun stockholm syndrome tidak termasuk dalam salah satu jenis gangguan mental yang tercantum di DSM-5. Namun bukan berarti kondisi tersebut bisa dibiarkan begitu saja. Banyak dalam negatif yang bahkan bisa mempengaruhi masa depan penderita. Maka dari itu, kita bisa menerapkan beberapa solusi dan pencegahan stockholm syndrome di era digital berikut:
Digital detox
Cara pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mencoba digital detox. Digital detox adalah upaya untuk mengistirahatkan diri secara berkala dari penggunaan sosial media. Tidak hanya bisa menjadi upaya untuk mencegah stockholm syndrome, namun juga banyak sekali manfaat lainnya dari digital detox. Termasuk untuk membentuk hubungan sehat dengan orang-orang disekitar.
Kritik media dan literasi digital
Cara kedua yang bisa dilakukan adalah dengan kritik media dan literasi digital. Mungkin akan sangat mustahil bagi kita untuk mengontrol apa yang ada di media, terutama media sosial. Namun, kita tentu bisa lebih memahami tentang manipulasi algoritma dan bias konten. Dengan begitu, penggunaan media kita bisa lebih bijak, dan tidak mudah terperdaya oleh informasi-informasi yang tidak valid.
Membangun hubungan sehat secara online
Cara keempat yang bisa dilakukan adalah dengan membangun hubungan yang sehat secara online. Perlu diingat bahwa tujuan utama kemajuan teknologi tentu bukan untuk kejahatan. Melainkan untuk memudahkan kehidupan manusia. Termasuk dalam hal kemudahan berkomunikasi. Lantas, kenapa kita tidak menjadikan media sosial seperti tujuan utamanya. Kita bisa mulai membangun empati, kesetaraan, dan komunikasi yang sehat di media sosial. Dengan begitu, orang disekitar kita akan paham seperti apa hubungan yang sehat itu.
Terapi psikologis
Jika tidak berhasil dengan cara-cara di atas, tidak ada salahnya untuk mencoba cara kelima, yaitu berkonsultasi dan mengikuti sesi terapi dengan psikolog atau psikiater. Dengan cara ini kamu tidak hanya bisa mengatasi stockholm syndrome, namun juga bisa menemukan dan menumbuhkan kemampuan-kemampuan yang kamu miliki.
Itu dia penjelasan singkat terkait kondisi stockholm syndrome, khususnya di era digital. Jika kamu membutuhkan bantuan psikologis, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Sayang Tapi Terjebak: Saat Gen Z Tak Sadar Mengalami Stockholm Syndrome
Sumber:
Namnyak, M., et al. (2008). Stockholm syndrome: Psychiatric diagnosis or urban myth? Acta Psychiatrica Scandinavica, 117(1), 4–11. https://doi.org/10.1111/j.1600-0447.2007.01112.x
Graham, D. L. R., Rawlings, E., & Rigsby, R. K. (1994). Loving to Survive: Sexual Terror, Men's Violence, and Women's Lives. NYU Press.
Andreassen, C. S., et al. (2017). The relationships between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. Addictive Behaviors, 64, 287–293.
Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. PublicAffairs.
American Psychological Association. (2023). Social Media and Mental Health. https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2023/interactive-social-media
Pew Research Center. (2022). Teens, Social Media and Technology. https://www.pewresearch.org/internet/2022/08/10/teens-social-media-and-technology-2022/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



