Deeptalk.co.id – Ghosting sudah menjadi istilah yang cukup sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, perilaku yang satu ini memang cukup sering ditemui. Khususnya di era digital yang memudahkan para pelaku ghosting.
Ghosting adalah perilaku memutuskan komunikasi atau hubungan secara sepihak, dan tiba-tiba, tanpa adanya konfirmasi maupun penjelasan terlebih dahulu. Walaupun tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun nyatanya, dampak dari perilaku ghosting bukan hal yang bisa kita abaikan begitu saja.
Artikel kali ini akan secara khusus membahas tentang dampak ghosting bagi korban, dan bagaimana tips untuk kembali bangkit. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami ghosting dan berdampak pada kondisi mental mu. Coba untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Dampak Psikologis Setelah Mengalami Ghosting
Walaupun ghosting sudah menjadi hal yang cukup sering ditemui. Namun bukan berarti kita bisa menormalisasi perilaku tersebut. Pasalnya, dampak dari perilaku ghosting bisa memicu berbagai masalah mental. Berikut beberapa dampak psikologis setelah korban mengalami ghosting:
Penurunan harga diri
Bagi beberapa orang, perilaku ghosting sama dengan penolakan yang sangat kasar. Hal tersebut bisa memicu penurunan harga diri bagi korban. Korban menjadi merasa tidak dihargai, tidak cukup baik, atau ditolak secara pribadi. Kondisi semacam ini bisa menurunkan harga diri korban.
Kebingungan dan disonansi kognitif
Pengalaman ghosting yang dialami oleh korban bisa menimbulkan kebingungan dan disonansi kognitif. Pasalnya, korban ditinggalkan tanpa alasan dan penjelasan terlebih dahulu. Pada akhirnya, beberapa korban mulai mempertanyakan realitas hubungan yang sudah terjadi.
Kecemasan dan overthinking
Mungkin beberapa orang menganggap perilaku ghosting itu adalah hal yang biasa, dan bisa dilupakan begitu saja. Namun, beberapa orang lainnya bisa mengalami overthinking dan kecemasan akibat mengalami ghosting. Mereka mulai memikirkan apakah pernah melakukan kesalahan, atau menerka-nerka alasan pelaku meninggalkannya.
Sulit mempercayai orang lain
Ghosting bagi beberapa orang bisa menjadi trauma psikologis yang cukup dalam. Dampaknya di kemudian hari bisa membuat korban sulit untuk mempercayai orang lain. Mereka jadi ragu membuka diri, atau membangun hubungan baru.
Gejala depresi
Ditinggalkan begitu saja bisa menimbulkan gejala depresi. Misalnya pada kondisi ditinggalkan, disalahkan, kesepian, maupun disalahkan bisa memicu berbagai gejala depresi seperti kesedihan mendalam, perubahan nafsu makan, dan juga kelelahan secara emosional. Walaupun masih dalam tahap gejala, namun juga tidak ditangani dengan tepat kondisi tersebut bisa benar-benar memasuki fase depresi.
Baca juga: Ghosting dalam Hubungan Romantis: Pemicu dan Tips Menghadapi Ghoster
Tips Bangkit Setelah Mengalami Ghosting
Bangkit kembali setelah mengalami ghosting mungkin akan menjadi perjalanan yang sangat berat bagi sebagian orang. Terutama untuk mereka yang sudah memiliki ikatan emosional dengan pelaku ghosting. Namun perlu diingat bahwa hidup masih harus berlanjut. Maka dari itu, kamu bisa melakukan beberapa tips berikut untuk kembali bangkit setelah mengalami ghosting:
Memvalidasi perasaan
Perasaan sedih, kecewa, maupun terpuruk setelah ditinggal orang yang kita sayangi adalah hal yang normal. Kamu tidak perlu menekan maupun mengabaikan perasaan tersebut. Biarkan dirimu pulih secara perlahan dan senatural mungkin.
Tidak perlu menyalahkan diri sendiri
Ditinggalkan tanpa penjelasan mungkin akan membuat kamu bertanya-tanya tentang alasan mengapa pelaku bertindak seperti itu. Beberapa dari alasan yang ada di kepalamu mungkin menyalahkan diri sendiri. Jika seperti itu, maka kamu perlu berhenti untuk menyalahkan diri sendiri. Pasalnya, pilihan untuk melakukan ghosting ada di tangan pelaku, dan itu diluar kendali kamu.
Temukan support system yang tepat
Langkah terbaik untuk pulih dalam kondisi terpuruk apapun adalah memiliki support system yang tepat. Pastikan kamu memiliki teman bercerita untuk mencurahkan segala yang kamu rasakan. Merekalah yang nantinya akan memberi dukungan, dan membantu kamu untuk kembali pulih.
Lakukan hal-hal yang menyenangkan
Melalui hari-hari setelah menjadi korban ghosting memang tidaklah mudah. Namun, kamu bisa mulai bangkit dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Misalnya dengan bernyanyi, membaca buku, bermain musik, berolahraga, dan masih banyak lagi. Kegiatan menyenangkan ini akan meningkatkan mood dan membuat kamu lebih bahagia.
Dapatkan bantuan profesional
Jika kamu sudah melakukan banyak hal, namun belum memberikan dampak yang kamu harapkan. Cobalah untuk mempertimbangkan mendapatkan bantuan dari profesional. Jangan sampai dari yang tadinya menjadi korban ghosting, mengarah pada kondisi psikologis yang lebih serius. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana.
Itu dia penjelasan singkat mengenai dampak ghosting dan tips bangkit setelah mengalami ghosting. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Ghosting dalam Hubungan Romantis: Sebuah Fenomena Modern yang Menyakitkan
Sumber:
Greenberg, L. S. (2002). Emotion-Focused Therapy: Coaching Clients to Work Through Their Feelings. APA.
Neff, K. D. (2003). Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
Pennebaker, J. W. (1997). Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. Guilford Press.
Park, C. L. (2010). Making Sense of the Meaning Literature: An Integrative Review of Meaning Making and Its Effects on Adjustment to Stressful Life Events. Psychological Bulletin, 136(2), 257–301.
Rosenberg, M. (1965). Society and the Adolescent Self-Image. Princeton University Press.
American Psychological Association. (2020). Recognizing and Coping with Rejection. https://www.apa.org/news/press/releases/stress/2020/rejection
Leary, M. R., Tambor, E. S., Terdal, S. K., & Downs, D. L. (1995). Self-esteem as an interpersonal monitor: The sociometer hypothesis. Journal of Personality and Social Psychology, 68(3), 518–530.
Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
Rapee, R. M., & Heimberg, R. G. (1997). A cognitive-behavioral model of anxiety in social phobia. Behaviour Research and Therapy, 35(8), 741–756.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in Adulthood: Structure, Dynamics, and Change. Guilford Press.
Beck, A. T. (1967). Depression: Clinical, Experimental, and Theoretical Aspects. Harper & Row.
Weiss, R. S. (1973). Loneliness: The Experience of Emotional and Social Isolation. MIT Press
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



