Semua artikel
Gangguan Psikologi

Waspada! Trauma Bisa Berkembang Menjadi Gangguan Kecemasan

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Secara umum, trauma didefinisikan sebagai pengalaman yang sangat menyusahkan atau mengganggu. Trauma muncul akibat adanya suatu hal yang buruk terjadi pada diri Anda dan kemudian Anda yang terlibat akan hal itu memiliki reaksi yang kuat terhadapnya. Kemungkinan besar trauma yang timbul berpusat pada rasa cemas untuk melindungi diri sendiri, sehingga ada trauma bisa saja berkembang menjadi gangguan kecemasan.

Meskipun demikian, kecemasan merupakan reaksi normal terhadap peristiwa traumatis. Mereka bisa saja bertahan pada hari-hari atau minggu pertama setelah mengalami peristiwa yang penuh dengan tekanan tersebut. Namun, jika perasaan cemas akan peristiwa yang membuat trauma bertahan lebih lama, bisa jadi itu telah berkembang menjadi gangguan kecemasan.

Pada artikel kali ini, kami akan mengulas lebih lanjut mengenai trauma yang membuat perasaan cemas, hingga bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan. Selain itu, kami akan membahas trauma yang dapat memengaruhi otak terlebih dahulu sebagai dasar dari permulaan rasa cemas yang timbul akan trauma, hingga kemudian memunculkan gangguan stres pascatrauma atau PTSD.

Bagaimana Trauma Mempengaruhi Otak?

Trauma bukan sekedar peristiwa atau pengalaman yang membuat Anda tertekan hingga cemas atau mati rasa. Namun, trauma dapat sangat memengaruhi aktivitas otak termasuk stres yang berdampak pada amigdala, hippocampus dan daerah korteks prefrontal.

Amigdala merupakan bagian otak yang berhubungan dengan pemrosesan emosi, yang mana dapat bertugas dalam membentu emosi dan perilaku, serta memproses rasa takut. Sedangkan hippocampus memiliki peran dalam pembentukan memori, juga mengatur fungsi yang berkaitan dengan pembelajaran, motivasi dan emosi. Lalu korteks prefrontal bertanggung jawab atas perilaku kognitif, termasuk persepsi sensorik, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Selain itu, trauma juga dapat memengaruhi sistem neurokimia. Ini terjadi ketika tubuh yang diliputi oleh stres, tubuh akan melepaskan kelebihan kortisol dan norepinefrin. Seiring waktu, hormon ini dapat menyebabkan komplikasi fisik seperti tekanan darah tinggi, sakit kepala, dan kelelahan.

Baca juga: Ini Dia Alasan Pentingnya Mengapa Kamu Harus Curhat

Trauma Memengaruhi Kecemasan

Kecemasan adalah reaksi normal terhadap peristiwa traumatis. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut, dimana trauma sendiri yang timbul dari situasi yang mengancam jiwa merupakan penghasil dari kecemasan.

Trauma secara otomatis menciptakan beberapa respons, seperti melawan (fight), melarikan diri (flight), membeku (freeze) atau menjilat (fawn). Tubuh mempersiapkan diri untuk bertindak dalam mempertahankan dirinya, dan semua itu akan terjadi dalam waktu kurang dari satu kedipan mata. Hal tersebut merupakan bagian dari sistem saraf otonom, yakni ketika seseorang mendeteksi adanya potensi ancaman, saraf ini akan diaktifkan. Setelah itu, tubuh menjadi sangat terangsang, waspada dan siap melakukan sesuatu sebagai bagian dari strategi untuk melindungi dirinya sendiri.

Sedangkan kecemasan merupakan produk sampingan dari hyper-passion. Ini kemungkinan merupakan cara yang dapat membantu menjaga keamanan manusia ribuan tahun lalu. Yakni ketika perjuangan untuk bertahan hidup jauh berbeda dari saat ini.

Untuk cara lainnya ketika trauma dapat menyebabkan kecemasan adalah dengan menghidupkan kembali peristiwa tersebut. Sementara ingatan dapat muncul tanpa seseorang mencoba untuk meningatnya, seringkali orang berpikir mengenai peristiwa itu. Sehingga ketika mereka memikirkan tentang peristiwa yang menyebabkan trauma, tubuh akan memulai keempat trauma respons lagi.

Tubuh sangat dikondisikan untuk merespons dengan cepat di saat-saat yang mengancam jiwa. Ini terjadi sedemikian rupa sehingga ingatan pun dapat menimbulkan respons yang sama bahkan ketika peristiwa traumatis itu sudah tidak ada lagi dan terjadi di masa lalu.

Satu cara lainnya trauma dapat menyebabkan kecemasan ialah dengan mengasingkan diri dari orang lain. Ini memaksa mereka yang telah mengalami trauma untuk menyimpan semuanya sendiri di dalam dirinya. Tentu itu akan memperburuk keadaan dan tidak akan membantu dalam mengatasi trauma. Mereka yang memendam traumanya sendirian akan merasa dirinya berbeda, tidak seperti orang lain, hingga perasaan bersalah sepanjang waktu.

Ini akan memotong orang dari dukungan, yang mereka butuhkan saat itu. Dengan merasa sendirian dan terasing, mereka tidak memiliki kesempatan untuk memproses trauma dengan cara yang aman dan sehat, yang kemungkinan besar akan menyebabkan luka ini bernanah dan berkembang menjadi PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD)

Trauma bisa berkembang menjadi gangguan kecemasan klinis. Gangguan ini dinamakan dengan Gangguan Stres Pascatrauma/Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yang diakibatkan oleh pengalaman atau peristiwa yang disaksikan atau dialami yang mengancam jiwa. Peristiwa tersebut seperti bencana alam, penyerangan fisik atau seksual, kecelakaan mobil, perang hingga diagnosis medis.

Trauma pada dasarnya mengubah aktivitas otak, sehingga hampir setiap orang bisa mengalami gangguan setelah itu. Merasa lebih cemas atau tertekan pada hari-hari atau minggu-minggu awal adalah hal yang wajar, dan masuk akal juga untuk merasakan mati rasa atau apatis. Namun, beberapa orang kemungkinan akan mengalami gejala kecemasan yang memburuk atau bertahan lama.

Gejala tersebut seperti pikiran yang mengganggu terkait dengan trauma, suasana hati tertekan, asa bersalah yang tidak proporsional atas apa yang terjadi, dan hyperarousal atau sikap waspada setiap kali memikirkan peristiwa trauma. Selain itu, seseorang yang mengalami kecemasan setelah mengalami peristiwa trauma akan sering mengalami mimpi buruk hingga kilas balik pada masa-masa kelam.

PTSD sangat menyusahkan dan dapat membuat fungsi sehari-hari terasa sangat menantang. Anda mungkin merasa terganggu di tempat kerja atau di sekolah, atau mungkin menemukan diri Anda mengisolasi atau menjauhkan diri dari orang terdekat Anda. Pikiran dan perasaan yang berulang dapat memengaruhi perasaan Anda tentang diri sendiri dan dunia di sekitar Anda.

Baca juga: Alasan Mengapa Para Lansia Rentan Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

 

Sumber:

How Trauma Can Cause Anxiety. (2022, July 11). eTherapyPro. https://etherapypro.com/trauma-can-cause-anxiety/

Anthony, J. (2020, August 9). The Relationship Between Anxiety & Trauma. Panic and Anxiety Community Support. https://panicandanxiety.org/treatments/talk-therapy/the-relationship-between-anxiety-trauma/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Waspada! Trauma Bisa Berkembang Menjadi Gangguan Kecemasan — DeepTalk