Deeptalk.co.id – Hubungan antara stres dan demensia telah menjadi subjek penelitian yang menarik dalam bidang psikologi dan ilmu kesehatan. Dalam kehidupan modern yang serba sibuk dan penuh tekanan, stres menjadi bagian yang tak terelakkan. Namun, baru-baru ini, penelitian telah menemukan adanya keterkaitan antara tingkat stres yang tinggi dan risiko terjadinya demensia.
Fenomena ini mengundang pertanyaan tentang bagaimana stres dapat mempengaruhi kesehatan otak jangka panjang dan apakah ada mekanisme tertentu di balik hubungan ini. Sehingga dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi lebih lanjut tentang hubungan antara stres dan demensia, serta faktor-faktor yang terlibat dalam proses ini.
Tentang Stres dan Demensia

Stres terjadi ketika tubuh harus merespons situasi yang dianggap membahayakan. Gejalanya meliputi jantung berdebar, berkeringat hingga otot yang tegang. Gejala tersebut biasanya akan menghilang begitu saja setelah dirasa bahaya sudah berlalu.
Namun, bagi beberapa orang mungkin menemukan bahwa perasaan tertekan itu terus berlanjut. Stres yang berkepanjangan atau kronis ini bisa menjadi sangat serius dan berdampak parah pada seseorang secara emosional, mental dan fisik.
Diketahui bahwa stres ini dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, yang diketahui berperan penting dalam perkembangan demensia. Saat stres, hormon utama yang dilepaskan ialah kortisol, dimana saat ini telah dikaitkan dengan masalah ingatan. Selain itu, stres yang berkaitan erat dengan kondisi seperti depresi atau kecemasan juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko demensia.
Meskipun demikian, masih perlu penelitian lebih lanjut lagi untuk menyelidiki stres tersebut. Pun kita semua mengetahui bahwa setiap orang mengalami stres dengan cara yang berbeda. Serta kemampuan dalam mengatasi stres juga sangat bervariasi dari orang ke orang. Sehingga ada kesulitan tersendiri untuk mengukur dengan tepat seberapa stres yang dialami seseorang.
Ada juga faktor lain yang mungkin berperan, yang sulit dipisahkan. Kecemasan, depresi, dan kurang tidur semuanya terkait dengan stres, tetapi juga dengan risiko demensia. Komplikasi ini berarti sangat sulit untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi tentang peran stres dalam risiko demensia.
Hingga saat ini peneliti masih terus melakukan riset untuk membuktikan hubungan dari stres terhadap demensia ini.
Baca juga: Gelisah Hal yang Normal, Berikut Penyebab Serta Dampaknya
Kaitan Stres dengan Demensia

Stres adalah sesuatu yang Anda kendalikan secara signifikan. Semakin banyak bukti yang terkait dengan demensia menunjukkan bahwa orang mungkin benar-benar dapat menurunkan risiko demensia dengan menurunkan stres. Namun, studi tentang peran stres dalam demensia masih relatif baru. Lebih banyak penelitian yang harus menguji korelasi nyata antara demensia dan stres, pun juga peneliti masih belum pasti memahami bagaimana stres dapat menyebabkan demensia.
Sejauh ini, peneliti masih menyimpulkan bahwa pada orang dengan gangguan kognitif ringan, stres kronis dapat meningkatkan risiko demensia. Hal tersebut didasarkan pada riset uji coba terhadap 62 manula dengan usia rata-rata 78 tahun. Sedangkan pada tikus, hormon stres tingkat tinggi terkait dengan tingkat protein prekursor tau dan amiloid yang lebih tinggi, dimana keduanya terkait dengan Alzheimer.
Pengalaman yang sangat menegangkan membuat penuaan otak menjadi lebih cepat. Dalam sebuah penelitian terhadap 1.320 orang, setiap pengalaman yang membuat stres, otak akan menua hingga empat tahun. Ini menunjukkan efek kumulatif untuk stres, dengan setiap peristiwa stres meningkatkan risiko demensia. Penulis penelitian berpendapat bahwa ini mungkin membantu menjelaskan mengapa kelompok seperti orang Afrika-Amerika, yang cenderung menghadapi tingkat stres yang lebih tinggi, juga memiliki tingkat demensia yang lebih tinggi.
Studi lain, yang mengikuti 800 wanita selama 38 tahun, menemukan bahwa tingkat stres yang tinggi pada usia paruh baya berkorelasi dengan risiko demensia yang lebih besar.
Sebuah analisis yang mengulas studi lain tentang stres dan demensia juga menemukan keterkaitannya. Para peneliti menemukan bahwa stres kronis merupakan faktor risiko yang signifikan untuk demensia. Karena penelitian ini melihat beberapa penelitian sebelumnya, temuannya sangat meyakinkan.
Lagi, sebuah penelitian terhadap 1.700 manula dengan usia rata-rata 77 tahun menemukan hubungan antara depresi, yang dapat menyebabkan dan disebabkan oleh stres, dengan demensia. Lansia yang tidak memiliki tanda-tanda demensia pada awal penelitian lebih mungkin mengembangkan demensia jika mereka mengalami depresi.
Sehingga secara keseluruhan, depresi menyumbang sekitar 4,4 persen dari perbedaan penurunan mental yang tidak dapat dikaitkan dengan kerusakan terkait demensia yang ditemukan di otak. Studi lain menemukan bahwa depresi yang terus memburuk dari waktu ke waktu meningkatkan risiko demensia pada orang di atas usia 55 tahun.
Baca juga: Bagaimana Luka Inner Child Mempengaruhi Kehidupan Dewasa
Sumber:
Can stress cause dementia? (2023). Alzheimer’s Society. https://www.alzheimers.org.uk/blog/can-stress-cause-dementia
Frankel, K. (2022, September 29). Can Stress Cause Dementia? Abor Company. https://www.arborcompany.com/blog/can-stress-cause-dementia
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



