Deeptalk.co.id – Saat memasuki usia lansia, manusia umumnya akan mengalami berbagai masalah kesehatan. Baik itu kesehatan secara fisik, maupun pada kesehatan mental. Jika selama ini kamu cukup familiar dengan kondisi alzheimer pada lansia, namun tahukah kamu terdapat satu kondisi kesehatan mental yang ternyata cukup sering dialami oleh lansia. Kondisi tersebut biasa dikenal dengan istilah sindrom diogenes.
Untuk memberikan pemahaman lebih lanjut mengenai kondisi sindrom diogenes, artikel ini akan secara khusus membahas kondisi tersebut. namun perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi. Jika dirasa penderita membutuhkan bantuan lebih lanjut, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dan mendapatkan penanganan dari para ahli, seperti Psikolog atau Psikiater.
Pengertian Sindrom Diogenes
Sindrom diogenes merupakan salah satu dari gangguan perilaku yang cukup sering dialami oleh lansia. Gangguan ini ditandai dengan hilangnya minat bahkan cenderung mengabaikan perawatan diri hingga di batas yang cukup ekstrim.
Selain dikenal dengan istilah sindrom diogenes, kondisi ini juga dikenal dengan istilah lain seperti sindrom pikun, sindrom pengabaian diri, dan sindrom rumah berantakan. Kondisi ini umumnya dialami oleh lansia dengan kecerdasan rata-rata. Selain itu, kondisi ini beresiko dialami oleh lansia di usia 60 tahun ke atas yang cenderung tinggal sendiri.
Lansia dengan sindrom diogenes cenderung tidak memperhatikan penampilannya dan menarik diri dari lingkungannya. Bahkan, beberapa dari mereka memiliki kebiasaan untuk menumpuk barang tanpa mempedulikan kerapian.
Bagi lansia dengan kondisi sindrom diogenes yang tinggal sendiri, tidak heran jika melihat kondisi rumahnya menjadi berantakan, tidak teratur, kotor, bahkan berbau tidak sedap. Dengan demikian, lansia dengan kondisi ini sangat membutuhkan kontribusi orang lain untuk membantu agar lingkungannya bisa terlihat lebih rapi.
Penderita sindrom diogenes juga cenderung tidak memperhatikan kesehatan mereka. Mereka tetap merasa nyaman walau tinggal di rumah yang berantakan dan berbau tidak sedap. Mereka bahkan lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah daripada harus berinteraksi dengan orang lain. Penderita sindrom diogenes juga enggan untuk mendapatkan bantuan dari orang lain. Hal ini tentu akan mempersulit penanganan pada penderita.
Penyebab Sindrom Diogenes

Sayangnya penelitian mengenai sindrom diogenes ini belum terlalu banyak dibahas. Hal ini juga membuat penyebab pasti dari kondisi ini juga belum diketahui hingga saat ini. Meski demikian, cukup banyak penderita sindrom diogenes yang mengalami kondisi ini setelah melalui peristiwa traumatis seperti meninggalnya orang yang dicintai. Peristiwa tersebutlah yang akhirnya menimbulkan stress dan berakhir pada kondisi sindrom diogenes.
Selain itu, beberapa kondisi kesehatan juga dipercaya dapat meningkatkan resiko sindrom diogenes. Berikut beberapa kondisi kesehatan yang dimaksud:
Demensia
Kondisi kesehatan yang satu ini memang cukup sering dialami oleh lansia. Demensia sendiri merupakan kondisi dimana seseorang mengalami penurunan daya ingat dan cara berpikir yang umum terjadi pada lansia.
Baca juga : Menganggap Diri Sebagai Mayat Berjalan? Waspada Gejala Sindrom Cotard
Depresi
Seperti yang sudah diketahui, depresi merupakan kondisi dimana seseorang mengalami kesedihan yang mendalam dan membuat penderitanya kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Jika dilihat dari pengertiannya saja maka sudah dapat diketahui hubungan antara depresi dengan sindrom diogenes pada lansia.
Stroke
Stroke merupakan salah satu kondisi kesehatan fisik yang merupakan penyakit pembuluh darah otak. Kondisi ini mengakibatkan penderitanya tidak bisa mengontrol beberapa bagian dari tubuhnya. Dengan demikian, karena keterbatasan tersebut penderita cenderung tidak mampu untuk memperhatikan diri sendiri.
Gangguan penglihatan
Sama halnya dengan stroke, gangguan penglihatan juga membuat penderitanya mengalami keterbatasan untuk memperhatikan lingkungan dan diri sendiri. Gangguan penglihatan disini bisa berupa rabun, katarak, atau buta total.
Terganggunya mobilitas
Ada kalanya lansia mengalami gangguan pada mobilitas mereka. Hal ini tidak mengherankan jika mengingat lansia mengalami penurunan terhadap fungsi tubuhnya. Gangguan mobilitas ini bisa disebabkan oleh patah tulang, radang sendiri, atau kondisi kesehatan sejenisnya.
Gejala Sindrom Diogenes

Gejala yang ditunjukkan oleh penderita sindrom diogenes bisa berbeda-beda dengan tingkat keparan yang berbeda-beda juga antara satu penderita dengan penderita lainnya. Meski demikian, secara umum penderita sindrom diogenes cenderung mengabaikan kondisi diri dan lingkungannya. Selain itu, penderita sindrom diogenes juga menunjukkan beberapa gejala seperti:
· Menarik diri dari lingkungan dan lebih senang menyendiri di dalam rumah atau kamar mereka.
· Karena mengabaikan kebersihan diri, penderita juga cenderung mengalami bau badan yang tidak sedap, penampilan yang berantakan, hingga bau mulut dan gangguan pada gigi dan mulut.
· Memiliki sikap obsesif dan impulsif
· Cenderung mengalami kecemasan sosial yang cukup ekstrim.
· Enggan dan bahkan menolak bantuan dari orang lain, termasuk dari anak atau anggota keluarga lainnya untuk merawat dirinya.
· Memiliki kamar dengan kondisi yang berantakan, banyak serangga, dan berbau tidak sedap.
· Mengalami pola makan yang buruk, bahkan sampai kekurangan nutrisi.
· Memiliki kebiasaan untuk mengumpulkan dan menimbun barang-barang atau limbah yang tidak diperlukan.
Seperti itulah gejala dan penjelasan seputar sindrom diogenes. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Ini Dia Dampak dan Penanganan pada Kasus Dissociative identity disorders (Kepribadian Ganda)
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



