Semua artikel
Keluarga

Waspada Toxic Parenting, Berikut Ciri Orang Tua yang Narsistik

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Narsistik adalah salah satu gangguan kepribadian yang bisa menyerang siapapun. Termasuk orang tua yang sedang mengasuh anak bisa mengidap gangguan kepribadian narsistik.

Orang tua sebagai sekolah pertama seorang anak, dimana mereka akan memberikan pola asuhan dan perawatan yang bisa mendukung tumbuh kembang si anak. Namun, jika orang tua tersebut mengalami gangguan kepribadian narsistik, kemungkinan akan memberikan dampak pola pengasuhan pada anak.

Seorang ibu yang kasar dan narsistik menjebak anak-anaknya untuk bahaya yang tak terhindarkan karena sifat kelainannya. Anak-anak menjadi pelampiasan akibat kebutuhan seorang ibu yang tak terpuaskan akan kontrol, rasa berhak yang berlebihan, kurangnya rasa empati, dan kebutuhan konstan akan perhatian. Semua itu membuatnya mengesampingkan kesejahteraan untuk anak.

Toxic Parenting Orang Tua Narsistik

Young child suffering from parent abuse at home

Kesamaan pada setiap orang tua yang toxic adalah ketidakmampuan mereka untuk menyediakan lingkungan yang aman, sehingga terjadi kesalahan pada pola asuh dan minimnya kasih sayang kepada anak. Pun pada orang tua narsistik, yang tidak memiliki empati atau bahkan hati nurani bahkan untuk anaknya sendiri. Jenis perilaku seperti ini bisa merusak perkembangan anak sebagai bekal mereka menuju kedewasaan.

Orang tua yang memiliki gangguan narsistik memiliki perilaku kebiasaan pola asuh terhadap anak seperti berikut ini :

1. Sering Mempermalukan Anak

Seorang ibu narsistik selalu merasa harus punya kendali dan kekuasaan atas kehidupan anak-anaknya. Kemandirian yang dilakukan oleh seorang anak akan mengancam kendali dan kekuasaan si ibu narsistik. Oleh karenanya, mereka akan mempermalukan anak, baik dalam prestasi, sosial, pilihan karier, dan lain-lain. Ini merupakan taktik untuk memastikan bahwa anak-anaknya tidak pernah mengembangkan rasa identitas atau harga diri yang stabil sehingga mereka tidak akan pernah tumbuh mandiri, di luar mencari validasi atas persetujuan ibu. 

2. Membanding-Bandingkan Dengan Anak Lain

Seperti para narsisis lainnya, ibu narsis terlibat dalam pembuatan triangulasi segitiga di antara anak-anaknya dan bahkan rekan-rekan mereka. Dia secara destruktif membandingkan anak-anaknya dengan teman sebayanya, mengajari mereka bahwa mereka gagal dalam hal penampilan, kepribadian, perilaku patuh, dan prestasi. Mereka akan membandingkan si anak dengan selalu mengajukan pertanyaan, “Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti mereka?” Sehingga perilaku ini membuat anak akan kehilangan kepercayaan diri dan tidak mengenali siapa dirinya sendiri.

3. Memperlakukan Anak Sebagai Buah Hasil Dari Dirinya

Ibu narsistik mengelola secara mikro dan memberikan tingkat kontrol yang berlebihan atas cara anak-anaknya bertindak dan bagaimana publik akan memandang. Anak-anaknya adalah objek dan harus murni dipoles dalam segala hal, jangan sampai reputasi atau penampilan mereka mencemari dirinya sendiri. Meskipun dia mengkritik dan mempermalukan anak dengan hina di balik pintu tertutup, di depan umum dia memamerkan anak-anaknya seolah-olah mereka adalah barang berharga.

Baca juga: Pentingnya Olahraga Untuk Kesehatan Mental

4. Menjadikan Anak Sebagai Rival

Ibu narsistik cenderung menilai terlalu tinggi penampilan dan kecakapan seksualnya sendiri. Para narsisis wanita menunjukkan misogini yang terinternalisasi dan sering memandang wanita lain sebagai persaingan. Dengan demikian, anak perempuannya dipandang dengan amarah, kecemburuan, dan ia anggap sebagai ancaman. Akibatnya, dia mungkin akan merendahkan penampilan putrinya, mengkritik tubuhnya, hingga mempermalukannya.

5. Terobsesi Dengan Hal-Hal Eksternal, Hingga Mengorbankan Kebutuhan Anak

Bagi ibu narsis, penampilan adalah segalanya. Dia mungkin membangun citra palsu sebagai orang yang manis, penuh kasih, dan dermawan kepada orang lain sambil bergosip tentang orang lain, terlibat dalam hal kecil dan melecehkan anak-anaknya secara emosional, fisik, atau bahkan seksual. Dia menikmati status sosial sebagai seorang ibu tanpa melakukan pekerjaan keibuan yang sebenarnya.

6. Terlibat Dalam Pelanggaran Batas yang Mengerikan

Merasa menjadi orang tua yang memiliki figur otoritas, ia malah memanfaatkan tanggung jawabnya dalam mengasuh anak-anak dengan membuat mereka merasa berkewajiban untuk memenuhi keinginan dan harapannya yang sewenang-wenang. Dia melanggar kebutuhan dasar anak-anaknya akan privasi dan otonomi, menuntut untuk mengetahui setiap aspek kehidupan mereka.

7. Emosi Labil Akibat Ancaman Terhadap Superioritasnya

Ibu narsis merasa berhak untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan menanggung luka narsistik ketika rasa superioritas ini dipertanyakan atau terancam dengan cara apa pun. Akibatnya, emosinya cenderung menjadi rollercoaster psikologis dari awal hingga akhir. Dari luapan amarah yang tiba-tiba ketika anaknya gagal mematuhi permintaannya, hingga ledakan cinta yang tiba-tiba terjadi ketika dia membutuhkan sesuatu dari anak-anaknya.

8. Kerap Menimbulkan Rasa Bersalah dan Menyulut Emosi Anak

Ibu narsistik kurang memiliki empati terhadap perasaan anak-anaknya dan gagal mempertimbangkan kebutuhan dasar mereka. Seorang ibu yang narsistik cenderung memberi tahu anak-anaknya bahwa perilaku buruk yang ia lakukan itu tidak pernah terjadi. Ia akan mengklaim bahwa anaknya terlalu sensitif atau bereaksi berlebihan, sehingga si anak tidak pernah merasa valid akan perasaannya. Tipe ibu manipulatif yang mempermainkan dan menyulut emosi mental si anak.

Baca juga: Tidak Hanya Pekerja, Ibu Juga Bisa Burnout Loh!

 

Sumber:

https://psychcentral.com/blog/recovering-narcissist/2018/09/narcissistic-mothers#3

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait