Deeptalk.co.id – Pernahkah kamu merjumpa dengan orang tua yang merasa sangat sedih karena tinggal terpisah dengan anaknya? Atau justru orang tuamu sendiri yang tampak kesepian setelah kepindahan mu dari rumah mereka? Jika demikian, maka kamu wajib membaca artikel ini sampai selesai.
Orang tua yang merasa sedih, kesepian, atau kekosongan setelah anak-anaknya tinggal terpisah darinya dikenal dengan istilah empty nest syndrome. Sebenarnya perasaan tersebut cukup normal jika mengingat betapa kuat kelekatan antara orang tua dan anak. Namun tentunya, anak tidak bisa selalu bersama orang tuanya. Anak juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi menjadi mandiri. Misalnya saat merantau untuk melanjutkan pendidikan, atau tinggal terpisah setelah menikah.
Empty nest syndrome sendiri merupakan kondisi psikologis yang tanpa kita sadari cukup sering terjadi pada para orang tua. Kondisi ini akan semakin terasa jika orang tua sudah tidak memiliki pasangan hidup, pensiun dari pekerjaan, dan juga tidak memiliki aktivitas untuk mengisi waktu luang. Pasalnya, kondisi-kondisi semacam itu semakin memperbesar sara kesendirian pada orang tua tersebut.
Sayangnya, orang tua sering sekali mengabaikan perasaan-perasaan tersebut. Mereka tidak terlalu peduli dengan kondisi mentalnya sendiri, dan bahkan lebih sering memikirkan kondisi anak-anak mereka. Maka dari itu sebagai anak dan orang terdekat para orang tua, sudah sepantasnya untuk kita menyisihkan sedikit waktu untuk membantu mereka menemukan kesejahteraan di akhir hidupnya.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai cara menghadapi orang tua dengan kondisi empty nest syndrome. Namun sebelum kita masuk pada topik utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi. Jika kamu memiliki orang tua dengan kondisi empty nest syndrome, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater.
Empty nest syndrome pada dasarnya merupakan salah satu kondisi psikologis. Meski demikian, empty nest syndrome tidak termasuk gangguan mental atau gangguan psikologis. Namun perlu diketahui bahwa, empty nest syndrome sangat mungkin memicu berbagai gangguan psikologis bagi penderitanya. Oleh sebab itu, kondisi empty nest syndrome tetap perlu diperhatikan, khususnya oleh orang-orang terdekat penderita.
Berikut beberapa tips yang bisa dipraktekan dalam menghadapi orang tua dengan kondisi empty nest syndrome:
Yakinkan Orang Tua Bahwa Kondisi Tersebut Akan Baik-Baik Saja

Setiap orang tua tentu memiliki respon yang berbeda-beda saat anaknya pindah dari rumah mereka. Meski demikian sebagian besar dari mereka tetap merasakan kesedihan, walaupun tidak semua menunjukkannya.
Sebagai anak atau orang terdekat, sudah sepantasnya untuk kita menghibur mereka. Jelaskan bahwa apa yang dirasakan saat itu sangatlah normal. Perasaan tersebut justru salah satu bukti nyata cinta orang tua terhadap anaknya.
Jelaskan juga bahwa kondisi anak akan baik-baik saja di rumah yang baru. Walaupun sudah tinggal di rumah yang berbeda, namun peran orang tua masih sangat anak butuhkan. Maka dari itu, tidak akan ada yang berubah, selain tempat tinggal mereka.
Baca juga: Tips Mengatasi Perasaan Hampa Saat Anak Meninggalkan Rumah (Empty Nest Syndrome)
Rutin Mengunjungi Orang Tua

Cobalah untuk mengatur waktu agar bisa secara rutin mengunjungi orang tua. Dengan begitu orang tua akan sedikit terhibur akan kehadiran orang-orang terdekatnya. Tidak ada salahnya juga untuk merayakan moment-moment berharga bersama orang tua. Misalnya memberikan kejutan ulang tahun, dan lain sebagainya.
Cara yang satu ini bisa membuat orang tua melupakan kesedihan mereka. Selain itu, orang tua juga tetap merasa berharga, walaupun anak tidak lagi tinggal bersama mereka. Mungkin cukup sederhana bagi anak, namun orang tua merasakan upaya anak dengan sangat baik kepada mereka.
Ajak Orang Tua Melakukan Aktivitas Bersama

Jika kamu sudah biasa keluar rumah bersama teman-teman, maka cobalah sesekali ajak orang tua keluar. Mereka mungkin saja sudah cukup jenuh di rumah, namun tidak enak hati untuk memberitahu anak-anaknya. Bangun inisiatif untuk mengajak orang tua keluar rumah. Tidak perlu liburan ke luar kota, cukup makan bersama di restoran, menonton bioskop, ke salon, dan masih banyak lagi kegiatan yang bisa kalian lakukan bersama.
Rutin Menghubungi Orang Tua

Mungkin orang tua jarang menghubungimu karena takut mengganggu waktu sibukmu. Maka dari itu, tidak ada salahnya jika kamu menghubunginya duluan. Sesekali kirimkan pesan-pesan hangat, seperti menanyakan kabarnya hari itu. Jika kamu memiliki waktu luang, cobalah untuk melakukan panggilan video bersama keluarga kecilmu.
Langkah tersebut akan membantu orang tua mengusir rasa khawatir mereka terhadap anak dan keluarga kecil anaknya. Selain itu, orang tua juga bisa menceritakan banyak hal yang selama ini mereka pendam.
Itu dia beberapa cara yang bisa kamu lakukan dalam menghadapi orang tua dengan kondisi empty nest syndrome. Jika kondisi orang tua semakin buruk, segera ajak mereka untuk mendapatkan perawatan secara profesional dengan para ahli.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengenal Istilah Empty Nest Syndrome Pada Orang Tua
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



