Semua artikel
Sindrom Psikologi

Tekanan Media Sosial dan Imposter Syndrome: Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Gen Z

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah5 menit baca

Deeptalk.co.id – Pernahkah kamu mendengar tentang istilah impostor syndrome? Istilah impostor syndrome digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi psikologis, dimana seseorang merasa tidak pantas akan pencapaian yang didapatkan. Seseorang dengan kondisi impostor syndrome ini beranggapan bahwa pencapaian yang didapatkan merupakan sebuah keberuntungan atau bantuan dari orang lain. Walaupun cukup jelas bahwa pencapaian tersebut dikarenakan kerja keras, usaha, dan kemampuan yang mereka miliki.

Fenomena impostor syndrome ini sebenarnya cukup sering kita jumpai. Terutama dialami oleh para gen z yang tumbuh di era perkembangan teknologi dan media sosial. Walaupun teknologi dan media sosial memberikan banyak sekali manfaat, rupanya tidak sedikit hal tersebut justru mengganggu kondisi mental seseorang. Salah satunya bisa memicu kondisi impostor syndrome.

Lantas, bagaimana media sosial bisa memicu impostor syndrome pada gen z, dan bagaimana dampak impostor syndrome terhadap kesehatan mental gen z? artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala impostor syndrome dan terganggu akan kondisi tersebut. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Peran Media Sosial dalam Memicu Impostor Syndrome

Man walking away from group concept illustration

Media sosial memang menghadirkan banyak sekali kemudahan. Dengan adanya media sosial kita bisa berinteraksi dengan banyak orang, bahkan dengan orang di belahan dunia lain. Selain itu, media sosial juga memungkinkan penyebaran informasi yang sangat pesat, dan mampu mengasah kreativitas seseorang.

Gen z adalah generasi yang sangat familiar dengan penggunaan sosial media. Sangat jarang ditemukan gen z yang tidak aktif menggunakan sosial media. Bahkan penggunaan sosial media sudah menjadi bagian dari keseharian para gen z. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat mereka tumbuh besar di era perkembangan teknologi.

Sayangnya, sosial media tidak hanya memberikan banyak manfaat bagi gen z, namun juga memicu banyak masalah baru. Salah satunya adalah mampu memicu kondisi impostor syndrome pada gen z. Berikut beberapa kontribusi sosial media dalam pembentukan impostor syndrome pada gen z:

Perbandingan sosial yang tidak realistis

Jika kita perhatikan secara seksama, sosial media seringkali menyajikan perbandingan sosial yang tidak realistis. Hanya sebagian orang yang memposting usahanya untuk mencapai sesuatu, namun banyak yang hanya memposting pencapaiannya saja. Konten semacam itu bisa memberikan perbandingan yang tidak realistis, sehingga membuat sebagian orang merasa kurang kompeten atau tidak cukup baik.

Tekanan untuk selalu tampil sempurna

Di era gemparan sosial media ini, banyak gen z yang berlomba-lomba untuk mengejar kesempurnaan demi untuk mempertahankan citra diri di media sosial. Tekanan untuk selalu tampil sempurna ini bisa memicu kecemasan dan perasaan tidak otentik yang merupakan salah satu gejala impostor syndrome.

Ekspektasi yang tidak realistis

Sosial media yang sering kali menampilkan pencapaian dan kesuksesan orang lain tanpa diketahui usaha untuk mencapai kesuksesan tersebut, seringkali memicu ekspektasi yang tidak realistis untuk beberapa orang. Kondisi semacam itu bisa saja menimbulkan perasaan tidak cukup baik dan meragukan kemampuan diri sendiri yang merupakan bagian dari impostor syndrome.

Baca juga: Ketika Generasi Z Meragukan Diri Sendiri: Mengupas Imposter Syndrome dan Cara Mengatasinya

Dampak Impostor Syndrome Terhadap Kesehatan Mental

People using their mobile phones for the news

Walaupun impostor syndrome tidak masuk dalam kategori gangguan mental. Namun bukan berarti kondisi impostor syndrome bisa dibiarkan begitu saja. Pasalnya dalam banyak kasus, impostor syndrome yang dibiarkan begitu saja bisa memicu berbagai masalah kesehatan mental yang lebih serius, diantaranya:

Kecemasan dan stress

Selalu meragukan diri sendiri dan adanya rasa takut dianggap sebagai “penipu” karena pencapaian yang didapatkan bisa memicu stress dan kecemasan berlebih. Kondisi semacam itu membuat beberapa orang merasa tertekan untuk selalu tampil sempurna, dan takut akan kegagalan.

Depresi

Dalam banyak kasus, impostor syndrome juga bisa memicu depresi. Terutama jika kondisi tersebut dibiarkan dalam jangka panjang. Perasaan tidak pantas akan pencapaian yang didapatkan bisa menimbulkan perasaan putus ada dan tidak berharga. Dimana perasaan semacam itu sangat erat kaitannya dengan depresi.

Penurunan rasa percaya diri (self efficacy)

Dampak impostor syndrome lainnya adalah bisa memicu penurunan rasa percaya diri. Dimana kondisi impostor syndrome ini memang sering dikaitkan dengan rasa rendah diri. Pasalnya, seseorang dengan kondisi impostor syndrome memiliki kecenderungan untuk meremehkan kemampuan dan merasa tidak kompeten.

Itu dia penjelasan terkait peran media sosial dalam membentuk impostor syndrome, dan dampak impostor syndrome terhadap kesehatan mental. Jika kamu mengalami gejala impostor syndrome, cobalah kunjungi web deeptalk.co.id dan berkonsultasi dengan psikolog yang ada di sana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Imposter Syndrome di Kalangan Gen Z: Mengapa Kita Merasa Tidak Pernah Cukup?

 

Sumber:

Mengenal Imposter Syndrome dan 8 Tips Jika Kamu Merasakannya. (2023). Karir Lab. https://karirlab.co/article/success-in-work/mengenal-imposter-syndrome-dan-8-tips-jika-kamu-merasakannya?.com. Diakses pada 25 Maret 2025.

Goel, R. (2021). Gen Z’s Social Media Imposter Syndrome. WMC FBOMB. https://womensmediacenter.com/fbomb/gen-zs-social-media-imposter-syndrome?.com. Diakses pada 25 Maret 2025.

Mahasiswa Tel-U Teliti Impostor Syndrom yang Menghantui Masa Depan Generasi Z. (2023). Telkom University. https://telkomuniversity.ac.id/mahasiswa-tel-u-teliti-impostor-syndrom-yang-menghantui-masa-depan-generasi-z/?.com. Diakses pada 25 Maret 2025.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Tekanan Media Sosial dan Imposter Syndrome: Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Gen Z — DeepTalk