Semua artikel
Gangguan Kecemasan

Survivor Guilt : Perasaan Bersalah Saat Selamat Dari Bahaya

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Saat seseorang mengalami kecelakaan, menjadi korban kebaran, atau sejenisnya tentu akan menimbulkan rasa trauma yang mendalam. Kondisi tersebut bahkan bisa memicu gangguan mental yang kita kenal dengan istilah gangguan stress pasca trauma (PTSD). Namun pada artikel kali ini kita tidak akan membahas mengenai gangguan yang satu itu.

Saat selamat dari sebuah bahaya seperti yang dipaparkan di atas tentu ada rasa syukur tersendiri. Namun bagaimana jika kamu menjadi satu-satunya orang yang selamat? Kondisi tersebut tidak jarang membuat seseorang merasa bersalah karena menganggap diri tidak berguna. Tidak berguna dalam hal ini maksudnya karena tidak bisa menyelamatkan orang lain selain dirinya. Kondisi semacam itu dikenal dengan istilah survivor guilt.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai survivor guilt, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. Namun perlu diperhatikan bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa gejala serupa, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut kepada psikolog atau psikiater. Langkah tersebut akan membantu kamu untuk mendapatkan diagnosis, serta penanganan yang tepat.

Berikut pembahasan mengenai survivor guilt.

Pengertian Survivor Guilt

Pada dasarnya survivor guilt merupakan kondisi dimana seseorang menjadi satu-satunya orang yang selamat dari bencana atau musibah yang mematikan. Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa bersalah yang berlebihan.

Jika bisa memilih memang rasanya ingin sekali menyelamatkan semua orang dari musibah, atau jika bisa musibah tersebut tidak pernah ada. Namun sayangnya itu semua bukan kita yang atur. Menjadi satu-satunya orang yang selamat memang sangat disyukuri. Namun dilain sisi, hal ini cukup menyakitkan karena timbulnya trauma yang mendalam.

Seorang psikolog bernama Ikhsan Bella Persada, M. Psi., Psikolog, mengatakan bahwa penyebab utama dari survivor guilt adalah peristiwa traumatis di masa lampau. Selain itu, kurangnya support dari orang-orang terdekat juga sangat mempengaruhi kondisi tersebut.

Kondisi survivor guilt juga bisa lebih diperparah oleh kecemasan terhadap diri sendiri, dan rendahnya self esteem. Maka tidak heran jika seorang survivor guilt sering kali menyalahkan diri mereka perihal peristiwa mengerikan yang pada dasarnya berada di luar kendali mereka.

Baca juga : Ini Dia Penanganan dan Cara Terhindar Dari Kondisi Adjustment Disorder

Gejala Survivor Guilt

Umumnya penderita survivor guilt akan mengalami beberapa gejala yang serupa dengan gangguan stress pasca trauma (PTSD). Setiap penderita survivor guilt juga bisa saja mengalami gejala yang berbeda-beda, dengan tingkat keparahan gejala yang berbeda-beda pula. Untuk itu, agar bisa memastikan bahwa yang dialami adalah survivor guilt atau bukan, maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh psikolog atau psikiater.

Namun, sebagai bahan pertimbangan untuk memeriksakan diri kepada para ahli, kamu bisa mengidentifikasi dari beberapa gejala survivor guilt berikut:

·         Pikiran yang irasional, yaitu pikiran-pikiran yang tidak masuk akal. Misalnya pemikiran bahwa dirinya tidak layak untuk diselamatkan, dan lain sebagainya.

·         Sering mengalami mimpi buruk yang umumnya akan mengarah pada kejadian traumatis yang dialami.

·         Memiliki emosi yang tidak stabil dan sulit untuk dikendalikan. Misalnya menjadi pribadi yang mudah marah, mudah sedih, atau menjadi lebih sensitif. Hal ini termasuk perubahan suasana hati yang signifikan.

·         Mengalami beberapa gejala fisik, seperti mudah lelah, mati rasa, kesulitan bergerak, susah tidur, sakit kepala, mual, serta detak jantung yang tidak stabil.

·         Memiliki penilaian negatif terhadap dunia dan dirinya sendiri. Misalnya menganggap diri sebagai orang jahat, atau merasa dunia tidak adil bagi dirinya.

·         Merasa putus asa dan kehilangan motivasi untuk terus hidup.

·         Menyakiti diri sendiri, bahkan berpikiran untuk bunuh diri.

Cara Mengatasi Survivor Guilt

Jika kamu mengalami beberapa gejala di atas, dan merasa bahwa gejala tersebut dapat memperburuk kualitas hidupmu, maka kamu perlu untuk mendapatkan bantuan secara profesional. Kamu bisa berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan dengan psikolog atau psikiater. Dari pemeriksaan tersebut akan ditentukan diagnosis dan penanganan apa yang cocok untuk kasus yang kamu alami.

Jenis penanganan yang diberikan pada penderita survivor guilt bisa saja berbeda-beda tergantung dengan gejala dan tingkat keparahan gejalanya. Namun pada umumnya, penderita akan mendapatkan penanganan berupa psikoterapi, misalnya dengan cognitive behavioral therapy (CBT), art therapy, atau jenis psikoterapi lainnya. Jika memang dibutuhkan, penderita juga akan mendapatkan penanganan dengan obat-obatan. Namun perlu diketahui bahwa mengkonsumsi obat-obatan harus dalam pengawasan dokter atau psikiater. Selain itu, tidak menuntut kemungkinan penderita juga akan mendapatkan penanganan dengan keduanya, yaitu psikoterapi dan obat-obatan sekaligus.

Untuk membantu kelancaran dalam proses penanganan, kamu juga bisa melakukan penanganan secara mandiri. Misalnya dengan menyalurkan emosi-emosi negatif, melakukan kegiatan positif, dan yang tidak kalah penting adalah memaafkan diri sendiri.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai survivor guilt. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Mengenal Gejala Adjustment Disorder

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Survivor Guilt : Perasaan Bersalah Saat Selamat Dari Bahaya — DeepTalk