Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah kamu melihat ekspresi sedih orang tua saat ditinggal merantau anaknya? Hal tersebut adalah respon yang normal. Pasalnya, orang tua menghabiskan banyak waktu dengan anak dari mereka lahir hingga dewasa. Namun, bagaimana jika orang tua merasakan sedih itu berkelanjutan dan membuatnya merasa hampa? Jika demikian, bisa jadi orang tua tersebut mengalami kondisi yang dikenal dengan istilah empty nest syndrome.
Empty nest syndrome atau sindrom sarang kosong adalah istilah untuk menggambarkan perasaan sedih, hampa, atau kosong, saat anak meninggalkan rumah. Bisa karena anak merantau untuk melanjutkan pendidikan atau mengejar karir impiannya, bisa juga karena anak menikah dan melanjutkan hidup dengan keluarga kecilnya.
Kondisi empty nest syndrome ini umumnya dialami oleh ibu, walaupun beberapa ayah juga mengalami kondisi serupa. Kenapa lebih sering terjadi pada ibu? Soalnya, mayoritas ibu menghabiskan banyak waktu dan tenaganya untuk menemani anak-anak mereka. Ibu juga yang mengandung anak selama 9 bulan sebelum akhirnya anak itu lahir ke dunia. Hal tersebut membuat mayoritas ibu memiliki kelekatan yang lebih kuat kepada anak, dibandingkan dengan sang ayah. Dengan demikian, kondisi empty nest syndrome ini lebih sering dijumpai pada ibu.
Setiap orang tua pasti berharap anaknya bisa tumbuh mandiri. Namun terkadang ada hal yang harus dikorbankan untuk membentuk kemandirian tersebut, yaitu perpisahan dengan anak. Walaupun tinggal terpisah dengan anak masih bisa membuat orang tua berjumpa dengan anak mereka, namun tentu tidak akan sesering saat mereka tinggal bersama. Hal inilah yang pada akhirnya memicu rasa sedih mendalam untuk sebagian orang tua.
Empty nest syndrome memang merupakan salah satu kondisi psikologis, namun kondisi tersebut tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Walaupun begitu, empty nest syndrome bisa memicu berbagai jenis gangguan mental yang berbahaya, misalnya stress, gangguan kecemasan, dan juga depresi. Maka dari itu, kondisi empty nest syndrome merupakan hal serius yang harus ditangani.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai tips mengatasi perasaan hampa saat anak meninggalkan rumah, atau dalam artikel ini kita sebut dengan empty nest syndrome. Namun sebelum kita masuk pada topik utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi. Jika kamu merasa mengalami beberapa gejala empty nest syndrome, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi empty nest syndrome:
Terima Kesedihan yang Kamu Rasakan

Perasaan sedih saat anak meninggalkan rumah pada dasarnya adalah hal yang normal. Untuk itu, tidak seharusnya kamu menolak keberadaan perasaan tersebut. Cukup terima sebagaimana kamu merasa sedih. Pahami bahwa perasaan tersebut normal untuk dirasakan oleh setiap orang tua.
Namun perlu diketahui bahwa setiap rasa sedih kamu kamu alami akan berlalu seiring dengan bertambahnya waktu. Pastikan bahwa rasa sedih yang kamu alami bukan termasuk dalam kategori depresi. Jangan ragu untuk mengekspresikan rasa sedih tersebut, termasuk menceritakan perasaanmu dengan pasangan atau orang terdekat.
Baca juga: Mengenal Istilah Empty Nest Syndrome Pada Orang Tua
Mengerjakan Hobi

Selama orang tua tinggal bersama anak, bisa jadi orang tua terlalu fokus kepada anak dan lupa dengan hobi mereka. Dengan demikian jadikan moment kepindahan anak sebagai waktu untuk orang tua mengerjakan hobi.
Salah satu manfaat dimasa tua adalah memiliki banyak waktu luang. Maka dari itu, gunakan waktu luang tersebut dengan mengerjakan hobi yang belum sempat kamu kerjakan. Misalnya dengan merajut, bermain musik, berkebun, dan masih banyak lagi.
Bergabung Dengan Komunitas atau Aktif Dalam Kegiatan Sosial

Selain mengerjakan hobi, upaya lainnya yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang di masa tua adalah dengan bergabung bersama komunitas atau aktif dalam kegiatan sosial. Kegiatan semacam ini akan membuat orang tua lebih aktif, bertemu orang baru, berbagi cerita dengan teman sebaya, dan tentunya mampu mengalihkan pikiran ke hal-hal yang lebih positif. Dengan demikian perasaan sedih akibat empty nest syndrome bisa teratasi dengan baik.
Memanfaatkan Teknologi

Tinggal berpisah dengan anak bukan berarti kita tidak bisa menjalin komunikasi dengan anak. Jika Ayah atau Ibu merasa rindu dengan anak, cobalah untuk belajar memanfaatkan teknologi. Orang tua bisa mengirim pesan secara berkala, menelepon anak di waktu senggang, dan tentunya video call jika ingin bertatapan wajah dengan anak. Kegiatan sederhana itu bisa sedikit melepas rindu kepada anak.
Selalu Berpikiran Positif

Walaupun sulit untuk tinggal terpisah dengan anak, namun orang tua tetap harus sadar bahwa semua ini demi kebaikan anak. Tanamkan selalu pikiran-pikiran positif di dalam benak Anda. Lagi pula, orang tua masih tetap bisa mengunjungi anak, atau sebaliknya. Jangan terlalu tenggelam dalam rasa sedih.
Itu dia beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi empty nest syndrome. Jangan ragu untuk mencari pertolongan profesional jika memang dibutuhkan. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Cegah Post Power Syndrome Sebelum Memasuki Usia Pensiun
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



