Deeptalk.co.id – Kamu tentu pernah mendengar istilah toxic positivity dan positive vibes. Kedua istilah tersebut memang sama-sama menganut kata positif, namun salah satu diantaranya justru tidak baik atau memberikan dampak negatif untuk diri sendiri.
Artikel kali ini akan secar
a khusus membahas tentang toxic positivity dan positive vibes dalam perspektif psikologi. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis atau penanganan terhadap gangguan mental. Jika kamu mengalami gejala gangguan mental, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog agar mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Apa Itu Positive Vibes?

Positive vibes adalah energi emosional positif yang dipancarkan dalam interaksi sosial. Tidak hanya tentang emosi positif. Namun juga sikap realistis dan optimisme, empati, menularkan semangat, dan ketenangan emosional. Dalam banyak teori yang membahas tentang positive vibes, dipercaya bahwa emosi atau energi positif ini bisa menular kepada orang-orang disekitar. Itu dia salah satu alasan mengapa kita dianjurkan untuk memiliki lingkungan yang positif, atau berteman dengan orang-orang yang memiliki positive vibes.
Istilah positive vibes sendiri sudah lama ada. Namun, perkembangan teknologi membuat istilah ini kembali diperbincangkan. Selain itu perkembangan pengetahuan, khususnya ilmu psikologi positif juga mendukung penyebaran informasi tentang positive vibes.
Uniknya, walaupun positive vibes mengandung unsur-unsur yang berkaitan dengan psikologi dan kesehatan mental. Positive vibes awalnya muncul karena adanya budaya Hippie dan New Age, pada tahun 1960-1970an. Barulah di tahun 2000-an awal istilah positive vibes mulai di dalami dalam perspektif psikolog, seiring dengan berkembangnya ilmu psikologi positif.
Baca juga: Mengapa Positive Vibes Bisa Menular? Perspektif Psikologi Sosial
Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah sebuah upaya untuk memaksakan pikiran positif dengan mengabaikan segala bentuk emosi negatif yang dirasakan. Bisa dikatakan bahwa pikiran positif dalam konteks toxic positivity ini cenderung berlebihan, dan bahkan tidak realistis. Misalnya, memaksakan diri untuk tersenyum saat sedang dalam kondisi duka, atau mencoba melihat sisi positif dari musibah yang sudah jelas merugikan dengan tentunya mengabaikan emosi negatif yang dirasakan.
Walaupun mengandung unsur positif, namun pada dasarnya toxic positivity adalah hal negatif yang bersembunyi dalam kata positif. Emosi dalam bentuk apapun itu adalah hal yang normal. Termasuk untuk merasakan kesedihan dengan emosi-emosi negatif lainnya. Sedangkan kasus toxic positivity ini malah mengabaikan emosi negatif, dan memaksakan emosi positif.
Apa Perbedaan Positive Vibes dengan Toxic Positivity?

Positive vibes dan toxic positivity memang memiliki perbedaan yang sangat tipis. Bahkan tidak jarang orang menganggap dirinya positive vibes, namun ternyata sudah masuk ke ranah toxic positivity. Maka dari itu, perlu ada pembatas antara positive vibes dengan toxic positivity. Berikut beberapa perbedaan antara positive vibes dengan toxic positivity yang perlu kita ketahui:
Pendekatan terhadap emosi
Aspek pertama yang bisa diperhatikan untuk membedakan positive vibes dengan toxic positivity bisa dilihat dari pendekatan terhadap emosinya. Seseorang dengan positive vibes menerima segala bentuk emosi, baik itu negatif maupun positif. Mereka tidak menyangkal adanya emosi negatif, dan tidak memaksakan emosi positif. Selain itu, orang dengan positive vibes juga memiliki harapan dan semangat dibalik segala bentuk emosi yang dirasakan.
Berbeda dengan toxic positivity. Orang dengan toxic positivity cenderung menyangkal segala bentuk emosi negatif, dan memaksakan emosi positif. Mereka tidak menerima adanya rasa sedih, kecewa, marah, dan lain sebagainya. Melainkan, mereka akan memaksakan diri untuk merasa bahagia, walau kondisinya mengharuskannya merasa sedih.
Motivasi dasar
Aspek kedua yang bisa diperhatikan untuk membedakan positive vibes dengan toxic positivity bisa dilihat dari motivasi yang mendasarinya. Orang-orang dengan positive vibes melakukan sesuatu atas dasar empati, tulus, dan memberikan dukungan. Mereka memiliki sisi positif yang nyata untuk menyalurkan energi positifnya. Berbeda dengan toxic positivity. Orang dengan toxic positivity melakukan sesuatu demi untuk menghindari ketidaknyamanan emosional.
Efek psikologis
Aspek ketiga yang bisa diperhatikan untuk membedakan positive vibes dengan toxic positivity bisa dilihat dari efek psikologis yang ditimbulkan. Seseorang dengan positive vibes akan mengalami peningkatkan kesejahteraan psikologis, dan empati terhadap sesama. Sedangkan orang dengan toxic positivity sangat beresiko mengalami tekanan emosi, rasa bersalah, dan isolasi diri.
Itu dia sedikit penjelasan terkait toxic positivity, positive vibes, dan perbedaan dari keduanya. Penting bagi kita mengenali kedua kondisi tersebut. Pasalnya, keduanya memiliki banyak sekali kesamaan. Namun, dampak dari keduanya sangat bertolak belakang. Terutama bagi kondisi mental kita.
Jika kamu mengalami masalah kesehatan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan psikolog. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, untuk berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Menyelami Positive Vibes: Antara Emosi Positif dan Kesehatan Mental
Sumber:
Fredrickson, B. L. (2001). The Role Of Positive Emotions In Positive Psychology: The Broaden-And-Build Theory Of Positive Emotions. American Psychologist, 56(3), 218–226.
Quintero, L., & Long, K. (2019). Toxic Positivity: The Dark Side Of Positive Vibes. Journal of Humanistic Psychology.
Kashdan, T. B., & Biswas-Diener, R. (2014). The Upside of Your Dark Side. Hudson Street Press.
Neff, K. D. (2003). Self-Compassion: An Alternative Conceptualization Of A Healthy Attitude Toward Oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



