Deeptalk.co.id – Pernahkah kamu mendengar istilah duck syndrome? Istilah tersebut menggambarkan kondisi dimana seseorang tampang sangat tenang di permukaan, namun menyimpan stress atau tekanan berlebih di dalam dirinya.
Seperti namanya, duck syndrome ini memang seperti bebek yang sedang berenang. Seperti yang kita ketahui, saat berenang dipermukaan air bebek memang sangat tenang. Namun yang tidak terlihat di dalam air, bebek sedang menggerakkan kaki-kakinya.
Duck syndrome merupakan kondisi yang umumnya dialami pada usia-usia produktif. Dimana pada usia tersebut seseorang cenderung ingin menampilkan kemampuan yang dimiliki secara maksimal. Namun disisi lain, banyak orang yang sering lupa bahwa setiap orang juga memiliki kekurangan. Pada penderita duck syndrome, kekurangan tersebut tidak akan ditampakan. Bahkan sering kali terpendam dalam diri mereka.
Untuk mengenal lebih jauh mengenai duck syndrome, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai dampak dan cara penanganan duck syndrome. Namun sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikiater atau psikolog. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Dampak Duck Syndrome

Perlu diingat bahwa duck syndrome pada dasarnya tidak masuk dalam kategori gangguan mental manapun. Orang dengan duck syndrome umumnya bisa bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan baik, bahkan bisa sangat produktif. Namun, duck syndrome bukan kondisi yang bisa diabaikan begitu saja. Pasalnya, sindrom psikologis yang satu ini bisa memberikan dampak negatif bagi penderitanya. Berikut beberapa dampak duck syndrome:
Gangguan kecemasan
Duck syndrome yang dibiarkan begitu saja bisa memicu gangguan kecemasan. Awalnya penderita duck syndrome memang merasakan kecemasan yang normal. Hal tersebut dipicu oleh rasa takut akan tidak bisa tampil sempurna di hadapan orang lain. Jika penderita duck syndrome tidak bisa mengatasi hal tersebut, tidak menuntut kemungkinan kecemasan yang normal itu berujung pada gangguan kecemasan atau anxiety disorder.
Burnout
Selain beresiko mengalami gangguan kecemasan, seseorang dengan duck syndrome juga bisa saja mengalami burnout. Burnout merupakan kondisi dimana seseorang merasa lelah baik secara fisik maupun mental, yang disebabkan oleh pekerjaan berlebih. Penderita duck syndrome cenderung berbuat lebih untuk bisa menampilkan pencapaian mereka. Jika dibiarkan, penderita bisa mengalami burnout.
Depresi
Orang dengan duck syndrome juga berpotensi mengalami depresi. Tentunya jika duck syndrome dibiarkan begitu saja. Depresi adalah gangguan psikologis yang ditandai dengan perasaan sedih mendalam, dan membuat penderitanya seakan kehilangan semangat hidup. Depresi biasanya muncul akibat penderita tidak mampu memenuhi ekspektasi yang diharapkan orang lain dan diri sendiri.
Gangguan tidur
Dampak duck syndrome selanjutnya bisa berupa gangguan tidur, yaitu gangguan psikologis yang ditandai dengan pola tidur yang tidak sehat. Gangguan tidur pada penderita duck syndrome bisa berupa sulit tidur, tidur tidak nyenyak, mimpi buruk, dan masih banyak lagi.
Mindset treadmill hedonic
Penderita duck syndrome juga beresiko mengalami mindset treadmill hedonic, yaitu kondisi dimana seseorang mengejar kebahagiaan tanpa menikmati prosesnya. Padahal, setiap proses dalam mencapai tujuan akan selalu ada pembelajaran di dalamnya. Selain itu, proses juga akan membuat kita sadar bahwa segala sesuatunya membutuhkan perjuangan.
Baca juga: Apa Itu Duck Syndrome?
Penanganan Duck Syndrome

Berpura-pura baik disaat kamu sedang dalam kondisi tertekan bukanlah sebuah pilihan. Ibaratnya, kamu menyimpan banyak sampah psikologis di dalam dirimu. Semakin banyak sampah, semakin tidak kuat dirimu untuk menampungnya. Dengan demikian, akan ada waktu dimana tumpukkan sampah tersebut meledak. Untuk itu, penting bagi kita menangani kondisi yang satu ini.
Tidak ada penanganan khusus untuk kasus duck syndrome. Namun, kamu bisa mencari penyaluran emosi dengan tepat, daripada memendam perasaan tersebut. Kamu bisa mencobanya dengan membuat karya seni, menulis jurnal, atau sekedar bercerita dengan orang lain.
Opsi lainnya yang bisa kamu coba adalah dengan melakukan konsultasi pada para ahli. Kamu bisa mengunjungi psikolog atau psikiater. Dari konsultasi tersebut akan diketahui kondisi psikologis dan metode penanganan apa yang bisa kamu jalankan. Penanganan oleh profesional akan sangat penting, terutama jika kondisi yang kamu alami sudah masuk dalam kategori gangguan mental.
Jenis penanganan oleh para ahli juga cukup beragam, mulai dari mengkonsumsi obat-obatan, hingga mengikuti serangkaian psikoterapi. Obat-obatan yang dikonsumsi harus melalui resep dokter / psikiater, dan dikonsumsi sesuai resep tersebut. Sedangkan psikoterapi penting dilakukan sesuai arahan profesional. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir penanganan yang tidak tepat, dan memaksimalkan metode penanganan yang dilakukan.
Itu dia penjelasan singkat mengenai dampak dan cara mengatasi duck syndrome. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Gen Z Rentan Mengalami Duck Syndrome
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



