Semua artikel
Sindrom Psikologi

Imposter Syndrome di Tempat Kerja: Hambatan Karir bagi Generasi Z

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Saat artikel ini dibuat, gen z sudah berusia 13-28 tahun. Artinya, beberapa dari mereka sudah mulai merambat ke dunia kerja. Dunia kerja bisa menjadi tempat dimana seseorang meningkatkan kemampuan mereka. Namun, dalam beberapa kondisi dunia kerja juga bisa menjadi tempat dimana seseorang tidak bisa untuk berkembang.

Salah satu hambatan karir seorang gen z adalah imposter syndrome, yaitu kondisi psikologis dimana seseorang merasa tidak pantas atas pencapaian atau keberhasilan yang didapatkan. Kondisi imposter syndrome ini rupanya banyak ditemukan pada gen z yang sedang meniti karir mereka. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas imposter syndrome pada gen z, khususnya di dunia kerja.

Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala imposter syndrome dan terganggu akan hal tersebut. Cobalah untuk berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan penangan yang tepat.

Penyebab Imposter Syndrome di Tempat Kerja

Writing in textbook

Pada dasarnya imposter syndrome bisa dialami oleh siapa saja, dan dimana saja. Namun pada kasus gen z di tempat kerja ini, kondisi imposter syndrome bisa mengganggu produktivitas dan kinerja kerja mereka. Untuk menghindari hal tersebut, tentu kita perlu mengenal penyebab imposter syndrome di tempat kerja berikut:

Tekanan teknologi

Seperti yang kita ketahui, gen z tumbuh di era perkembangan teknologi yang sangat pesat. Hal tersebut memang membantu dibeberapa faktor. Namun sayangnya, semakin canggih teknologi bisa semakin meningkat kecemasan para gen z. Pasalnya, teknologi yang semakin canggih ini sudah mulai mengambil alih pekerjaan gen z. Selain itu, gen z juga harus lebih handal dalam mengoperasikan hal-hal teknis. Kondisi semacam ini seringkali membuat gen z meragukan kemampuan yang mereka miliki, dimana hal tersebut erat kaitannya dengan imposter syndrome.

Transisi ke dunia kerja

Gen z baru mulai memasuki masa transisi dari menempuh pendidikan ke dunia kerja. Kedua fase hidup tersebut sangat jauh berbeda. Saat menempuh pendidikan gen z akan belajar tentang hal-hal baru. Sedangkan di dunia kerja mereka akan menemukan tantangan yang sesungguhnya. Gen z perlu untuk belajar memegang tanggung jawab, dimana dalam beberapa kondisi hal tersebut membuat mereka tidak percaya diri dan bisa memicu kondisi imposter syndrome.

Karakteristik dan kepribadian

Beberapa karakteristik dan kepribadian memang bisa beresiko lebih besar mengalami imposter syndrome. Misalnya pada orang dengan sifat perfeksionis. Mereka merasa segalanya harus sempurna, termasuk kemampuan yang dimiliki. Maka dari itu walaupun kemampuan sudah cukup baik untuk mencapai keberhasilan, mereka tetap merasa kurang akan hal tersebut.

Baca juga: Tekanan Media Sosial dan Imposter Syndrome: Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Gen Z

Dampak Imposter Syndrome di Tempat Kerja

Learning programming language

Walaupun tidak termasuk dalam kategori gangguan mental. Namun imposter syndrome pada kenyataannya bisa memicu berbagai masalah. Imposter syndrome di tempat kerja bisa memicu berbagai masalah, misalnya:

Penurunan kesehatan mental

Dalam beberapa kondisi imposter syndrome bisa memperburuk kondisi mental seseorang. Terutama jika kondisi imposter syndrome ini dibiarkan dalam jangka panjang dan tidak mendapatkan penanganan. Kondisi imposter syndrome bisa memicu masalah mental seperti, stress, kecemasan, bahkan depresi.

Penurunan produktivitas

Dampak lain dari imposter syndrome di tempat kerja adalah bisa memicu penurunan produktivitas. Dimana penurunan produktivitas ini justru bisa mempengaruhi performa kerja seseorang. Terutama untuk para gen z yang seharusnya sedang dalam masa produktifitas yang tinggi.

Hilangnya kepuasan kerja

Kondisi imposter syndrome di tempat kerja juga bisa memicu hilangnya kepuasan di tempat kerja. Kondisi ini bisa menimbulkan masalah yang lebih beragam lagi, misalnya kehilangan motivasi bekerja, hingga penurunan semangat kerja.

Tips Mengatasi Imposter Syndrome

Doing homework

Untuk para gen z, kondisi imposter syndrome bukan hal yang mustahil untuk dilawan. Justru jika kondisi imposter syndrome belum terlalu parah, kamu bisa mengatasinya dengan cara-cara sederhana. Maka dari itu, untuk mengatasi imposter syndrome langkah awal yang harus dilakukan adalah mengenali keberadaan imposter syndrome dalam diri kita.

Langkah lain yang bisa dilakukan untuk mengatasi imposter syndrome adalah sebagai berikut:

·         Menerima ketidaksempurnaan, dan menyadari bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses belajar.

·         Membangun jaringan dukungan yang positif, bisa dari keluarga, teman kerja, pasangan, dan orang-orang yang bisa memberikan dampak positif.

·         Hindari membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik untuk fokus terhadap pencapaian dan usaha yang dimiliki.

·         Mengenali dan menghargai setiap prestasi yang didapatkan sebagai bentuk kerja keras, usaha, dan kemampuan yang dimiliki.

Itu dia beberapa cara mandiri yang bisa dilakukan untuk mengatasi imposter syndrome. Namun jika memang dirasa kurang, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id dan berkonsultasi dengan psikolog yang ada disana. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan metode penanganan yang tepat. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Ketika Generasi Z Meragukan Diri Sendiri: Mengupas Imposter Syndrome dan Cara Mengatasinya

 

Sumber:

Berger, C. (2022). Gen Z is overwhelmed by ‘tech shame’ at work—and it’s keeping them quiet in meetings. Fortune. https://fortune.com/2022/12/15/gen-z-workers-overwhelmed-tech-shame/?.com. Diakses pada 26 Maret 2025.

Mengenal Impostor Syndrome: Ketidakpercayaan Diri di Tempat Kerja. (2021). My Edu Solve. https://myedusolve.com/blog/mengenal-impostor-syndrome?.com. Diakses pada 26 Maret 2025.

Mahasiswa Tel-U Teliti Impostor Syndrom yang Menghantui Masa Depan Generasi Z. (2023). Telkom University. https://telkomuniversity.ac.id/en/mahasiswa-tel-u-teliti-impostor-syndrom-yang-menghantui-masa-depan-generasi-z/?.com. Diakses pada 26 Maret 2025.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Imposter Syndrome di Tempat Kerja: Hambatan Karir bagi Generasi Z — DeepTalk